KETERCAPAIAN TUJUAN PENDIDIKAN TAMANSISWA

Oleh : AKHMAD ARIFIN

 

 

PENDAHULUAN

 

SEJARAH TAMAN SISWA

Perguruan Taman Siswa didirikan pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Perguruan ini kemudian berkembang luas baik di dalam maupun di luar Pulau Jawa, seperti Sumatra, Bali, Sulawesi, Kalimantan, dan Ambon. Tujuan Perguruan Taman Siswa itu adalah menuju Indonesia merdeka, demi terwujudnya masyarakat tertib dan damai. Menurut Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan Nasional Taman Siswa adalah antitesa terhadap sistem pendidikan bangsa kolonial yang bersifat regering, tucht, orde(perintah, hukuman, dan ketertiban). Pendidikan seperti ini yang mengekang dan menindas anak-anak. Singkatnya didirikan taman siswa ini sebagai bentuk pembentukan karakter bumiputera pelajar di Indonesia. Dikarenakan sistem pendidikan masa kolonial yang sangat mengekang dan hanya ditunjukan untuk mendapat ijazah dan menghasilkan kaum siap kerja. Dasar pemikiran di balik pembangunan Taman Siswa memang bertujuan membentuk karakter siswa yang berasas nasionalisme. Maka tidak heran bahwa sedari awal pembangunannya, Taman Siswa sudah menyatakan diri sebagai Lembaga Pengajaran Nasional. Dalam pelaksanaan kegiatan ajar, Taman Siswa menyelenggarakan sistem pendidikan yang dapat membentuk karakter siswa berlandaskan budaya bangsa. Salah satu tujuannya adalah mempercepat kemerdekaan yang sejak lama dicita-citakan kaum nasionalis.

Perguruan Taman Siswa juga didirikan untuk menampung minat masyarakat Hindia yang ingin bersekolah namun terkendala oleh berbagai hal, termasuk status sosial. Sebab, pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Hindia Belanda saat itu lebih diperuntukkan bagi kaum bangsawan maupun pangreh praja (pegawai pemerintah), sehingga rakyat jelata tidak bisa bersekolah. Kehadiran Perguruan Taman Siswa membuka kesempatan bagi semua orang untuk bisa bersekolah secara mudah dan murah. Mudah karena tidak ada persyaratan-persyaratan khusus, sedangkan murah dalam artian biayanya terjangkau oleh semua golongan. Tidak mengherankan bila dalam kurun waktu delapan tahun (1922-1930) jumlah Perguruan Taman Siswa telah mencapai 100 cabang dengan jumlah puluhan ribu murid. Perguruan Taman Siswa memiliki pedoman bagi seorang guru yang disebut Patrap Triloka dan Tripusat. Konsep yang sangat populer ini dikembangkan oleh Suwardi setelah ia mempelajari sistem pendidikan progresif yang diperkenalkan oleh Maria Montessori dan Rabindranath Tagore. Unsur-unsur dari Patrap Triloka yang menjadi dasar kerja seorang guru sebagai berikut:

  1. Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan)
  2. Ing madya mangun karsa (di tengah membangun karsa/semangat/kemauan)
  3. Tut wuri handayani (dari belakang mendukung)

