PEMBELAJARAN PROBLEM BASSED LEARNING (PBL) METODE TUTOR
SEBAYA (PEER TUTORING ) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PEMROGRAMAN
MIKROPROSESOR DAN MIKROKONTROLER BAGI SISWA KELAS XI TAV 1 SMK NEGERI 2 KEBUMEN
SEMESTER 1 TAHUN 2019/2020
I.
ABSTRAK
Akhmad Arifin
SMK Negeri 2
Kebumen
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada
mata pelajaran PMM (Pemrograman Mikroprosesor dan Mikrokontroler) Paket
Keahlian Teknik Elektronika Audio Video SMK Negeri 2 Kebumen. Penelitian dilaksanakan
dengan dua siklus. Tiap siklus terdiri atas kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan
refleksi. Tiap siklus terdiri
atas dua kali pertemuan dan setiap pertemuan berlangsung 2 × 45 menit. Data
dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yang diperoleh melalui hasil penilaian
tiap siklus. Hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Problem Bassed Learning (PBL)
Metode Tutor Sebaya (peer tutoring) mampu meningkatkan hasil
belajar siswa. Pada setiap siklus penelitian terdapat kenaikan rata-rata hasil
belajar siswa yaitu pada kondisi awal rata-rata hanya 78, sedangkan pada siklus
I naik menjadi 79 dan menjadi 81 pada akhir siklus II.
Kata kunci : Problem Based Learning (PBL), Tutor Sebaya,
Hasil belajar
II.
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan berdasarkan
kenyataan hasil (nilai) untuk
kompetensi Mata Pelajaran PMM peserta didik yang masih kurang memuaskan atau
masih banyak yang kurang dari nilai KKM. Peneliti merasa bahwa untuk nilai
Kompetensi masih banyak yang mendapat nilai kurang dari atau sama dengan 75
pada materi sebelumnya. Jumlah siswa
yang masih mendapat nilai tersebut
adalah 13 siswa sedangkan rata-rata nilai hanya 78 hal ini membuat
peneliti merasa masih sangat perlu ditingkatkan.
PMM merupakan
salah satu mata pelajaran Produktif pada Paket Keahlian TAV dalam pembelajaran PMM
bagi Peserta didik SMK kelas XI yang telah ditentukan kriteria ketuntasan
minimalnya (KKM) sebesar 75, sehingga pencapaian kriteria tersebut menjadi
tolok ukur keberhasilan belajar peserta didik. Bagi Peserta didik yang
memperoleh nilai prestasi belajar di bawah KKM termasuk kategori rendah dan
status belum tuntas. Sedangkan Peserta didik yang memperoleh nilai sama dengan
KKM atau lebih, maka status belajar tuntas.
Pembelajaran PMM memberikan suatu tantangan yang besar
bagi Peserta didik dan pengajarnya, karena adanya sejumlah materi yang terdiri
dari konsep-konsep yang abstrak, aspek pengetahuan dan aspek keterampilan yang
harus dipahami secara tuntas oleh peserta didik dalam waktu tertentu. Oleh karena
itu upaya menguasai kompetensi pada tingkat yang memuaskan dengan memperhatikan
karakteristik konten kompetensi dimana pengetahuan adalah konten yang bersifat
tuntas (mastery). Sedangkan ketrampilan
adalah kemampuan penguasaan konten yang dapat dilatihkan dengan banyak
melibatkan aktivitas praktik.
Peserta didik
dinyatakan tuntas apabila pencapaian prestasi belajar minimal 75% dari
indikator-indikator masing-masing kompetensi dasar dengan rata-tara nilai 75.
Namun kenyataan, pencapaian indikator kompetensi pada kompetensi Memahami Pemrograman dengan mikrokontroller setelah
dilaksanakan ulangan harian kelas XI
TAV 1 masih ada yang belum memahami materi pembelajaran tentang Memahami Pemrograman dengan mikrokontroller yang telah pelajari, terbukti dari 36 Peserta
didik terdapat 23 (64%) Peserta
didik tuntas dan 13 (36%) Peserta didik belum tuntas sedangkan rerata nila kelas
hanya 78.
Rendahnya pencapaian prestasi belajar Peserta didik
tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal.
