MAKALAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

“ PEMBELAJARAN PROBLEM BASSED LEARNING (PBL) METODE TUTOR SEBAYA (PEER TUTORING ) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENERAPAN RANGKAIAN ELEKTRONIKA BAGI SISWA KELAS XI TAV 1 SMK NEGERI 2 KEBUMEN SEMESTER 1 TAHUN 2015/2016”

 

Akhmad Arifin, S.Pd.

 

 

 

ABSTRAK

 

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PRE (Penerapan Rangkaian Elektronika) Paket Keahlian Teknik Elektronika Audio Video SMK Negeri 2 Kebumen. Penelitian dilaksanakan dengan dua siklus.  Tiap siklus terdiri atas kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Tiap siklus terdiri atas tiga kali pertemuan dan setiap pertemuan berlangsung 4 × 45 menit. Data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yang diperoleh melalui hasil penilaian tiap siklus. Hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Problem Bassed Learning (PBL) Metode Tutor Sebaya (peer tutoring) mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Pada setiap siklus penelitian terdapat kenaikan rata-rata hasil belajar siswa yaitu pada kondisi awal rata-rata hanya 83 sedangkan pada siklus I naik menjadi 84 dan menjadi 86 pada akhir siklus II.

 

 

Kata kunci :    Problem Based Learning (PBL), Tutor Sebaya, Hasil belajar Penerapan Rangkaian Elektronika.

 

 

 

 

 

I.          PENDAHULUAN

            Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan berdasarkan kenyataan hasil (nilai) untuk kompetensi Mata Pelajaran PRE peserta didik yang masih kurang memuaskan atau masih banyak yang mendekati nilai KKM. Peneliti merasa bahwa untuk nilai Kompetensi masih banyak yang mendapat nilai 80 pada materi  sebelumnya. Jumlah siswa yang masih mendapat nilai 80 adalah 13 siswa sedangkan rata-rata nilai hanya 83 hal ini membuat peneliti merasa masih sangat perlu ditingkatkan.

            Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka diajukan rumusan masalah sebagai berikut.

 

1.    Apakah Pembelajaran Problem Bassed Learning (PBL) Metode Tutor Sebaya (peer tutoring ) mampu meningkatkan hasil belajar siswa?

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan Model problem Based Learning (PBL) Metode Tutor Sebaya (Peer Tutoring). Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalah (Kamdi, 2007: 77). PBL atau pembelajaran berbasis masalah sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.

PBL memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) belajar dimulai dengan satu masalah, (2) memastikan bahwa masalah tersebut berhubungan dengan dunia nyata siswa, (3) mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, bukan seputar disiplin ilmu, (4) memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri, (5) menggunakan kelompok kecil, dan (6) menuntut siswa untuk mendemonstrasi-kan yang telah mereka pelajari dalam bentuk produk atau kinerja. Berdasarkan uraian di atas, tampak jelas bahwa pembelajaran dengan model PBL dimulai oleh adanya masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh siswa ataupun guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memcahkan masalah tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong berperan aktif dalam belajar.

Masalah yang dijadikan sebagai fokus pembelajaran dapat diselesaikan siswa melalui kerja kelompok sehingga dapat memberi pengalaman-pengalaman belajar yang beragam pada siswa seperti kerjasama dan interaksi dalam kelompok, di samping pengalaman belajar yang berhubungan dengan pemecahan masalah seperti membuat hipotesis, merancang percobaan, melakukan penyelidikan, mengumpulkan data, menginterpretasikan data, membuat kesimpulan, mempresentasikan, berdiskusi, dan membuat laporan. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa model PBL dapat memberikan pengalaman yang kaya pada siswa. Dengan kata lain, penggunaan PBL dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yang mereka pelajari sehingga diharapkan mereka dapat menerapkannya dalam kondisi nyata pada kehidupan sehari-hari. PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik konstruktivisme. Dalam model PBL, fokus pembelajaran ada pada masalah yang dipilih sehingga siswa tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut. Oleh sebab itu, siswa tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan ketrampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir kritis.