Konsep Tri No ini relevan untuk praktik pendidikan sekolah atau guru, yaitu nonton, niteni dan nirokke. Nonton, nonton di sini adalah secara pasif dengan segenap panca indera. Niteni, adalah menandai, mempelajari, mencermati apa yang ditangkap panca indera, dan Nirokke yaitu menirukan yang positif untuk bekal menghadapi perkembangan anak. Sedangkan konsep selanjutnya, yaitu Tri Pusat Pendidikan: (1) pendidikan keluarga; (2) pendidikan dalam alam perguruan; dan (3) pendidikan dalam alam pemuda atau masyarakat. Kesempurnaan pendidikan dalam masyarakat akan terwujud apabila orang-orang yang berkepentingan, yaitu orangtua, tokoh masyarakat, guru-guru dengan anak atau pemuda, bersatu paham, misal dalam bidang agama, bidang politik, dalam kebangsaan, sehingga sistem Tri Pusat Pendidikan itu akan tercapai. Terwujudnya Tri Pusat Pendidikan akan melahirkan calon-calon pemimpin bangsa ini yang berkarakter Ing Ngarsa Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah tuntunan dalam hidup  tumbuhnya anak-anak. Adapun maksudnya pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Demi kepandaian, keterampilan, dan keluhuran budi pekerti para siswa-siswinya, para Pamong/Guru ikhlas dan rela berkorban untuk bekerja keras, disiplin, penuh tanggung jawab mendidik dan mengajar siswa-siswinya. Abudin Nata (2005) mengungkapkan bahwa menurut Ki Hadjar pendidikan budi pekerti bukanlah mengajarkan teori-teori tentang baik buruk dengan dalil-dalinya yang serba menjelimet, yang ia kehendaki dengan pendidikan budi pekerti adalah pembiasaan berbuat baik pada diri anak dalam kehidupan sehari-hari, hingga mendarah daging, dan kalaupun ada penjelasan dan keterangan, tapi hal yang demikian dilakukan hanya sebagi penguat, alat dan bukan tujuan. Selain itu, pendidikan budi pekerti harus bersifat integrated dengan pengajaran pada setiap bidang studi. Atau dengan kata lain, Ki Hadjar menginginkan bahwa pada setiap pengajaran bidang studi apapun harus mengintegrasikannya dengan pendidikan budi pekerti, dan tidak berhenti pada pengajaran mata pelajaran tersebut.

Ki Hadjar juga menyatakan terhadap anak-anak kecil cukuplah kita membiasakan mereka untuk bertingkah laku yang baik, sedangkan bagi anak-anak yang sudah dapat berfikir, seyogyanya diberikan keterangan-keterangan yang perlu, agar mereka dapat pengertian dan keinsyafan tentang kebaikan dan keburukan pada umumnya. Barang tentu perlu juga kepada anak-anak dewasa kita berikan anjuran-anjuran untuk melakukan pelbagai laku yang baik dengan cara disengaja. Dengan begitu maka syarat pendidikan budi pekerti yang dahulu biasa disebut metode menyadari, menginsyafi dan melakukan dapat terpenuhi.

Pendidikan  dan kebudayaan adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Kebudayaan menurut Ki Hadjar Dewantara  sebagaimana dikutip Ki Sunarno Hadiwijoyo(2006) adalah buah budi dan hasil perjuangan hidup manusia. Sebagai buah budi manusia kebudayaan digolongkan menjadi tiga yaitu pertama, buah pikiran, seperti : ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan dan pengajaran, filsafat, dan sejenisnya. Kedua, buah perasaan, yaitu segala yang bersifat indah, luhur, baik, benar, adil, seperti: adat istiadat (etika), seni (estetika), relegiusitas, dan sejenisnya. Ketiga, Buah kemauan, yaitu semua cara perbuatan dan usaha manusia, contohnya aturan, hukum, perundang undangan, tata cara, perdagangan, perindustrian, pertanian dan sejenisnya. Menguatkan pendidikan artinya memajukan kebudayaan. Membangun kebudayaan adalah proses memajukan pendidikan. Inilah intisari dari ajaran Ki Hajar Dewantara dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya. Menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur. Budi pekerti inilah yang nanti menjadi pondasi dalam mencerdaskan anak bangsa.  Cerdas tanpa landasan budi pekerti luhur adalah cerdas imitasi.  Kecerdasan yang tidak akan memberi manfaat kepada lingkungan sekitar.

Dalam buku Menuju Manusia Merdeka (2009), Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa pemeliharaan kebudayaan harus bertujuan memajukan dan menyesuaikan kebudayaan dengan setiap pergantian alam dan zaman. Memasukkan kebudayaan lain yang tidak sesuai dengan alam dan zamannya merupakan pergantian kebudayaan yang menyalahi tuntunan kodrat dan masyarakatnya dan  hal ini membahayakan. Kemajuan kebudayaan harus berupa kelanjutan langsung dari kebudayaan nasional menuju kea rah kesatuan kebudayaan dunia dan tetap mempunyai sifat kepribadian dalam lingkungan kemanusiaan sedunia.