Faktor internal merupakan faktor yang ada di dalam diri Peserta didik , seperti
kecerdasan, minat, dan motivasi belajar. Sedangkan faktor eksternal merupakan
faktor yang berasal dari luar diri Peserta didik , seperti sarana dan prasarana
belajar, proses pembelajaran, guru, teman sebaya, dan kondisi lingkugan.
Motivasi dan keterlibatan dalam aktivitas belajar mempunyai pengaruh yang besar
terhadap pncapaian prestasi belajar Peserta didik . Muhibbin (2008: 138) .
Model pembelajaran yang diyakini mampu meningkatkan hasil
belajar Peserta didik pada aktivitas
belajar PMM dalam kompetensi Memahami Pemrograman dengan mikrokontroller yaitu model Problem Based Learning (PBL).
Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model
pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap
metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan
dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan
masalah (Kamdi, 2007:77) PBL atau pembelajaran berbasis masalah sebagai suatu
pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu
konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan
pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial
dari materi pelajaran.
PBL memiliki karakteristik sebagai berikut: (1)
belajar dimulai dengan satu masalah, (2) memastikan bahwa masalah tersebut
berhubungan dengan dunia nyata siswa, (3) mengorganisasikan pelajaran seputar
masalah, bukan seputar disiplin ilmu, (4) memberikan tanggung jawab yang besar
kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar
mereka sendiri, (5) menggunakan kelompok kecil, dan (6) menuntut siswa untuk
mendemonstrasi-kan yang telah mereka pelajari dalam bentuk produk atau kinerja.
Berdasarkan uraian di atas, tampak jelas bahwa pembelajaran dengan model PBL
dimulai oleh adanya masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh siswa
ataupun guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka
telah ketahui dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memcahkan masalah
tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan
sehingga mereka terdorong berperan aktif dalam belajar.
Masalah yang dijadikan sebagai fokus pembelajaran
dapat diselesaikan siswa melalui kerja kelompok sehingga dapat memberi
pengalaman-pengalaman belajar yang beragam pada siswa seperti kerjasama dan
interaksi dalam kelompok, di samping pengalaman belajar yang berhubungan dengan
pemecahan masalah seperti membuat hipotesis, merancang percobaan, melakukan
penyelidikan, mengumpulkan data, menginterpretasikan data, membuat kesimpulan,
mempresentasikan, berdiskusi, dan membuat laporan. Keadaan tersebut menunjukkan
bahwa model PBL dapat memberikan pengalaman yang kaya pada siswa. Dengan kata
lain, penggunaan PBL dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yang mereka
pelajari sehingga diharapkan mereka dapat menerapkannya dalam kondisi nyata pada
kehidupan sehari-hari. PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada
kerangka kerja teoritik konstruktivisme. Dalam model PBL, fokus pembelajaran
ada pada masalah yang dipilih sehingga siswa tidak saja mempelajari
konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk
memecahkan masalah tersebut. Oleh sebab itu, siswa tidak saja harus memahami
konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatian tetapi juga
memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan ketrampilan menerapkan
metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir kritis.
Menurut
Jaedun (2009) kelebihan Tutor Sebaya dalam pendidikan yaitu dalam penerapan
Tutor Sebaya, anak-anak diajar untuk mandiri,
dewasa dan punya rasa setia kawan yang tinggi. Artinya dalam penerapan tutor
sebaya itu, anak yang dianggap pintar bisa mengajari atau menjadi tutor
temannya yang kurang pandai atau ketinggalan. Disini peran guru hanya sebagai
fasilitator atau pembimbing saja.
Menurut Djamarah dan Zain (2013:26-27) metode Tutor
Sebaya mempunyai beberapa manfaat, diantaranya yaitu (1) ada kalanya hasilnya
lebih baik bagi beberapa anak yang mempunyai perasaan takut atau enggan kepada
guru, (2) bagi tutor, pekerjaan tutoring akan mempunyai akibat memperkuat
konsep yang sedang dibahas.
Memberitahukan kepada anak lain, maka seolah-olah ia menelaah serta
menghapalkannya kembali, (3) bagi tutor merupakan kesempatan untuk melatih diri
memegang tanggung jawab dalam mengemban suatu tugas dan melatkesabaran, (4) mempererat hubungan antara sesama siswa sehingga
mempertebal perasaan sosial.
