KETERCAPAIAN TUJUAN PENDIDIKAN TAMANSISWA
Oleh : AKHMAD ARIFIN
PENDAHULUAN
SEJARAH
TAMAN SISWA
Perguruan
Taman Siswa didirikan pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Perguruan ini kemudian
berkembang luas baik di dalam maupun di luar Pulau Jawa, seperti Sumatra, Bali,
Sulawesi, Kalimantan, dan Ambon. Tujuan Perguruan Taman Siswa itu adalah menuju
Indonesia merdeka, demi terwujudnya masyarakat tertib dan damai. Menurut Ki
Hadjar Dewantara, Pendidikan Nasional Taman Siswa adalah antitesa terhadap
sistem pendidikan bangsa kolonial yang bersifat regering,
tucht, orde(perintah,
hukuman, dan ketertiban). Pendidikan seperti ini yang mengekang dan menindas
anak-anak. Singkatnya didirikan taman siswa ini sebagai bentuk pembentukan
karakter bumiputera pelajar di Indonesia. Dikarenakan sistem pendidikan masa
kolonial yang sangat mengekang dan hanya ditunjukan untuk mendapat ijazah dan
menghasilkan kaum siap kerja. Dasar pemikiran di balik pembangunan Taman Siswa
memang bertujuan membentuk karakter siswa yang berasas nasionalisme. Maka tidak
heran bahwa sedari awal pembangunannya, Taman Siswa sudah menyatakan diri
sebagai Lembaga Pengajaran Nasional. Dalam pelaksanaan kegiatan ajar, Taman
Siswa menyelenggarakan sistem pendidikan yang dapat membentuk karakter siswa
berlandaskan budaya bangsa. Salah satu tujuannya adalah mempercepat kemerdekaan
yang sejak lama dicita-citakan kaum nasionalis.
Perguruan
Taman Siswa juga didirikan untuk menampung minat masyarakat Hindia yang ingin
bersekolah namun terkendala oleh berbagai hal, termasuk status sosial. Sebab,
pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Hindia Belanda saat itu lebih
diperuntukkan bagi kaum bangsawan maupun pangreh praja (pegawai pemerintah),
sehingga rakyat jelata tidak bisa bersekolah. Kehadiran Perguruan Taman Siswa
membuka kesempatan bagi semua orang untuk bisa bersekolah secara mudah dan
murah. Mudah karena tidak ada persyaratan-persyaratan khusus, sedangkan murah
dalam artian biayanya terjangkau oleh semua golongan. Tidak mengherankan bila
dalam kurun waktu delapan tahun (1922-1930) jumlah Perguruan Taman Siswa telah
mencapai 100 cabang dengan jumlah puluhan ribu murid. Perguruan Taman Siswa
memiliki pedoman bagi seorang guru yang disebut Patrap Triloka dan Tripusat.
Konsep yang sangat populer ini dikembangkan oleh Suwardi setelah ia mempelajari
sistem pendidikan progresif yang diperkenalkan oleh Maria Montessori dan
Rabindranath Tagore. Unsur-unsur dari Patrap Triloka yang menjadi dasar kerja
seorang guru sebagai berikut:
- Ing ngarsa sung tuladha (di
depan memberi teladan)
- Ing madya mangun karsa (di
tengah membangun karsa/semangat/kemauan)
- Tut wuri handayani (dari
belakang mendukung)
Konsep
Tri No ini relevan untuk praktik pendidikan sekolah atau guru, yaitu nonton,
niteni dan nirokke. Nonton, nonton di sini adalah secara pasif dengan segenap
panca indera. Niteni, adalah menandai, mempelajari, mencermati apa yang
ditangkap panca indera, dan Nirokke yaitu menirukan yang positif untuk bekal
menghadapi perkembangan anak. Sedangkan konsep selanjutnya, yaitu Tri Pusat
Pendidikan: (1) pendidikan keluarga; (2) pendidikan dalam alam perguruan; dan
(3) pendidikan dalam alam pemuda atau masyarakat. Kesempurnaan pendidikan dalam
masyarakat akan terwujud apabila orang-orang yang berkepentingan, yaitu