 

 

 

 

 

Pembelajaran Tutor Sebaya

Hamalik (1991:73) (dalam Abi Masiku (2003:10)) mengemukakan bahwa tutorial adalah bimbingan pembelajaran dalam bentuk pemberian bimbingan, bantuan, petunjuk, arahan, dan motivasi agar siswa dapat efisien dan efektif dalam belajar. Subyek atau tenaga yang memberikan bimbingan dalam kegiatan tutorial dikenal sebagai tutor. Tutor dapat berasal dari guru atau pengajar, pelatih, pejabat struktural, atau bahkan siswa yang dipilih dan ditugaskan guru untuk membantu teman-temannya dalam belajar di kelas. Pengajaran tutoring merupakan pengajaran melalui kelompok yang terdiri atas satu siswa dan satu pengajar (tutor, mentor) atau boleh jadi seorang siswa mampu memegang tugas sebagai mentor, bahkan sampai taraf tertentu dapat menjadi tutor (Winkel, 1996:401).

Secara singkat pengertian tutor dapat diartikan sebagai orang yang memberikan tutorial atau tutoring, sedangkan tutorial atau tutoring adalah bimbingan yang dapat berupa bantuan, petunjuk, arahan ataupun motivasi baik secara individu maupun kelompok dengan tujuan agar siswa dapat lebih efisien dan efektif dalam kegiatan pembelajaran sehingga tujuan dalam kegiatan pembelajaran tersebut dapat tercapai dengan baik. Dalam Kamus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jakarta (Tim Perumus, 2008:150) dijelaskan bahwa baya adalah umur, berumur atau tua, sedang sebaya adalah sama umurnya (tuanya), atau hampir sama (kekayaannya, kepandaiannya, dsb), seimbang atau sejajar. Pengertian lain sebaya menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia adalah hampir sama; (Trisno Yuwono dan Pius Abdullah, 1994:367). Dalam kamus konseling (Sudarsono,1997:31), teman sebaya berarti teman-teman yang sesuai dan sejenis, perkumpulan atau kelompok yang mempunyai sifat- sifat tertentu dan terdiri dari satu jenis. Menurut Ali (2004:99) Kelompok teman sebaya memegang peranan penting dalam kehidupan remaja. Remaja sangat ingin diterima dan dipandang sebagai anggota kelompok teman sebaya, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Oleh karenanya, mereka cenderung bertingkah laku seperti tingkah laku kelompok sebayanya.

Inti dari metode pembelajaran tutor sebaya adalah pembelajaran yang pelaksanaannya dengan membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil, yang sumber belajarnya bukan hanya guru melainkan juga teman sebaya yang pandai dan cepat dalam menguasai suatu materi tertentu. Dalam pembelajaran ini, siswa yang menjadi tutor hendaknya mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan teman lainnya, sehingga pada saat dia memberikan bimbingan ia sudah dapat menguasai bahan yang akan disampaikan. Model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok kecil dapat meningkatkan hasil belajar siswa dimana semua siswa aktif, siswa sangat antusias dalam melaksanakan tugas, semua perwakilan kelompok berani mengerjakan tugas didepan kelas, siswa berani bertanya dan respon siswa yang diajar sangat tinggi.

 

Penerapan Rangkaian Elektronika

Materi pembelajaran yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah menguji macam-macam komponen semikonduktor empat lapis dan menguji komponen sensor & transduser pada rangkaian elektronika yang terdapat pada mata pelajaran Penerapan rangakain Elektronika. Komponen empat lapis salah satunya adalah (SCR-Silicon Controlled Rectifier Silicon Controlled Rectifier atau sering disingkat dengan SCR adalah Dioda yang memiliki fungsi sebagai pengendali. Berbeda dengan Dioda pada umumnya yang hanya mempunyai 2 kaki terminal, SCR adalah dioda yang memiliki 3 kaki Terminal. Kaki Terminal ke-3 pada SCR tersebut dinamai dengan Terminal “Gate” atau “Gerbang” yang berfungsi sebagai pengendali (Control),  sedangkan kaki lainnya sama seperti Dioda pada umumnya yaitu Terminal “Anoda” dan Terminal “Katoda”.  Silicon Controlled Rectifier (SCR) merupakan salah satu dari anggota  kelompok komponen Thyristor.