Menurut Sudjana (2005: 38), menjelaskan keunggulan
metode Tutor Sebaya adalah sebagai berikut : (1) peserta didik akan dapat
merasakan bahwa pembelajaran menjadi miliknya sendiri karena peserta didik
diberi kesempatan yang luas untuk berpartisipasi, (2) peserta didik memiliki
motivasi yang kuat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran, (3) tumbuhnya suasana
demokratis dalam pembelajaran sehingga akan terjadi dialog dan diskusi untuk
saling belajar-membelajarkan diantara peserta didik (4) dapat menambah wawasan
pikiran dan pengetahuan bagi peserta didik karena sesuatu yang dialami dan
disampaikan peserta didik mungkin belum diketahui sebelumnya oleh pendidik.
Kurikulum 2013 Edisi Revisi menuntut siswa untuk
berperan aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran perlu dilakukan dengan sedikit
ceramah dan metode-metode yang menekankan interaksi antar peserta didik.
Penggunaan metode yang bervariasi akan sangat membantu peserta didik dalam mencapai
tujuan pembelajaran. Berdasarkan permasalahan-permasalah yang telah diuraikan
di atas yaitu diantaranya terdapat beberapa siswa yang saling membantu ketika menemukan kesulitan, dan beberapa siswa lebih memilih untuk
bertanya kepada teman sebaya ketika ada materi yang belum dipahami dibandingkan
bertanya kepada guru, dan materi pembelajaran yang disampaikan lebih banyak
praktikum dari pada teori, maka salah satu alternatif cara yang dapat digunakan
sebagai usaha meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa adalah dengan
menerapkan metode pembelajaran Tutor Sebaya. Metode Tutor Sebaya ialah metode
belajar yang memanfaatkan teman sebagai tutor dalam proses belajar mengajar.
Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan disetiap kelompoknya terdapat tutor
sebaya.
B. Rumusan
Masalah
Dari latar belakang tersebut di atas, dalam penelitian
ini terdapat masalah yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1.
Apakah menggunakan Pembelajaran Problem Bassed Learning (PBL) Tutor Sebaya (peer tutoring
) dapat meningkatkan hasil belajar Pemrograman Mikroprosesor dan Mikrokontroler siswa kelas XI TAV 1 SMK Negeri 2 Kebumen semester 1 Tahun
Pelajaran 2019/2020?.
C.
Tujuan
Penelitian
Tujuan penelitian ini
adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PMM (Pemrograman Mikroprosesor dan
Mikrokontroler pada kelas XI TAV 1
SMK Negeri 2 Kebumen semester 1 tahun 2019/2020.
III.
KAJIAN TEORI
A. Kajian Teori
Landasan teori pada penelitian ini membahas teori dari,
(1)KKM, (2) belajar, (3) hasil belajar belajar, (4) pembelajaran problem bassed
learning (PBL), (5) metode tutor sebaya (peer
tutoring), (6) PMM.
1.
KKM
Kriteria paling rendah untuk menyatakan siswa mencapai kentuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). KKM harus ditetapkan di awal tahun ajaran dimulai,
melalui musyawarah dewan guru
pada satu sekolah.
2.
Belajar
Menurut Slameto (2010) : Belajar
pada hakikatnya adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan.
. Perubahan tingkah
laku yang termasuk dalam pengertian belajar adalah: 1) Perubahan terjadi secara
sadar, 2) Perubahan dalam belajar bersifat kontinyu dan fungsional, 3)
Perubahan dalam belajar positif dan aktif, 4) Perubahan yang terjadi dalam
belajar bukan bersifat sementara, 5) Perubahan dalam belajar bertujuan dan
terarah, 6) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Selanjutnya menurut
Winkel (2004) dalam (Sayin 2010:12) belajar merupakan suatu motivasi
mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan, yang
menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, ketrampilan dan
nilai-nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara konstan dan berbekas.
Perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang terjadi karena latihan dan
pengalaman (Mustaqim 2001:34). Tahapan perubahan tingkah lakudapat kita pakai
sebagai padanan proses belajar yang diartikan sebagai tahapan perubahan tingkah
laku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi pada diri siswa, perubahan
tersebut bersifat positif (Muhibbin, 2008:113).
Dari beberapa
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah usaha yang dilakukan
untuk memperoleh perubahan positif secara sadar yang berlangsung dalam interaksi
dengan lingkungannya yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
Sejumlah perubahan yang terjadi dapat ditunjukkan dalam bentuk
pengetahuan-pemahaman, ketrampilan dan nilai-nilai sikap.
3.
Hasil belajar
Menurut
Hamalik hasil belajar adalah sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada
diri seseorang yang dapat diamati dan diukur bentuk pengetahuan, sikap dan
keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan sebagai terjadinya peningkatan
dan pengembangan yang lebih baik dari sebelumnya dan yang tidak tahu menjadi
tahu. Hasil belajar dapat diartikan sebagai hasil maksimum yang telah dicapai
oleh seseorang siswa setelah mengalami proses belajar mengajar dalam
mempelajari materi pelajaran tertentu. Hasil belajar tidak mutlak berupa nilai
saja, akan tetapi dapat berupa perubahan, penalaran, kedisiplinan, keterampilan
dan lain sebagainya yang menuju pada perubahan positif. Pengertian hasil
belajar merupakan proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui kegiatan
penilaian atau pengukuran hasil belajar. Berdasarkan pengertian di atas hasil
belajar dapat menerangai tujuan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat
keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan
pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan
skala nilai berupa huruf atau kata atau symbol. Hasil belajar menunjukkan
kemampuan siswa yang sebenarnya yang telah mengalami proses pengalihan ilmu
pengetahuan dari seseorang yang dapat dikatakan dewasa atau memiliki
pengetahuan kurang. Jadi dengan adanya hasil belajar, orang dapat mengetahui
seberapa jauh siswa dapat menangkap, memahami, memiliki materi pelajaran
tertentu. Atas dasar itu pendidik dapat menentukan strategi belajar mengajar
yang lebih baik.
4. Pembelajaran Problem Bassed Learning (PBL)
Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model
pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap
metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan
dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan
masalah (Kamdi, 2007: 77). PBL atau pembelajaran berbasis masalah sebagai suatu
pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu
konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan
pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial
dari materi pelajaran.
PBL memiliki karakteristik sebagai berikut: (1)
belajar dimulai dengan satu masalah, (2) memastikan bahwa masalah tersebut
berhubungan dengan dunia nyata siswa, (3) mengorganisasikan pelajaran seputar
masalah, bukan seputar disiplin ilmu, (4) memberikan tanggung jawab yang besar
kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar
mereka sendiri, (5) menggunakan kelompok kecil, dan (6) menuntut siswa untuk
mendemonstrasi-kan yang telah mereka pelajari dalam bentuk produk atau kinerja.
Berdasarkan uraian di atas, tampak jelas bahwa pembelajaran dengan model PBL
dimulai oleh adanya masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh siswa
ataupun guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka
telah ketahui dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memcahkan masalah
tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan
sehingga mereka terdorong berperan aktif dalam belajar.
5.
Metode Peer tutoring
Endang Mulyatiningsih (2011:249), mengemukakan” istilah
peer tutoring mengandung makna yang sama dengan tutor teman sejawat atau peer teaching”. Menurut Boud, Cohen
andSamson’s seperti yang dijelaskan Endang Mulyatiningsih (2011:249),
menjelaskan bahwa apabila peer teaching menjadi
bagian dari proses pembelajaran di sekolah, peserta didik yang menjadi guru
dapat menunjukkan berbagai macam peran seperti: pure teacher, mediator, work partner, coaches, atau role model.
Menurut Jarvis pengertian peer teaching seperti yang dijelaskan Endang Mulyatiningsih (2011:250),
mengatakan bahwa peer teaching
merupakan kegiatan belajar yang terpusat pada peserta didik sebab anggota
komunitas merencanakan dan memfasilitasi kesempatan belajar untuk dirinya
sendiri dan orang lain sehingga diharapkan dapat terjadi timbal balik antara
teman sebaya yang akan bertugas merencanakan dan memfasilitasi kegiatan belajar
dari perencanaan dan fasilitas anggota keompok lainnya.