orangtua, tokoh masyarakat, guru-guru dengan anak atau pemuda, bersatu paham, misal
dalam bidang agama, bidang politik, dalam kebangsaan, sehingga sistem Tri Pusat
Pendidikan itu akan tercapai. Terwujudnya Tri Pusat Pendidikan akan melahirkan
calon-calon pemimpin bangsa ini yang berkarakter Ing Ngarsa Sung Tulodho, Ing
Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. Menurut
Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya
anak-anak. Adapun maksudnya pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat
yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat
dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Demi
kepandaian, keterampilan, dan keluhuran budi pekerti para siswa-siswinya, para
Pamong/Guru ikhlas dan rela berkorban untuk bekerja keras, disiplin, penuh
tanggung jawab mendidik dan mengajar siswa-siswinya. Abudin Nata (2005)
mengungkapkan bahwa menurut Ki Hadjar pendidikan budi pekerti bukanlah
mengajarkan teori-teori tentang baik buruk dengan dalil-dalinya yang serba
menjelimet, yang ia kehendaki dengan pendidikan budi pekerti adalah pembiasaan
berbuat baik pada diri anak dalam kehidupan sehari-hari, hingga mendarah
daging, dan kalaupun ada penjelasan dan keterangan, tapi hal yang demikian
dilakukan hanya sebagi penguat, alat dan bukan tujuan. Selain itu,
pendidikan budi pekerti harus bersifat integrated dengan
pengajaran pada setiap bidang studi. Atau dengan kata lain, Ki Hadjar
menginginkan bahwa pada setiap pengajaran bidang studi apapun harus
mengintegrasikannya dengan pendidikan budi pekerti, dan tidak berhenti pada
pengajaran mata pelajaran tersebut.
Ki
Hadjar juga menyatakan terhadap anak-anak kecil cukuplah kita membiasakan
mereka untuk bertingkah laku yang baik, sedangkan bagi anak-anak yang sudah
dapat berfikir, seyogyanya diberikan keterangan-keterangan yang perlu, agar
mereka dapat pengertian dan keinsyafan tentang kebaikan dan keburukan pada
umumnya. Barang tentu perlu juga kepada anak-anak dewasa kita berikan
anjuran-anjuran untuk melakukan pelbagai laku yang baik dengan cara disengaja.
Dengan begitu maka syarat pendidikan budi pekerti yang dahulu biasa disebut
metode menyadari, menginsyafi dan melakukan dapat terpenuhi.
Pendidikan
dan kebudayaan adalah dua sisi dari mata uang yang sama.
Kebudayaan menurut Ki Hadjar Dewantara sebagaimana dikutip Ki Sunarno
Hadiwijoyo(2006) adalah buah budi dan hasil perjuangan hidup
manusia. Sebagai buah budi manusia kebudayaan digolongkan menjadi tiga yaitu
pertama, buah pikiran, seperti : ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan dan
pengajaran, filsafat, dan sejenisnya. Kedua, buah perasaan, yaitu segala
yang bersifat indah, luhur, baik, benar, adil, seperti: adat istiadat (etika),
seni (estetika), relegiusitas, dan sejenisnya. Ketiga, Buah kemauan, yaitu
semua cara perbuatan dan usaha manusia, contohnya aturan, hukum, perundang
undangan, tata cara, perdagangan, perindustrian, pertanian dan sejenisnya. Menguatkan
pendidikan artinya memajukan kebudayaan. Membangun kebudayaan adalah proses
memajukan pendidikan. Inilah intisari dari ajaran Ki Hajar Dewantara dalam
membangun manusia Indonesia seutuhnya. Menjadi manusia yang berbudi pekerti
luhur. Budi pekerti inilah yang nanti menjadi pondasi dalam mencerdaskan anak
bangsa. Cerdas tanpa landasan budi pekerti luhur adalah cerdas imitasi.
Kecerdasan yang tidak akan memberi manfaat kepada lingkungan sekitar.