Silicon Controlled Rectifier (SCR) atau Thrystor pertama kali diperkenalkan secara komersial pada tahun 1956. SCR memiliki kemampuan untuk  mengendalikan Tegangan dan daya yang relatif tinggi dalam suatu perangkat kecil. Oleh karena itu SCR atau Thyristor sering difungsikan sebagai Saklar (Switch) ataupun Pengendali (Controller) dalam Rangkaian Elektronika yang menggunakan Tegangan / Arus menengah-tinggi (Medium-High Power). Beberapa aplikasi SCR di rangkaian elektronika diantaranya seperi rangkaian Lampu Dimmer, rangkaian Logika, rangkaian osilator, rangkaian chopper, rangkaian pengendali kecepatan motor, rangkaian inverter, rangkaian timer dan lain sebagainya.

Pada dasarnya SCR atau Thyristor terdiri dari 4 lapis Semikonduktor yaitu PNPN (Positif Negatif Positif Negatif) atau sering disebut dengan PNPN Trioda.  Terminal “Gate” yang berfungsi sebagai pengendali terletak di lapisan bahan tipe-P yang berdekatan dengan Kaki Terminal “Katoda”. Cara kerja sebuah SCR hampir sama dengan sambungan dua buah bipolar transistor (bipolar junction transistor). Komponen sensor yang digunakan adalah Light Dependent Resistor atau disingkat dengan LDR adalah jenis Resistor yang nilai hambatan atau nilai resistansinya tergantung pada intensitas cahaya yang diterimanya. Nilai Hambatan LDR akan menurun pada saat cahaya terang dan nilai Hambatannya akan menjadi tinggi jika dalam kondisi gelap. Dengan kata lain, fungsi LDR (Light Dependent Resistor) adalah untuk menghantarkan arus listrik jika menerima sejumlah intensitas cahaya (Kondisi Terang) dan menghambat arus listrik dalam kondisi gelap. Naik turunnya nilai Hambatan akan sebanding dengan jumlah cahaya yang diterimanya. Pada umumnya, Nilai Hambatan LDR akan mencapai 200 Kilo Ohm (kΩ) pada kondisi gelap dan menurun menjadi 500 Ohm (Ω) pada Kondisi Cahaya Terang. LDR (Light Dependent Resistor) yang merupakan Komponen Elektronika peka cahaya ini sering digunakan atau diaplikasikan dalam Rangkaian Elektronika sebagai sensor pada Lampu Penerang Jalan, Lampu Kamar Tidur, Rangkaian Anti Maling, Shutter Kamera, Alarm dan lain sebagainya.

 

 

  II.     METODOLOGI PENELITIAN

            Penelitian dilakukan di kelas XI TAV 1 SMK Negeri 2 Kebumen Semester 1 Tahun Pelajaran 2015/2016. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 2 Kebumen karena peneliti adalah  guru produktif  SMK Negeri 2 Kebumen dan mengajar di kelas XI TAV 1.

            Pengumpulan data atau pelaksanaan tindakan dilaksanakan pada bulan Oktober dan Nopember 2015 karena materi pembelajaran yang diteliti dalam Penelitian Tindakan Kelas ini disajikan kepada siswa pada bulan Oktober dan Nopember 2015.

            Sumber data berasal dari hasil nilai komptenesi sebelumnya, siklus I, dan siklus II. Data ini merupakan data kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini berupa teknik unjuk kerja, projek dan portofolio.

            Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan suatu pekerjaan/tugas. Tujuan penilaian unjuk kerja adalah untuk mengetahui apa yang siswa ketahui dan apa yang mereka lakukan. Dengan demikian penilaian unjuk kerja tersebut harus bermakna, autentik dan dapat mengukur penguasaan siswa. Autentik artinya realistis atau sesuai dengan kehidupan nyata. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian penguasaan kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu, seperti: praktik di bengkel/laboratorium.

Penilaian unjuk kerja harus mempertimbangan hal-hal sebagai berikut:

1.     Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk menunjukan kinerja dari suatu komponen.

2.      Ketepatan dan kelengkapan aspek yang akan dinilai

3.      Kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas

4.      Upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak sehingga semua dapat teramati

5.      Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati.