Dari uraian diatas dapat dijelaskan bahwa peer teaching adalah pendekatan
pembelajaran yang menuntut peserta didik mampu berperan sebagai guru sejawat,
mediator, partner kerja maupun model sehingga merencanakan dan
memfasilitasikesempatan belajar untuk dirinya sendiri dan orang lain.
Endang Mulyatiningsih (2011:250) menjelaskan
langkah-langkah pembelajaran peer tutoring
sebagai berikut:
a.
Guru menyusun kelompok belajar, setiap kelompok
beranggota 3-4 orang yang memiliki kemampuan seragam. Setipa kelompok minimal
memiliki satu orang peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi untuk menjadi
tutor teman sejawat.
b.
Guru menjelaskan cara penyelesain tugas melalui
belajar kelompok dengan metode peer
tutoring, wewenang dan tanggung jawab masing masing kelompok dan memberi
penjelasan tentang mekanisme penilaian tugas melalui peer assessment dan self
assessment.
c.
Guru menjelaskan materi kepada semua peserta
didik dan memberi peluang tanya jawab apabila terdapat materi yang belum jelas.
d.
Guru memberi tugas kelompok, dengan catatan
peserta didik yang kesulitan dalam mengerjakan tugas dapat meminta bimbingan
kepada teman yang ditunjuk sebagai tutor/guru.
e.
Guru mengamati aktivitas belajar dan memberi
penilaian kompetensi.
f.
Guru, tutor dan peserta didik memberikan
evaluasi proses belajar mengajar untuk menetapkan tindak lanjut kegiatan
putaran berikutnya.
6.
Pemrograman Mikroprosesor dan Mikrokontroler
Materi
pembelajaran yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah Membuat
Program Sederhana pada Mikrokontroler. Mikrokontroler merupakan keseluruhan
sistem komputer yang dikemas dalam sebuah
chip didalamnya terkandung mikroprosesor,
I/O pendukung, memori, ADC yang
mempunyai satu atau lebih tugas yang spesifik.
Mikrokontroler disebut sebagai ”one
chip solution” karena terdiri dari : (1) CPU, (2) RAM, (3) EPROM/PROM/ROM, (4) I/O (Input /Output)
serial dan parallel,
(5) timer, (6) Interupt Controller. Mikrokontroller AVR (Alf and Vegard’s
Risc processor ) memiliki arsitektur 8 bit, dimana semua instruksi dikemas dalam kode
16-bit (16-bits word ) dan sebagian besar instruksi
dieksekusi dalam 1 (satu) siklus clock atau
dikenal dengan teknologi RISC (Reduced Instruction Set Computing), berbeda
dengan instruksi MCS51 yang membutuhkan 12 siklus clock atau dikenal
dengan teknologi CISC (Complex Instruction Set
Computing ). Secara umum, AVR dapat
dikelompokan ke dalam 4 kelas, yaitu keluarga
AT90Sxx, keluarga ATMega dan AT86RFxx. Dari segi arsitektur dan perintah yang digunakan adalah sama, yang
membedakannya adalah kelas memori, perypheral
dan fungsinya.
B.
Kerangka
Pikir
Guru belum menggunakan
metode peer tutoring untuk pembelajaran Pemrograman Mikroprosesor dan
Mikrokontroler di kelas Hasl belajar meningkat Hasil belajar masih rendah Guru
menggunakan metode peer tutoring untuk pembelajaran Pemrograman
Mikroprosesor dan Mikrokontroler Guru
menggunakan metode peer tutoring pembelajaran Pemrograman Mikroprosesor dan Mikrokontroler di kelas Hasil belajar meningkat Pra penelitian pasca penelitian Tindakan Diduga
bahwa dengan melaksanakan metode peer tutoring hasil belajar akan
meningkat
Gambar Skema
Kerangka Berpikir
C.
Hipotesis
Tindakan
Dari
kajian teori dan kerangka
berfikir tersebut di atas diajukan hipotesis tindakan Melalui pembelajaran
PBL dengan metode peer tutoring dapat meningkatkan
hasil belajar Pemrograman Mikroprosesor dan Mikrokontroler bagi siswa kelas XI TAV 1 SMK Negeri 2 Kebumen Semester gasal Tahun Pelajaran 2019/2020.