Ki Hadjar Dewantara dan Prinsip serta Konsep Pendidikan

Ki Hadjar Dewantara adalah nama alias untuk Raden Mas Soewardi Soerjaningrat sejak 1922. Lahir pada 1889, tanggal kelahirannya ditetapkan jadi Hari Pendidikan Nasional, yaitu setiap 2 Mei. Penelusuran Kompas.com mendapati penetapan Hari Pendidikan Nasional ini muncul di Keputusan Presiden Nomor 316 tahun 1959 dan aturan lain sesudah itu yang merujuk kepada aturan tersebut. Merujuk harian Kompas edisi 2 Mei 1968, penetapan tersebut merupakan bentuk penghargaan Pemerintah atas jasa Ki Hadjar Dewantara yang telah memelopori sistem pendidikan nasional berbasis kepribadian dan kebudayaan nasional. Penggunaan nama alias pada 1922 bertepatan dengan langkah Ki Hadjar Dewantara mendirikan sekolah Taman Siswa di Yogyakarta. Sejak itu, kiprahnya di dunia pendidikan terus berlanjut, sejalan dengan semangatnya melawan penjajahan.

1. Lawan sastra ngesti mulya

Terjemahan bebasnya, "dengan pengetahuan kita menuju kemuliaan". Penjelasan poin ini mencakup pula frasa lain, yaitu sastra herjendrayuningrat pangruwating dyu, yang terjemahannya, "ilmu yang luhur dan mulia menyelamatkan dunia serta melenyapkan kebiadaban".

2. Suci tata ngesti tunggal

Penjelasan bebasnya, "dengan suci batinnya, tertib lahirnya menuju kesempurnaan".

3. Hak diri untuk menuntut salam dan bahagia

Merujuk situs web tersebut, fatwa ini menjelaskan bahwa bagi Tuhan semua manusia itu pada dasarnya sama, sama haknya dan sama kewajibannya, sama haknya mengatur hidupnya serta sama haknya menjaIankan kewajiban kemanusiaan untuk mengejar keselamatan hidup lahir dan bahagia daIam hidup batinnya. Intinya, jangan kita hanya mengejar keselamatan lahir, dan jangan pula hanya mengejar kebahagiaan hidup batin.

4. Salam bahagia diri tidak boleh menyalahi damainya masyarakat

Penjelasan fatwa ini, ”Sebagai peringatan, bahwa kemerdekaan diri kita dibatasi oleh kepentingan keselamatan masyarakat. Batas kemerdekaan diri kita iaIah hak-hak orang lain yang seperti kita masing-masing sama-sama mengejar kebahagiaan hidup. Segala kepentingan bersama harus diletakkan di atas kepentingan diri masing-masing akan hidup selamat dan bahagia, apabila masyarakat kita terganggu, nggak tertib dan damai. Janganlah mengucapkan 'hak diri' kalo nggak bersama-sama dengan ucapan 'tertib damainya masyarakat', agar jangan sampai hak diri itu merusak hak diri orang lain sesama kita, yang berarti merusak keselamatan hidup bersama, yang juga merusak kita masing-masing.

5. Kodrat alam penunjuk untuk hidup sempurna

Sebagai pengakuan bahwa kodrat alam, yaitu segala kekuatan dan kekuasaan yang mengelilingi dan melingkungi hidup kita itu adalah sifat lahirnya kekuasaan Tuhan yang Maha Kuasa, yang berjalan tertib dan sempuma di atas segala kekuasaan manusia. Janganlah hidup kita bertentangan dengan ketertiban kodrat alam. Petunjuk dalam kodrat alam kita jadikan pedoman hidup kita, baik sebagai alam kita jadikan pedoman hidup kita, baik sebagai orang seorang atau individu, sebagai bangsa, maupun sebagai anggota dari alam kemanusiaan.