Dalam
buku Menuju Manusia Merdeka (2009), Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa
pemeliharaan kebudayaan harus bertujuan memajukan dan menyesuaikan kebudayaan
dengan setiap pergantian alam dan zaman. Memasukkan kebudayaan lain yang tidak
sesuai dengan alam dan zamannya merupakan pergantian kebudayaan yang menyalahi
tuntunan kodrat dan masyarakatnya dan hal ini membahayakan. Kemajuan
kebudayaan harus berupa kelanjutan langsung dari kebudayaan nasional menuju kea
rah kesatuan kebudayaan dunia dan tetap mempunyai sifat kepribadian dalam
lingkungan kemanusiaan sedunia.
Ki Hadjar Dewantara dan Prinsip serta Konsep
Pendidikan
Ki Hadjar
Dewantara adalah nama
alias untuk Raden Mas Soewardi Soerjaningrat sejak 1922. Lahir pada 1889,
tanggal kelahirannya ditetapkan jadi Hari Pendidikan Nasional, yaitu setiap 2
Mei. Penelusuran Kompas.com mendapati penetapan Hari Pendidikan Nasional ini
muncul di Keputusan Presiden Nomor 316 tahun 1959 dan aturan lain sesudah itu
yang merujuk kepada aturan tersebut. Merujuk harian Kompas edisi 2 Mei 1968,
penetapan tersebut merupakan bentuk penghargaan Pemerintah atas jasa Ki Hadjar
Dewantara yang telah
memelopori sistem pendidikan nasional berbasis kepribadian dan kebudayaan
nasional. Penggunaan nama alias pada 1922 bertepatan dengan langkah Ki Hadjar
Dewantara mendirikan sekolah Taman Siswa di Yogyakarta. Sejak itu, kiprahnya
di dunia pendidikan terus berlanjut, sejalan dengan semangatnya melawan
penjajahan.
1.
Lawan sastra ngesti mulya
Terjemahan bebasnya, "dengan pengetahuan kita
menuju kemuliaan". Penjelasan poin ini mencakup pula frasa lain, yaitu
sastra herjendrayuningrat pangruwating dyu, yang terjemahannya, "ilmu yang
luhur dan mulia menyelamatkan dunia serta melenyapkan kebiadaban".
2.
Suci tata ngesti tunggal
Penjelasan bebasnya, "dengan suci batinnya,
tertib lahirnya menuju kesempurnaan".
3.
Hak diri untuk menuntut salam dan bahagia
Merujuk situs web tersebut, fatwa ini menjelaskan
bahwa bagi Tuhan semua manusia itu pada dasarnya sama, sama haknya dan sama
kewajibannya, sama haknya mengatur hidupnya serta sama haknya menjaIankan
kewajiban kemanusiaan untuk mengejar keselamatan hidup lahir dan bahagia daIam
hidup batinnya. Intinya, jangan kita hanya mengejar keselamatan lahir, dan jangan
pula hanya mengejar kebahagiaan hidup batin.
4.
Salam bahagia diri tidak boleh menyalahi damainya masyarakat
Penjelasan fatwa ini, ”Sebagai peringatan, bahwa
kemerdekaan diri kita dibatasi oleh kepentingan keselamatan masyarakat. Batas
kemerdekaan diri kita iaIah hak-hak orang lain yang seperti kita masing-masing
sama-sama mengejar kebahagiaan hidup. Segala kepentingan bersama harus
diletakkan di atas kepentingan diri masing-masing akan hidup selamat dan
bahagia, apabila masyarakat kita terganggu, nggak tertib dan damai. Janganlah
mengucapkan 'hak diri' kalo nggak bersama-sama dengan ucapan 'tertib damainya
masyarakat', agar jangan sampai hak diri itu merusak hak diri orang lain sesama
kita, yang berarti merusak keselamatan hidup bersama, yang juga merusak kita
masing-masing.
5.
Kodrat alam penunjuk untuk hidup sempurna
Sebagai pengakuan bahwa kodrat alam, yaitu segala
kekuatan dan kekuasaan yang mengelilingi dan melingkungi hidup kita itu adalah
sifat lahirnya kekuasaan Tuhan yang Maha Kuasa, yang berjalan tertib dan
sempuma di atas segala kekuasaan manusia. Janganlah hidup kita bertentangan
dengan ketertiban kodrat alam. Petunjuk dalam kodrat alam kita jadikan pedoman
hidup kita, baik sebagai alam kita jadikan pedoman hidup kita, baik sebagai
orang seorang atau individu, sebagai bangsa, maupun sebagai anggota dari alam
kemanusiaan.