IV.
METODOLOGI PENELITIAN
A. Seting Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom
Action Research) yaitu salah satu jenis penelitian tindakan yang dilakukan guru
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya. Guru diberdayakan dari
sudut pengembangan profesionalitas sedangkan siswa mendapatkan manfaat dari
upaya guru karena mendapatkan pelayanan yang lebih baik karena dampak dari
meningkatnya kualitas pembelajarannya. Peneliti tidak melakukan penelitian
sendiri, namun berkolaborasi atau bekerjasama dengan guru lain di tingkat XI TAV
SMK Negeri 2 Kebumen.
1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dialokasikan selama 2 (dua)
bulan yang dimulai pada bulan September hingga Oktober 2019. Dipilihnya waktu
untuk semua kegiatan tersebut di atas karena masing-masing berkaitan dengan
waktu kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Jadwal pelaksanaan penelitian
selengkapnya adalah seperti dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Alokasi waktu
penelitian
|
No. |
JENIS KEGIATAN |
TAHUN 2019 |
|||||
|
Juli |
Agst |
Sep |
Okt |
Nov |
Des |
||
|
1. |
Penyusunan proposal |
|
|
|
|
|
|
|
2. |
Bimbingan dan revisi proposal |
|
|
|
|
|
|
|
3. |
Penyusunan instrumen penelitian |
|
|
|
|
|
|
|
4. |
Pengumpulan data penelitian Kondisi Awal |
|
|
|
|
|
|
|
5. |
Pengumpulan data penelitian Siklus I |
|
|
|
|
|
|
|
7. |
Pengumpulan data penelitian Siklus II |
|
|
|
|
|
|
|
8. |
Analisis data |
|
|
|
|
|
|
|
9. |
Pembahasan/Diskusi |
|
|
|
|
|
|
|
10. |
Penyusunan laporan |
|
|
|
|
|
|
B. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
1. Teknik pengumpulan data pada penelitian
ini menggunakan teknik tes maupun non
tes.
a. Tes: (Penugasan dan demonstrasi).
Tes
Penugasan dan demonstrasi untuk mengukur tingkat kecakapan/ ketrampilan melakukan kerja dan efektivitas pelaksanaan
program pembelajaran.
b.
Non tes: (pengamatan dan catatan lapangan)
Pedoman pengamatan digunakan untuk mencatat hal-hal
yang terjadi pada saat dilakukan tindakan. Catatan lapangan digunakan untuk
mencatat hal-hal yang terjadi saat dilakukan tindakan.
2. Instrumen
Penelitian
Instrumen penelitian
yang digunakan adalah :
a.
lembar tes/lembar tugas
b.
lembar catatan lapangan/buku jurnal
c.
Hasil Ulangan
C. Analisis Data
Analisis
data dilakukan setelah setiap satu paket (siklus) pembelajaran dilaksanakan
secara keseluruhan, untuk menghasilkan informasi yang dapat menjawab masalah
dan menguji hipotesis tindakan yang telah dirancang. Analisis data dilakukan diskriptif
komparatif melalui langkah langkah sebagai berikut:
1.
Merekap nilai
2.
Prosentasi ketuntasan
3.
Deskriptif komparatif hasil
D. Desain
Penelitian
Penelitian
ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan dua siklus. Pada setiap
siklus terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan
tindakan, pengamatan dan refleksi.
V.
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan pengkajian data yang dilakukan tindakan pada proses pembelajaran, kondisi awal, siklus 1, dan siklus
2, secara bertahap hasil belajar mengalami peningkatan sebagai berikut:
1.
Rerata nilai prestasi pada siklus 2 meningkat dari
kondisi awal sebesar 78, pada siklus 1 menjadi 79 dan 81 pada siklus 2.
2.