6. Alam hidup manusia adalah alam hidup berbulatan

Penjelasannya, bahwa hidup kita masing-masing itu ada dalam lingkungan berbagai alam-alam khusus, yang saling berhubungan dan berpengaruh. Alam khusus tersebut adalah alam diri, alam kebangsaan, dan alam kemanusiaan. Rasa diri, rasa bangsa, dan rasa kemanusiaan, ketiga-tiganya hidup dalam tiap-tiap sanubari kita masing-masing manusia, yang nggak dapat dipungkiri keberadaannya.

7. Dengan bebas dari segala ikatan dan suci hati berhambalah kita kepada sang anak

Dalam mendidik, penghambaan kepada sang anak nggak lain daripada penghambaan kita sendiri. Sungguh pun pengorbanan kita itu kita tujukan kepada sang anak, tetapi yang memerintahkan kita dan memberi titah untuk berhamba dan berkorban itu bukan si anak, melainkan diri kita masing-masing. Di samping itu kita menghambakan diri kepada bangsa, negara, pada rakyat, dan agama, atau terhadap lainnya. Semua itu nggak lain penghambaan pada diri sendiri, untuk mencapai rasa bahagia dan rasa damai dalam jiwa kita sendiri.

8. Tetep–mantep–antep

Dalam melaksanakan tugas perjuangan kita, kita harus memiliki ketetapan hati (tetep), termasuk tekun bekerja, nggak menoleh ke kanan dan ke kiri. Kita harus tetap tertib dan berjalan maju. Kita harus selalu mantep, setia dan taat pada asas itu, teguh iman hingga nggak ada yang akan dapat menahan gerak kita atau membelokkan aliran kita. Sesudah kita tetap dalam gerak lahir kita, lalu mantep dan tabah batin kita, segala perbuatan kita akan antep, yaitu berat berisi dan berharga, nggak mudah dihambat, ditahan-tahan, dan dilawan oleh orang lain.

 

9. Ngandel–kendel–bandel

Kita harus ngandel, percaya, kepada kekuasaan Tuhan dan percaya kepada diri sendiri. Kendel, berani, nggak ketakutan dan was-was oleh karena kita percaya kepada Tuhan dan kepada diri sendiri. Bandel, yang berarti tahan dan tawakal. Dengan demikian maka kita jadi kendel, tebal, kuat lahir batin kita, berjuang untuk cita-cita kita.

10. Neng-ning–nung–nang

Dengan meneng (neng), tenteram lahir batin, nggak nervous, kita jadi wening (ning), bening, jernih pikiran kita, mudah membedakan mana yang benar dan mana yang salah, lalu kita jadi hanung (nung), kuat sentosa, kokoh lahir dan batin untuk mencapai cita-cita, hingga akhirnya menang (nang) dan mendapat wewenang, berhak dan kuasa atas usaha kita.

PEMBAHASAN

TAMAN SISWA DAN KETERCAPAIANYA PENDIDIKAN INDONESIA SEKARANG

Taman Siswa (Taman berarti tempat bermain atau tempat belajar, dan Siswa berarti murid) adalah nama sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta .Pada waktu pertama kali didirikan, sekolah Taman Siswa ini diberi nama "National Onderwijs Institut Taman Siswa", yang merupakan realisasi gagasan dia bersama-sama dengan teman di paguyuban Sloso Kliwon. Sekolah Taman Siswa ini sekarang berpusat di balai Ibu Pawiyatan (Majelis Luhur) di Jalan Taman Siswa, Yogyakarta, dan mempunyai 129 sekolah cabang di berbagai kota di seluruh Indonesia. Prinsip dasar dalam sekolah/pendidikan Taman Siswa yang menjadi pedoman bagi seorang guru dikenal sebagai Patrap Triloka. Konsep ini dikembangkan oleh Suwardi setelah ia mempelajari sistem pendidikan progresif yang diperkenalkan oleh Maria Montessori (Italia) dan Rabindranath Tagore (India/Benggala). Patrap Triloka memiliki unsur-unsur (dalam bahasa Jawa) ing ngarsa sung tulada "yang di depan memberi teladan", ing madya mangun karsa "(yang) di tengah membangun kemauan/inisiatif", tut wuri handayani  "dari belakang mendukung".