6.
Alam hidup manusia adalah alam hidup berbulatan
Penjelasannya, bahwa hidup kita masing-masing itu ada
dalam lingkungan berbagai alam-alam khusus, yang saling berhubungan dan
berpengaruh. Alam khusus tersebut adalah alam diri, alam kebangsaan, dan alam
kemanusiaan. Rasa diri, rasa bangsa, dan rasa kemanusiaan, ketiga-tiganya hidup
dalam tiap-tiap sanubari kita masing-masing manusia, yang nggak dapat
dipungkiri keberadaannya.
7.
Dengan bebas dari segala ikatan dan suci hati berhambalah kita kepada sang anak
Dalam mendidik, penghambaan kepada sang anak nggak
lain daripada penghambaan kita sendiri. Sungguh pun pengorbanan kita itu kita
tujukan kepada sang anak, tetapi yang memerintahkan kita dan memberi titah
untuk berhamba dan berkorban itu bukan si anak, melainkan diri kita
masing-masing. Di samping itu kita menghambakan diri kepada bangsa, negara,
pada rakyat, dan agama, atau terhadap lainnya. Semua itu nggak lain penghambaan
pada diri sendiri, untuk mencapai rasa bahagia dan rasa damai dalam jiwa kita
sendiri.
8.
Tetep–mantep–antep
Dalam melaksanakan tugas perjuangan kita, kita harus
memiliki ketetapan hati (tetep), termasuk tekun bekerja, nggak menoleh ke kanan
dan ke kiri. Kita harus tetap tertib dan berjalan maju. Kita harus selalu
mantep, setia dan taat pada asas itu, teguh iman hingga nggak ada yang akan
dapat menahan gerak kita atau membelokkan aliran kita. Sesudah kita tetap dalam
gerak lahir kita, lalu mantep dan tabah batin kita, segala perbuatan kita akan
antep, yaitu berat berisi dan berharga, nggak mudah dihambat, ditahan-tahan,
dan dilawan oleh orang lain.
9.
Ngandel–kendel–bandel
Kita harus ngandel, percaya, kepada kekuasaan Tuhan
dan percaya kepada diri sendiri. Kendel, berani, nggak ketakutan dan was-was
oleh karena kita percaya kepada Tuhan dan kepada diri sendiri. Bandel, yang
berarti tahan dan tawakal. Dengan demikian maka kita jadi kendel, tebal, kuat
lahir batin kita, berjuang untuk cita-cita kita.
10.
Neng-ning–nung–nang
Dengan meneng (neng), tenteram lahir batin, nggak
nervous, kita jadi wening (ning), bening, jernih pikiran kita, mudah membedakan
mana yang benar dan mana yang salah, lalu kita jadi hanung (nung), kuat
sentosa, kokoh lahir dan batin untuk mencapai cita-cita, hingga akhirnya menang
(nang) dan mendapat wewenang, berhak dan kuasa atas usaha kita.
PEMBAHASAN
TAMAN SISWA DAN KETERCAPAIANYA PENDIDIKAN INDONESIA
SEKARANG
Taman Siswa (Taman berarti tempat bermain atau
tempat belajar, dan Siswa berarti murid) adalah nama sekolah
yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta .Pada waktu pertama kali didirikan, sekolah
Taman Siswa ini diberi nama "National Onderwijs Institut Taman
Siswa", yang merupakan realisasi gagasan dia bersama-sama dengan teman di
paguyuban Sloso Kliwon. Sekolah Taman Siswa ini sekarang berpusat di balai
Ibu Pawiyatan (Majelis
Luhur) di Jalan Taman
Siswa, Yogyakarta, dan mempunyai 129 sekolah cabang di berbagai kota di
seluruh Indonesia. Prinsip dasar dalam sekolah/pendidikan Taman Siswa yang
menjadi pedoman bagi seorang guru dikenal sebagai Patrap
Triloka. Konsep ini
dikembangkan oleh Suwardi setelah ia mempelajari sistem pendidikan progresif
yang diperkenalkan oleh Maria
Montessori (Italia)
dan Rabindranath Tagore (India/Benggala). Patrap Triloka memiliki unsur-unsur (dalam bahasa
Jawa) ing ngarsa sung tulada "yang di depan memberi
teladan", ing madya mangun karsa "(yang) di tengah
membangun kemauan/inisiatif", tut wuri handayani "dari belakang mendukung".