Jumlah peserta didik tuntas belajar meningkat, pada
kondisi awal 64% pada kondisi awal menjadi 86% pada siklus 1 dan 97% pada siklus 2. Sehingga indikator kinerja
penelitian yaitu hasil belajar peserta
didik dalam proses pembelajaran mengalami peningkatan 33% dari kondisi awal
sampai dengan kondisi Akhir siklus 2, dan 97 % peserta didik mencampai nilai
batas tuntas minimal 75 (KKM) yang ditentukan sudah tercapai pada siklus 2.
VI.
PENUTUP
A. Simpulan
1.
Model pembelajaran PBL
peer teaching dilaksanakan untuk
meningkatkan prestasi belajar PMM pada materi Memahami Pemrograman dengan
mikrokontroller, dilihat dari perbandingan nilai hasil ulangan setiap siklus
mengalami peningkatan yang signifikan. Terbukti secara empiris terjadi
peningkatan rerata prestasi belajar dari kondisi awal sebesar 78 menjadi 81
pada siklus 2 dan jumlah peserta didik
tuntas belajar meningkat dari kondisi awal sebesar 64% menjadi 97% pada siklus 2.
B. Saran
1.
Untuk Guru Penerapam model pembelajaran PBL peer
teaching untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik sebaiknya digunakan sebagai
salah satu strategi penerapan model pembelajaran di dalam kelas.
2.
Untuk peserta didik sebaiknya menggunakan model PBL peer teaching lebih bervariasi dengan
berbagai metode untuk mendapatkan banyak pengalaman yang akan mempermudah memahami
dan menguasai tentang Memahami Pemrograman dengan
mikrokontroller.
3.
Untuk penelitian lebih lanjut, pelaksanaan model ini
masih bisa ditingkatkan untuk pembelajaran PMM pada kompetensi lain dengan
penyempurnaan model dan penggabungan dengan metode sesuai kondisi lingkungan
belajar.
I
DAFTAR
PUSTAKA
Endang Mulyatiningsih. 2011. Metode Penelitian Terapan Bidang Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Arikunto,
Suharsini. 2004. Prosedur Penelitian
Edisi Revisi. Jakarta : Rineka Cipta
Mulyadi HP.
2008. Prosedur/Metodologi Penelitian. Semarang: Lembaga Penjamin
Mutu Pendidikan
Jawa Tengah
Mustaqim. 2001. Psikologi Pendidikan. Pustaka Pelajar
Nana Sudjana, 2005. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Prayitno. 2010. Peningkatan
Kompetensi Dan Kreativitas Membuat Gambar Kerja Konstruksi Gedung Melalui
Pemanfaatan Software Pemodelan 3D
Bagi Siswa Kelas X.1 TKBB SMKN 2 Kebumen Semester 2 Tahun 2009/2010.
Sayin Supriadi
Muradi. 2009. Upaya Meningkatkan Motivasi Dan
Hasil Belajar Servis Engine Melalui Penggunaan
Media Pembelajaran Laptop dan LCD Proyektor Bagi Kelas XII TMO1 SMK
Negeri 2 Kebumen Tahun 2009/2010. Solo: Adi Cendikia. Jurnal Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Sulipan. 2009. Metodologi Penelitian Tindakan Kelas dan
Penelitian Eksperimen. Bandung: P4TK
Sri waluyanti, 2017, Sumber Belajar Penunjang PLPG
2017 Mata Pelajaran/Paket Keahlian
Teknik Audio Video, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat
Jenderal Guru Dan Tenaga Kependidikan
Suwandi dan Basrowi
2008. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas, Bogor: Ghalia Indonesia
Warsita,
Bambang, 2008. Teknologi Pembelajaran, Landasan dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta.
VII.
BIODATA
1. Nama
Lengkap : Akhmad Arifin, S.Pd
2. NIP. : 198111302006041005
3. .
Pangkat/Gol : Penata,
gol III/c
4. Tempat/Tgl.Lahir : Kebumen, 30 November 1981
5. Pendidikan
Tearkhir : S1 / Pendidikan Teknik
Elektro
6. Alamat : Desa Mengkowo kec. Kebumen
7. Tempat
Tugas : SMK Negeri 2 Kebumen
Jl.
Jokosangkrip Km 1, Kebumen, Kode Pos 54315 Telp.(0287) 381801
8. Bidang
Tugas : Guru Produktif Teknik Audio Video
Komentar
Posting Komentar