Ajaran Taman Siswa Organisasi Taman Siswa mengajarkan tentang dasar-dasar kemerdekaan bagi masyarakat pribumi Indonesia. Ajaran kemerdekaan yang dimaksud Taman Siswa adalah kemerdekaan yang berasal dari diri sendiri. Pendidikan di Taman Siswa selalu menekankan kepada siswanya untuk tidak bergantung kepada orang lain dan tetap berpegang teguh pada prinsip berdikari (berdiri di kaki sendiri), lembaga lembaga yang ada di taman siswa untuk setiap jenjang sudah ada dari jaman Ki Hadjar Dewantara mendidikan lembaga Taman Siswa, lembaga tersebut adalah:

Saat ini, sistem pendidikan di Indonesia yang dijalankan adalah sistem pendidikan Nasional. Jika sebelumnya wajib belajar bagi masyarakat Indonesia ditetapkan selama 9 tahun, meliputi 6 tahun untuk sekolah dasar dan 3 tahun untuk sekolah menengah pertama, sekarang wajib belajar 12 tahun. Tujuan pendidikan nasional tentunya sangat penting untuk Bangsa Indonesia. Pendidikan Nasional Menurut Undang-undang No.20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 2 adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pendidikan nasional dilaksanakaan sejak Sekolah Dasar hingga jenjang Perguruan Tinggi. Salah satu program yang dijalankan oleh pemerintah dalam mendukung program pendidikan nasional ini adalah wajib belajar 12 tahun, yang mana pendidikan dimulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan menengah atas. Hal ini tentunya dilakukan agar seluruh generasi penerus bangsa dapat menenerima dan mengikuti pendidikan yang layak, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional Indonesia. Penting bagi semua orang untuk mengetahui tujuan pendidikan nasional, sebagai proses evaluasi untuk sistem pendidikan nasional di Indonesia. Apalagi, pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Semakin maju pendidikan, semakin maju pula negara tersebut.

Menurut seorang tokoh psikologi Howard Gardner yang terkenal dengan teori Multiple Intelligences, mengatakan kalau semua orang tidak dilahirkan dengan semua kecerdasan. Gardner juga menyebutkan ada delapan jenis kecerdasan: Linguistik, visual spasial, musikal, kinestetik, logis-matematis, naturalis, interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. Dan semua orang pasti memiliki salah satu kecerdasan ini. Jadi sebenernya gak ada anak yang terlahir bodoh atau pintar, yang ada adalah anak yang menonjol dalam satu atau beberapa kecerdasan aja.

MASALAH SISTEM PENDIDIKAN SAAT INI

Membahas masalah sistem pendidikan masih banyak sekali permasalahan yang masih ada. Sejak tahun 2000 negara-negara di dunia termasuk Indonesia mengikuti tes PISA setiap tiga tahun sekali. PISA (Programme for International Student Assessment) adalah studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun. Dan data terakhir tahun 2018 Skor PISA Indonesia termasuk dalam kategori rendah, yaitu Indonesia ada di peringkat 70an dari 78 negara di masing-masing aspek penilaian PISA (membaca, matematika, dan sains). Pada kenyataannya kondisi sistem pendidikan di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Contohnya masih banyak anak-anak Indonesia yang belum mendapatkan fasilitas sekolah yang layak. Apalagi dengan situasi pandemi sekarang, kurikulum pembelajaran jarak jauh juga ada beberapa kendalabagi siswa yang ada di daerah. Karena kondisi yang mengharuskan siswa belajar dari rumah juga banyak menimbulkan masalah baru. Menurut Neil deGrasse Tyson sistem pendidikan belum bisa mencapai tujuannya karena hal yang diutamakan di sekolah itu hanya sebatas nilai tinggi. Mungkin ini jadi masalah pendidikan yang pertama, sekolah terlalu mementingkan IPK atau nilai, tetapi pada kenyataanya kehidupan tidak hanya mementingkan nilai, karena nilai tinggi di sekolah tidak  menjamin orang itu akan selalu sukses. Banyak orang yang tidak mendapatkan  nilai tinggi di sekolah tetapi mempunyai kehidupan yang sukses, contohnya Albert Einstein.