Ajaran Taman Siswa Organisasi Taman Siswa mengajarkan
tentang dasar-dasar kemerdekaan bagi masyarakat pribumi Indonesia. Ajaran
kemerdekaan yang dimaksud Taman Siswa adalah kemerdekaan yang berasal dari diri
sendiri. Pendidikan di Taman Siswa selalu menekankan kepada siswanya untuk
tidak bergantung kepada orang lain dan tetap berpegang teguh pada prinsip berdikari
(berdiri di kaki sendiri), lembaga lembaga yang ada di taman
siswa untuk setiap jenjang sudah ada dari jaman Ki Hadjar Dewantara mendidikan
lembaga Taman Siswa, lembaga tersebut adalah:
- Taman
Indria atau Taman kanak-kanak (TK) dalam sistem pendidikan Taman
Siswa
- Taman
Muda atau Sekolah Dasar (SD) dalam sistem pendidikan Taman
Siswa
- Taman
Dewasa atau Sekolah Menegah Pertama (SMP)
- Taman
Madya atau Sekolah Menengah Atas (SMA)
- Taman
Guru atau Sarjana Wiyata atau Universitas (Universitas)
Saat ini, sistem pendidikan di Indonesia yang dijalankan adalah
sistem pendidikan Nasional.
Jika sebelumnya wajib belajar bagi masyarakat Indonesia ditetapkan selama 9 tahun,
meliputi 6 tahun untuk sekolah dasar dan 3 tahun untuk sekolah menengah
pertama, sekarang wajib belajar 12 tahun. Tujuan pendidikan nasional tentunya
sangat penting untuk Bangsa Indonesia. Pendidikan Nasional Menurut
Undang-undang No.20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 2 adalah pendidikan yang
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan
tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pendidikan nasional
dilaksanakaan sejak Sekolah Dasar hingga jenjang Perguruan Tinggi. Salah satu
program yang dijalankan oleh pemerintah dalam mendukung program pendidikan
nasional ini adalah wajib belajar 12 tahun, yang mana pendidikan dimulai dari
jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan menengah atas. Hal ini tentunya
dilakukan agar seluruh generasi penerus bangsa dapat menenerima dan mengikuti
pendidikan yang layak, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional Indonesia.
Penting bagi semua orang untuk mengetahui tujuan pendidikan nasional, sebagai
proses evaluasi untuk sistem pendidikan nasional di Indonesia. Apalagi, pendidikan merupakan
salah satu faktor yang sangat penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Semakin maju
pendidikan, semakin maju pula negara tersebut.
Menurut
seorang tokoh psikologi Howard Gardner yang terkenal dengan teori Multiple
Intelligences, mengatakan kalau semua
orang tidak dilahirkan dengan semua kecerdasan. Gardner juga
menyebutkan ada delapan jenis kecerdasan: Linguistik, visual spasial, musikal,
kinestetik, logis-matematis, naturalis, interpersonal dan kecerdasan
intrapersonal. Dan semua orang pasti memiliki salah satu kecerdasan ini. Jadi sebenernya gak ada anak yang terlahir
bodoh atau pintar, yang ada adalah anak yang menonjol dalam satu atau beberapa
kecerdasan aja.
MASALAH SISTEM PENDIDIKAN SAAT INI
Membahas
masalah sistem pendidikan masih banyak sekali permasalahan yang masih ada.
Sejak tahun 2000 negara-negara di dunia termasuk Indonesia mengikuti tes PISA
setiap tiga tahun sekali. PISA (Programme for International Student
Assessment) adalah studi internasional tentang prestasi literasi
membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun. Dan data
terakhir tahun 2018 Skor PISA Indonesia termasuk dalam kategori rendah, yaitu
Indonesia ada di peringkat 70an dari 78 negara di masing-masing aspek penilaian
PISA (membaca, matematika, dan sains). Pada kenyataannya kondisi sistem
pendidikan di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Contohnya masih banyak
anak-anak Indonesia yang belum mendapatkan fasilitas sekolah yang layak.