 

Penilaian Portofolio adalah teknik penilaian yang dilakukan dengan cara menilai hasil karya peserta didik yang berupa kumpulan tugas, karya, prestasi akademik/ non akademik, yang dikerjakan/dihasilkan peserta didik. Dalam konteks penilaian portofolio dapat diartikan sebagai kumpulan karya atau dokumen peserta didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang diambil selama proses pembelajaran, digunakan oleh guru dan peserta didik untuk menilai dan memantau perkembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. Kumpulan keterangan atau karya peserta didik hendaknya melibatkan partisipasi peserta didik dalam memilih bahan-bahan, criteria seleksi dan kriteria penilaian.

            Penilaian proyek adalah cara penilaian yang dilakukan dengan melakukan pengamatan dan penilaian terhadap tugas-tugas proyek tertentu yang dikerjakan siswa pada periode waktu tertentu. Seperti penilaian produk, penilaian proyek juga tidak hanya berfokus pada hasil akhir proyek dalam bentuk produk akhir tertentu, melainkam juga berfokus pada seluruh proses penyelesaian proyek dari aspek persiapan proyek, pengerjaan proyek, hingga hasil proyek berupa laporan proyek. Penilaian proyek umumnya dilakukan dalam pelaksanaan pembelajaran berorientasi proyek.

            Analisis data kuantitatif menggunakan analisis deskriptif komparatif, yaitu  membandingkan nilai tes kondisi awal, nilai tes setelah siklus I, dan nilai tes setelah siklus II. Berdasarkan perbandingan tersebut peneliti dapat mengetahui ada/tidaknya peningkatan hasil belajar peserta didik yang sedang diteliti.

            Kondisi nilai komptensi peserta didik kelas XI SMK Negeri 2 Kebumen semester 1 Tahun Pelajaran 2015/2016 pada mata pelajaran PRE masih belum memuaskan atau masih banyak yang mendapat nilai mendekati Kriteria Ketuntasan Minimal atau dalam hal ini masih ada 13 siswa yang mendapat nilai 80 sedangkan rata-rata hanya 83. Berdasarkan kenyataan tersebut, maka ditentukan target yang diharapkan yaitu sebanyak 13 peserta didik dapat mencapai nilai melebihi 80 dan peserta didik yang lain juga meningkat nilainya sehingga rata-rata kelas dapat meningkat setelah pelaksanaan dua siklus tindakan kelas, nilai rerata 83 dapat naik atau meningkat.

Dalam penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan 2 siklus dengan perincian sebagai berikut.

Siklus 1: Siswa dikelompokkan menjadi 6, masing masing kelompok terdiri dari 5-6 siswa dan dipilih satu siswa sebagai tutor (siswa yang berkompetensi tinggi). Pada pertemuan ke-1 setelah pembahasan secara teori, diberikan sebuah problem, instruksi, dilanjutkan menggunakan Metode pembelajaran tutor sebaya sesuai kelompoknya. Diakhir pertemuan 1 hasil pekerjaan (gambar rangkaian dan lay out rangkaian) masing–masing kelompok mengumpulkan dan menjelaskan sistem kerja rangkaiannya hal ini  untuk mengambil data hasil belajar pemahaman materi secara kelompok. Pada pertemuan ke-2, disampaikan ulasan materi yang kemudian dilanjutkan dengan penugasan kelompok dan pembelajaran menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya sesuai kelompok masing-masing. Diakhir pertemuan ke 2 hasil pekerjaan (gambar rangkaian dan lay out rangkaian) masing–masing anggota kelompok mengumpulkan dan menjelaskan sistem kerja rangkaiannya hal ini  untuk mengambil data hasil belajar pemahaman materi secara individu.  Pada pertemuan ke 3 dilaksanakan pembelajaran praktik pembuatan PCB berdasarkan lay out yang sudah dibuat masing-masing individu tetapi kegiatan masih dalam satu kelompok. Diakhir siklus I atau pertemuan 3 hasil pekerjaan lay out rangkaian yang sudah tercetak di PCB  masing–masing anggota kelompok dikumpulkan hal ini  untuk mengambil data hasil belajar praktik secara individu.