Masalah yang kedua adalah sekolah hanya menjelaskan “Apa” bukan “Kenapa”.  Belajar Matematika integral, Fisika hukum newton, Geografi lapisan batuan bumi dan lain-lain, tanpa mengetahui mengapa harus diajarkan dan mengapa harus belajar hal tersebut, belum lagi pada proses pengajarannya belum banyak mengarah mengapa tetapi apa. Hal itu emunculkan permasalahan ketiga yaitu sekolah membunuh kreativitas muridnya. Murid dipaksa harus mempelajari hal yang sama sama semua orang, kapan dia harus belajar juga diatur dan murid juga harus mencapai standar yang sama. Dan juga semua siswa dari latar belakang yang beda harus punya pencapaian sama, contohnya UN semua anak dari berbagai latar belakang harus mencapai standar yang sama untuk lulus. Menurut  Sir Ken Robinson, system seperti ini  membunuh kreativitas siswa dan berdampak minat siswa juga jadi berkurang. Permasalahan keempat adalah pelajaran yang diajarkan di sekolah sebagian kurang relevan dengan kebutuhan untuk  menjalani kehidupan. Banyak hal yang dibutuhkan untuk kehidupan tapi tidak diajarin di sekolah, contohnya adalah bagaiman cara membangun rasa percaya diri yang penting untuk kehidupan tapi jarang di ajarkan. Banyak orang yang bertalenta tapi gak bisa menunjukan talentanya karena gak percaya diri. Begitupun sebaliknya banyak orang yang sebenernya tidak  mempunyai talenta menonjol tetapi bisa sukses karena percaya diri. Hal yang penting lain public speaking yang betul, atau cara mengatur keuangan, leadership atau yang lain lagi. Itu sangat penting untuk keberlangsungan hidup.

Sebenarnya masih banyak lagi masalah dari sistem pendidikan saat ini. Nah, pertanyaannya adalah apakah bisa sekolah menyiapkan siswa-siswanya untuk terjun langsung ke dunia nyata kalau empat masalah ini masih ada? Di awal tulisan ini  skor PISA Indonesia yang tergolong rendah, hal ini menunjukan bahwa siswa yang sudah lulus sekolah belum bisa siap untuk menjalani kehidupan. Belum siap untuk beradaptasi dengan dunia pekerjaan, atau mungkin belum siap untuk menghadapi kemajuan iptek dengan maksimal. Karena PISA itu tidak menilai pencapaian siswa lewat hafalan saja, tapi fokus ke gimana siswa itu bisa siap dalam menjalani kehidupan. Siswa harus siap menghadapi tantangan di masa depan dengan kemajuan iptek. Ketika robot sudah bisa menggantikan pekerjaan manusia apakah bisa siswa Indonesia beradaptasi? Siswa juga harus punya penalaran logika yang baik setelah lulus sekolah. Karena ini merupakan hal yang mendasar saat seseorang mempelajari sesuatu. Kalau logikanya kurang baik maka pelajaran apapun tidak bisa diterima dengan baik juga. Dan siswa harus punya kapasitas untuk terus belajar selama hidupnya. Kalau sistem pendidikan bisa mewujudkan aspek-aspek di atas sistem pendidikan bisa dikatakan berhasil membentuk siswa yang siap tempur di pasar industri kayak sekarang. Kenyataannya banyak pengangguran, bahkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi pada 2021 angka pengangguran bisa mencapai 12,7 juta orang. Hal ini kenapa bisa terjadi? Karena banyak orang yang gak punya skill yang dibutuhkan sama industri sekarang. Ada kesenjangan antara apa yang kita pelajari dengan apa yang dibutuhkan dunia saat ini. Dan bisa dikatakan apa yang kita pelajari di sekolah itu belum sinkron dengan kebutuhan dunia industri sekarang. Banyak skill-skill baru yang dibutuhkan di industri sekarang tapi SDM yang ada itu belum memadai untuk memenuhi kebutuhan industri. Karena skill-skill yang dibutuhkan itu belum diajarkan di sekolah.  Dari gambaran tersebut dibutuhkan evaluasi dan perlu perubahan sistem pendidikan di Indonesia yang ada saat ini. Hal ini supaya sistem pendidikan yang ada itu bisa lebih relevan dan efektif untuk diaplikasikan di abad ini. Bisa dikatakan kurikulum yang ada sekarang itu belum tepat untuk bisa membentuk siswanya dalam menjalani kehidupan sekarang. Sistem pendidikan nasional saat ini dinilai cenderung memaksa anak patuh pada guru, berorientasi nilai, dan mengutamakan kompetisi, sehingga jauh dari ajaran luhur Ki Hadjar Dewantara (KHD), demikian yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Cahyono Agus Dwi Koranto, M.Sc, selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Keluarga Besar Taman Siswa (PP PKBTS) kepada KAGAMA belum lama ini, demikian halnya, salah satu anggota Majelis Luhur Taman Siswa, Ki Priyo Dwiyarso mengatakan pendidikan sejatinya membiarkan anak tumbuh sendiri.