Apalagi dengan situasi pandemi sekarang, kurikulum pembelajaran jarak jauh juga
ada beberapa kendalabagi siswa yang ada di daerah. Karena kondisi yang
mengharuskan siswa belajar dari rumah juga banyak menimbulkan masalah baru. Menurut
Neil deGrasse Tyson sistem pendidikan belum bisa mencapai tujuannya karena hal
yang diutamakan di sekolah itu hanya sebatas nilai tinggi. Mungkin ini jadi masalah pendidikan yang
pertama, sekolah terlalu mementingkan IPK atau nilai, tetapi pada kenyataanya
kehidupan tidak hanya mementingkan nilai, karena nilai tinggi di sekolah
tidak menjamin orang itu akan selalu
sukses. Banyak orang yang tidak mendapatkan nilai tinggi di sekolah tetapi mempunyai
kehidupan yang sukses, contohnya Albert Einstein.
Masalah yang kedua adalah
sekolah hanya menjelaskan “Apa” bukan “Kenapa”.
Belajar Matematika integral, Fisika hukum newton, Geografi lapisan batuan bumi
dan lain-lain, tanpa mengetahui mengapa harus diajarkan dan mengapa harus
belajar hal tersebut, belum lagi pada proses pengajarannya belum banyak
mengarah mengapa tetapi apa. Hal itu
emunculkan permasalahan ketiga yaitu sekolah membunuh kreativitas muridnya. Murid
dipaksa harus mempelajari hal yang sama sama semua orang, kapan dia harus
belajar juga diatur dan murid juga harus mencapai standar yang sama. Dan juga
semua siswa dari latar belakang yang beda harus punya pencapaian sama,
contohnya UN semua anak dari berbagai latar belakang harus mencapai standar
yang sama untuk lulus. Menurut Sir Ken
Robinson, system seperti ini membunuh
kreativitas siswa dan berdampak minat siswa juga jadi berkurang. Permasalahan keempat adalah pelajaran yang
diajarkan di sekolah sebagian kurang relevan dengan kebutuhan untuk menjalani kehidupan. Banyak hal
yang dibutuhkan untuk kehidupan tapi tidak diajarin di sekolah, contohnya
adalah bagaiman cara membangun rasa percaya diri yang penting untuk kehidupan
tapi jarang di ajarkan. Banyak orang yang bertalenta tapi gak bisa menunjukan
talentanya karena gak percaya diri. Begitupun sebaliknya banyak orang yang
sebenernya tidak mempunyai talenta menonjol
tetapi bisa sukses karena percaya diri. Hal yang penting lain public speaking
yang betul, atau cara mengatur keuangan, leadership atau yang lain lagi. Itu
sangat penting untuk keberlangsungan hidup.
Sebenarnya masih banyak lagi masalah dari sistem
pendidikan saat ini. Nah, pertanyaannya adalah apakah bisa sekolah menyiapkan
siswa-siswanya untuk terjun langsung ke dunia nyata kalau empat masalah ini
masih ada? Di awal tulisan ini skor PISA
Indonesia yang tergolong rendah, hal ini menunjukan bahwa siswa yang sudah
lulus sekolah belum bisa siap untuk menjalani kehidupan. Belum siap untuk
beradaptasi dengan dunia pekerjaan, atau mungkin belum siap untuk menghadapi
kemajuan iptek dengan maksimal. Karena PISA itu tidak menilai pencapaian siswa
lewat hafalan saja, tapi fokus ke
gimana siswa itu bisa siap dalam menjalani kehidupan. Siswa harus siap
menghadapi tantangan di masa depan dengan kemajuan iptek. Ketika robot sudah
bisa menggantikan pekerjaan manusia apakah bisa siswa Indonesia beradaptasi?