Siklus 2: Siswa dikelompokkan menjadi 6 tetapi dalam kelompok tersebut dibuat kelompok kelompok kecil yang terdiri dari 2 siswa atau sudah terdapat 17 kelompok kecil, hal ini dilakukan karena pada akhir siklus ke 2 sudah dilaksanakan pembelajaran praktik pembuatan rangkaian.

Pada pertemuan ke-1 setelah pembahasan secara teori singkat, instruksi, dilanjutkan menggunakan Metode pembelajaran tutor sebaya sesuai kelompoknya. Diakhir pertemuan 1 hasil pekerjaan atau rangkaian yang sudah terpasang pada PCB masing–masing kelompok dikumpulkan. Pengambilan data hasil belajar pada pertemuan ke-1 dilaksanakan secara langsung melalui Lembar pengamatan, Lembar penilaian praktek, Catatan lapangan.

Pada pertemuan ke-2, dilanjutkan penyelesaian praktik pembuatan rangkaian sesuai dengan kelompok dan pembelajaran menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya sesuai kelompok masing-masing. Diakhir pertemuan ke 2 hasil pekerjaan masing–masing anggota kelompok dikumpulkan. Pengambilan data hasil belajar pada pertemuan ke-2 dilaksanakan secara langsung melalui Lembar pengamatan, Lembar penilaian praktek, Catatan lapangan.

Pada pertemuan ke 3 dilaksanakan pembelajaran praktik finishing pembuatan rangkaian dan uji coba rangkaian sesuai dengan kelompok-kelompok kecil. Diakhir pertemuan ke 3 hasil pekerjaan masing–masing anggota kelompok dikumpulkan. Pengambilan data hasil belajar pada pertemuan ke-3 dilaksanakan secara langsung melalui Lembar pengamatan, Lembar penilaian praktek, Portofolio dan projek serta catatan lapangan.

Dari siklus 1 ke siklus 2, diharapkan pada proses pembelajaran diharapkan hasil meningkat. Kondisi akhir, diduga melalui penggunaan Metode pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar.

 

Diagram  Kerangka Berpikir Tindakan

 

 

Kondisi awal

Tindakan

Guru/Peneliti belum menggunakan metode tutor sebaya

hasil belajar masih rendah

Guru / Peneliti menggunakan metode tutor sebaya

Siklus I

Menggunakan metode tutor sebaya

secara berkelompok besar (tiap kelompok 4-6 siswa) dalam pembelajaran PRE

 

Diduga melalui penggunaan metode tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar PRE bagi siswa kelas XI TAV 1 SMK Negeri 2 Kebumen semester 1 tahun pelajaran 2015/2016

Siklus II

Menggunakan metode tutor sebaya

 secara berkelompok 6 kelompok besar (tiap kelompok 4-6 siswa) tetapi pelaksanaan pembuatan dijadikan kelompok kecil yang terdiri dari 2 siswa

 

Kondisi akhir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


III.     HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

      3.1. Hasil Belajar PRE

 

Tabel 1.

Nilai  Kompetensi Kelas XI TAV 1  Kondisi Awal

 

No.

 

Keterangan

Nilai

1

 

Nilai Tertinggi

88.00

 

2

 

Nilai Terendah

80.00

 

3

Nilai Rerata

83.00

 

4

Nilai 80 masih 13 siswa

13

 

 

 

           

 

 

Grafik 1. Distribusi rata-rata, nilai minimal dan maksimal

 

 

 

 

 

Grafik 2. Distribusi nilai tiap siswa

 

3.2.    Hasil Siklus I

Tabel 2.

Nilai Kompetensi Kelas XI TAV 1 Siklus I

 

No.

Keterangan

Nilai

1

Nilai Tertinggi

90.00

 

2

Nilai Terendah

8000

 

3

Nilai Rerata

84.00

 

4

Nilai 80 masih 1 siswa

 

88.00

 

 

           

Grafik 3. Distribusi rata-rata, nilai minimum dan maksimal

 

 

 

Grafik 4. Distribusi nilai tiap siswa

 

 

Berikut tabel perbandingan antara nilai peserta didik kelas XI TAV 1 pada kondisi awal dan nilai siklus I .

 

Tabel 3.

Perbandingan Nilai PRE Kondisi Awal dan Siklus I

 

No.