“Sekolah ibarat taman, belum saatnya berbunga, jangan dipaksa untuk berbunga. Ini sama saja menyalahi kodratullah. Anak harus tumbuh sesuai dengan reformasi pendidikan,  konsep pendidikan KHD berorientasi pada gerakan emic (pendekatan budaya) Banyak orang menyebut KHD sebagai pakar emic dunia. Konsep pendidikan di Finlandia mempunyai kemiripan dengan ajaran luhur KHD, kini negara tersebut menjuarai mutu pendidikan dunia. “Dibandingkan dengan Jepang dan Finlandia, pendidikan di Indonesia memberikan materi pelajaran yang relatif sulit. Untuk itu, revitalisasi pendidikan KHD begitu penting, karena ajaran-ajaran luhurnya berbasis jati diri bangsa dan kodrat alam, sehingga anak senang belajar dengan sendirinya. Menurut Ki Prof. Cahyono Agus sebagai Ketum PP PKBTS menyampaikan bahwa  saat ini adalah momen yang sangat tepat bagi Tamansiswa untuk Gumregah, Nyawiji menjadi cucuk lampah pendidikan nasional kembali. Menurut Guru Besar UGM tersebut, saat ini pemerintah Indonesia sedang berupaya untuk melakukan perubahan besar-besaran pada Sistem Pendidikan Nasional Indonesia dan pengembangan SDM Indonesia. Pihaknya sedang membuat reformulasi konsep ajaran luhur Ki Hadjar Dewantara, dengan membuat saran kebijakan kepada pemerintah.

Menurut Drs. H. Pardimin, Ph.D., bisa dikatakan Merdeka Belajar ini merupakan konsep lama dari Tamansiswa yang diaktualisasikan kembali oleh Mendikbud. Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa siap berkoordinasi dan berkontribusi urun rembug terkait kebijakan-kebijakan agar konsep Merdeka Belajar dari Mendikbud menjadi lebih baik lagi.

Drs. H.M. Idham Samawi mengatakan, mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu dari cita-cita Indonesia Merdeka yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Ini merupakan buah pemikiran dan usulan dari Ki Hadjar Dewantara sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). “Jadi pendidikan merupakan perintah dari konstitusi UUD 1945,” katanya.