Siswa juga harus punya penalaran
logika yang baik setelah lulus sekolah. Karena ini merupakan hal
yang mendasar saat seseorang mempelajari sesuatu. Kalau logikanya kurang baik
maka pelajaran apapun tidak bisa diterima dengan baik juga. Dan siswa harus
punya kapasitas untuk terus belajar selama hidupnya. Kalau sistem pendidikan
bisa mewujudkan aspek-aspek di atas sistem pendidikan bisa dikatakan berhasil
membentuk siswa yang siap tempur di pasar industri kayak sekarang. Kenyataannya
banyak pengangguran, bahkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
memprediksi pada 2021 angka pengangguran bisa mencapai 12,7 juta orang. Hal ini
kenapa bisa terjadi? Karena banyak orang yang gak punya skill yang dibutuhkan
sama industri sekarang. Ada
kesenjangan antara apa yang kita pelajari dengan apa yang dibutuhkan dunia saat
ini. Dan bisa dikatakan apa yang kita pelajari di sekolah itu belum
sinkron dengan kebutuhan dunia industri sekarang. Banyak skill-skill baru yang
dibutuhkan di industri sekarang tapi SDM yang ada itu belum memadai untuk
memenuhi kebutuhan industri. Karena skill-skill yang dibutuhkan itu belum
diajarkan di sekolah. Dari gambaran
tersebut dibutuhkan evaluasi dan perlu
perubahan sistem pendidikan di Indonesia yang ada saat ini. Hal ini
supaya sistem pendidikan yang ada itu bisa lebih relevan dan efektif untuk
diaplikasikan di abad ini. Bisa dikatakan kurikulum yang ada sekarang itu belum tepat untuk bisa membentuk
siswanya dalam menjalani kehidupan sekarang. Sistem pendidikan nasional
saat ini dinilai cenderung memaksa anak patuh pada guru, berorientasi nilai,
dan mengutamakan kompetisi, sehingga jauh dari ajaran luhur Ki Hadjar Dewantara
(KHD), demikian yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Cahyono Agus Dwi Koranto,
M.Sc, selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Keluarga Besar Taman Siswa
(PP PKBTS) kepada KAGAMA belum lama ini, demikian halnya, salah satu anggota
Majelis Luhur Taman Siswa, Ki Priyo Dwiyarso mengatakan pendidikan sejatinya
membiarkan anak tumbuh sendiri.
“Sekolah ibarat
taman, belum saatnya berbunga, jangan dipaksa untuk berbunga. Ini sama saja
menyalahi kodratullah. Anak harus tumbuh sesuai dengan reformasi pendidikan, konsep pendidikan KHD berorientasi pada gerakan
emic (pendekatan budaya) Banyak orang menyebut KHD sebagai pakar emic dunia. Konsep
pendidikan di Finlandia mempunyai kemiripan dengan ajaran luhur KHD, kini
negara tersebut menjuarai mutu pendidikan dunia. “Dibandingkan dengan Jepang
dan Finlandia, pendidikan di Indonesia memberikan materi pelajaran yang relatif
sulit. Untuk itu, revitalisasi pendidikan KHD begitu penting, karena
ajaran-ajaran luhurnya berbasis jati diri bangsa dan kodrat alam, sehingga anak
senang belajar dengan sendirinya. Menurut Ki Prof. Cahyono Agus sebagai Ketum
PP PKBTS menyampaikan bahwa saat ini adalah momen yang sangat tepat bagi
Tamansiswa untuk Gumregah, Nyawiji menjadi cucuk lampah pendidikan nasional
kembali. Menurut Guru Besar UGM tersebut, saat ini pemerintah Indonesia sedang
berupaya untuk melakukan perubahan besar-besaran pada Sistem Pendidikan Nasional
Indonesia dan pengembangan SDM Indonesia. Pihaknya sedang membuat reformulasi
konsep ajaran luhur Ki Hadjar Dewantara, dengan membuat saran kebijakan kepada
pemerintah.
Menurut Drs. H. Pardimin, Ph.D., bisa dikatakan
Merdeka Belajar ini merupakan konsep lama dari Tamansiswa yang diaktualisasikan
kembali oleh Mendikbud. Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa siap berkoordinasi
dan berkontribusi urun rembug terkait kebijakan-kebijakan agar
konsep Merdeka Belajar dari Mendikbud menjadi lebih baik lagi.
Drs.
H.M. Idham Samawi mengatakan, mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah
satu dari cita-cita Indonesia Merdeka yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.