Keterangan

Kondisi Awal

Siklus I

1

Nilai Tertinggi

88.00

 

90.00

 

2

Nilai Terendah

80.00

 

80.00

 

3

Nilai Rerata

83

 

84.00

 

4

Jumlah yang masih mendapat nilai 80

13

 

1

 

 

              Gambaran peningkatan nilai ketrampilan kondisi awal ke siklus I akan lebih jelas dalam grafik berikut.

 

.

Gambar 5.   Grafik perbandingan nilai kompetensi kondisi awal dengan nilai pada siklus I

 

 

 

 

 

 

 

 

3.2.    Hasil Siklus II

Hasil Nilai PRE

Tabel 4.

Nilai Kompetensi  Siklus II

 

No.

Keterangan

Nilai

1

Nilai Tertinggi

90.00

 

2

Nilai Terendah

82.00

 

3

Nilai Rerata

86.00

 

4

Sudah tidak ada yang mendapat nilai 80

 

 

 

              Dari tabel di atas dapat diketahui nilai yang telah diperoleh peserta didik dalam proses pembelajaran siklus II yaitu nilai tertinggi 90, nilai terendah 82, nilai rerata 86,00.

              Deskripsi nilai tertinggi, terendah, rerata pada siklus II terlihat lebih jelas dalam grafik di bawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Grafik 6. Distribusi rata-rata, nilai minimum dan maksimum

 

 

 

 

 

 

 

 

Grafik 7. Distribusi nilai tiap siswa

            Berikut tabel perbandingan antara nilai kondisi awal dengan nilai siklus I dan nilai siklus II.

Tabel 5.   

Perbandingan Nilai Kondisi awal dengan Nilai Siklus I dan Nilai Siklus II

 

No.

Keterangan

Kondisi awal

Siklus I

Siklus II

1.

2.

3.

 

Nilai Tertinggi

Nilai Terendah

Nilai Rerata

 

88

80

83

 

90

80

84

 

100

82

86

 

 

            Deskripsi peningkatan nilai kondisi awal ke siklus I dan siklus II akan lebih jelas dalam grafik berikut.

Gambar 8.   Grafik Perbandingan Nilai Kondisi awal dengan Nilai Siklus I dan Siklus II

 

Dari uraian di atas, maka dapat dideskripsikan bahwa penelitian ini secara umum menghasilkan data hasil belajar dari kondisi awal ke kondisi akhir mengalami peningkatan. Nilai rerata yang dicapai peserta didik pada kondisi awal sebesar 83,00 menjadi 84,00 pada siklus I dan semakin meningkat menjadi 86,00 pada siklus II. Dengan demikian dari kondisi awal ke kondisi akhir peningkatan nilai rerata peserta didik.

 

 

 

IV.     KESIMPULAN, SARAN, DAN REKOMENDASI

Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan model Pembelajaran Problem Bassed Learning (PBL) Metode Tutor Sebaya (Peer Tutoring) bisa meningkatkan hasil belajar PRE kelas XI TAV1 SMK Negeri 2 Kebumen pada semester 1 tahun pelajaran 2015/2016.

         

          Saran-saran penulis sampaikan sehubungan dengan penelitian ini, yaitu:

1.    Bagi guru kompetensi siswa dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan model Pembelajaran Problem Bassed Learning (PBL) Metode Tutor Sebaya (Peer Tutoring).

2.    Bagi guru, penelitian ini memberikan wawasan untuk memilih model pembelajaran yang menyenangkan dan meningkatkan hasil belajar peserta didik.

3.    Bagi sekolah, hendaknya mendukung guru untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas. Bila banyak guru yang melakukan penelitian tindakan kelas, mutu sekolah akan meningkat karena memiliki banyak guru yang profesional. 

 

 

  V.     DAFTAR PUSTAKA

Kamdi, W. 2007. Model Pembelajaran Project Based Learning. UNS Press.Semarang.

 

Hamalik, Oemar. 2008. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.

(Tim Perumus, 2008). Kamus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jakarta

 

Tim Fakultas Teknik UNY. 2003. Sensor Dan Transduser. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah Depertemen Pendidikan Nasional.

 

Zuhal. 2004. Prinsip Dasar Elektroteknik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Komentar