Menurut Drs. H.M. Idham Samawi, ajaran Tamansiswa memang banyak terkait dengan pendidikan, namun jangan sampai lupa bahwa hal yang paling spesifik dari ajaran Tamansiswa adalah tentang kebangsaan. “Pendidikan di Indonesia harus mampu mencetak calon-calon pemimpin bangsa yang punya jiwa nasionalisme yang tinggi,” katanya.

Prof. Nizam mengatakan, pesatnya kemajuan teknologi menyebabkan perkembangan dunia menjadi sangat cepat. Hal ini perlu diikuti juga dengan perkembangan paradigma pendidikan, yang harus bisa memerdekakan individu (peserta didik) melalui pemanfaatan teknologi. “Konsep Kampus Merdeka perlu terus didorong di era disrupsi saat ini. Untuk membekali mahasiswa keterampilan yang dibutuhkan, salah satunya bisa ditempuh melalui program magang,” katanya.

Prof Didi Achjari mengatakan, meski perguruan tinggi terutama yang negeri diberi kebebasan dalam membuka sebuah program studi, namun hal itu harus tetap dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi perguruan tinggi swasta (PTS) dan masyarakat. “Meskipun permintaan dunia kerja sangat tinggi terhadap satu profesi, tapi untuk membuka prodi baru banyak aspek yang perlu diperhatikan. Perlu ada regulator yang mengaturnya,” katanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

Lembaga-lembaga pendidikan Taman siswa sekarang sudah banyak yang menjadi Leading di tingkat Perguruan Tinggi sampai ke tingkat Pendidikan Usia Dini, diberbagai daerah maupun di tingkat nasional. Perguruan Taman Siswa memiliki peranan yang cukup besar terhadap perkembanganpendidikan nasional di Indonesia, yakni menanamkan semangat kebangsaan serta sikap anti penjajahan. Persoalannya sekarang adalah bagaimana menyesuaikan asas-asas yang dicetuskan dalam zaman penjajahan itu dengan kondisi sekarang. Tamansiswa, , harus berubah sesuai dengan tuntutan jaman, namun tetap berpegang teguh pada khithah ajaran luhur Ki Hadjar Dewantara (KHD). Tamansiswa akan lebih berperan aktif dan berkontribusi nyata untuk pengembangan kebijakan pemerintah . Hal tersebut dilaksanakan melalui pembuatan lebih banyak saran kebijakan tentang pembaharuan pendidikan nasional yang kembali pada khithah budaya luhur sendiri, yang berakar kuat pada peradaban kebudayaan dan kebangsaan sendiri.

“Pengembangan konsep implementatif akan disinergiskan dengan program pemerintah pusat dan daerah, seperti pengembangan sistem among, metode pendidikan yang menyenangkan, Sari Swara serta mendidik otak-hati-tangan secara asah-asih-asuh pada Tri-pusat pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat, formal, in-formal, non formal) sesuai ajaran KHD. Begitu luhur ajaran serta konsep yang diajarkan oleh Ki Hdjar Dewantara dan sangat relevan dengan Pendidikan di Jaman modern saat ini, tidak using di telan waktu dan roda perubahan. Semoga Kemajuan Pendidikan di Indonesia dan Taman Siswa secara khusus sesuai dengan konsep dan ajaran Ki Hadjar Dewantara menuju tercapainya Tujuan Pendidikan Nasional Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/10/31/hari-pendidikan-dan-warisan-sang-pahlawan-pendidikan

https://www.kompasiana.com/romi_febriyanto_saputro/5ad9ba9dbde575614c376d43/ki-hajar-dewantara-pendidikan-dan-kebudayaan?page=all

https://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Taman_Siswa

https://satupersen.net/blog/masalah-sistem-pendidikan-saat-ini

https://www.kompas.com/skola/read/2020/12/21/173543969/sejarah-taman-siswa-pendirian-dan-ajarannya?page=all

http://kagama.co/pendidikan-indonesia-perlu-berkaca-pada-ajaran-luhur-ki-hadjar-dewantara

https://www.ustjogja.ac.id/id/berita/121-merdeka-belajar-sejalan-dengan-ajaran-tamansiswa

 

 

 

Komentar