Ini merupakan buah pemikiran dan usulan dari Ki Hadjar Dewantara sebagai
anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). “Jadi
pendidikan merupakan perintah dari konstitusi UUD 1945,” katanya.
Menurut Drs. H.M. Idham Samawi, ajaran Tamansiswa
memang banyak terkait dengan pendidikan, namun jangan sampai lupa bahwa hal
yang paling spesifik dari ajaran Tamansiswa adalah tentang kebangsaan.
“Pendidikan di Indonesia harus mampu mencetak calon-calon pemimpin bangsa yang
punya jiwa nasionalisme yang tinggi,” katanya.
Prof. Nizam mengatakan, pesatnya kemajuan teknologi
menyebabkan perkembangan dunia menjadi sangat cepat. Hal ini perlu diikuti juga
dengan perkembangan paradigma pendidikan, yang harus bisa memerdekakan individu
(peserta didik) melalui pemanfaatan teknologi. “Konsep Kampus Merdeka perlu
terus didorong di era disrupsi saat ini. Untuk membekali mahasiswa keterampilan
yang dibutuhkan, salah satunya bisa ditempuh melalui program magang,” katanya.
Prof Didi Achjari mengatakan, meski perguruan tinggi
terutama yang negeri diberi kebebasan dalam membuka sebuah program studi, namun
hal itu harus tetap dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait agar tidak
menimbulkan dampak buruk bagi perguruan tinggi swasta (PTS) dan masyarakat.
“Meskipun permintaan dunia kerja sangat tinggi terhadap satu profesi, tapi
untuk membuka prodi baru banyak aspek yang perlu diperhatikan. Perlu ada
regulator yang mengaturnya,” katanya.
PENUTUP
Lembaga-lembaga
pendidikan Taman siswa sekarang sudah banyak yang menjadi Leading di tingkat
Perguruan Tinggi sampai ke tingkat Pendidikan Usia Dini, diberbagai daerah
maupun di tingkat nasional. Perguruan Taman
Siswa memiliki peranan yang
cukup besar terhadap perkembanganpendidikan nasional
di Indonesia, yakni
menanamkan semangat kebangsaan serta sikap anti penjajahan. Persoalannya
sekarang adalah bagaimana menyesuaikan asas-asas yang dicetuskan dalam zaman
penjajahan itu dengan kondisi sekarang. Tamansiswa, , harus berubah sesuai dengan tuntutan
jaman, namun tetap berpegang teguh pada khithah ajaran luhur Ki Hadjar
Dewantara (KHD). Tamansiswa akan lebih berperan aktif dan berkontribusi nyata
untuk pengembangan kebijakan pemerintah . Hal tersebut dilaksanakan melalui
pembuatan lebih banyak saran kebijakan tentang pembaharuan pendidikan nasional
yang kembali pada khithah budaya luhur sendiri, yang berakar kuat pada
peradaban kebudayaan dan kebangsaan sendiri.
“Pengembangan
konsep implementatif akan disinergiskan dengan program pemerintah pusat dan
daerah, seperti pengembangan sistem among, metode pendidikan yang menyenangkan,
Sari Swara serta mendidik otak-hati-tangan secara asah-asih-asuh pada Tri-pusat
pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat, formal, in-formal, non formal)
sesuai ajaran KHD. Begitu luhur ajaran serta konsep yang diajarkan oleh Ki
Hdjar Dewantara dan sangat relevan dengan Pendidikan di Jaman modern saat ini,
tidak using di telan waktu dan roda perubahan. Semoga Kemajuan Pendidikan di
Indonesia dan Taman Siswa secara khusus sesuai dengan konsep dan ajaran Ki
Hadjar Dewantara menuju tercapainya Tujuan Pendidikan Nasional Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/10/31/hari-pendidikan-dan-warisan-sang-pahlawan-pendidikan
https://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Taman_Siswa
https://satupersen.net/blog/masalah-sistem-pendidikan-saat-ini
http://kagama.co/pendidikan-indonesia-perlu-berkaca-pada-ajaran-luhur-ki-hadjar-dewantara
https://www.ustjogja.ac.id/id/berita/121-merdeka-belajar-sejalan-dengan-ajaran-tamansiswa
Komentar
Posting Komentar