“KEMASYARAKATAN DAN AKTUALISASI KETAMANSISWAAN DALAM KEPEMIMPINAN MASYARAKAT DESA”
“KEMASYARAKATAN DAN
AKTUALISASI KETAMANSISWAAN DALAM KEPEMIMPINAN MASYARAKAT DESA”
Oleh :
Akhmad Arifin
Menurut Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 6 tahun2014 tentang Desa. Desa adalah desa dan desa adat
atauyang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa,adalah kesatuan
masyarakat hukum yang memiliki bataswilayah yang berwenang untuk mengatur dan
mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan
prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atauhak tradisional yang diakui dan
dihormati dalam sistempemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.Desa
merupakan subsistem dari keseluruhan yang lebih luas yang dinamakan negara.
Desa sebagai suatu sistem memiliki komponen baik fisik, manusia, maupun
kelembagaan sosial. Selain itu, lembaga sosial yang ada seperti kelompok tani,
kelompok pemuda, pemerintah desa, badan permusyaratan desa, pesantren, dan
lembaga pendidikan formal, serta lembaga keuangan mikro berkaitan erat dengan
peningkatan produksi pertanian dan kehidupan masyarakat setempat. Kelembagaan
tersebut berpengaruh terhadap distribusi dan peningkatan pendapatan masyarakat perdesaan.
Terbentuknya suatu desa tidak terlepas dari insting manusia, yang secara
naluriah ingin hidup bersama keluarga suami/istri dan anak, serta sanak
familinya, yang lazimnya memilih tempat kediaman bersama. Tempat kediaman dapat
berupa wilayah dengan berpindah-pindah, terutama pada kawasan tertentu hutan
atau areal lahan yang masih memungkinkan keluarga tersebut berpindah-pindah.
Hal ini masih dapat ditemukan pada beberapa suku asli di Sumatra, seperti kubu,
suku anak dalam, beberapa warga Melayu asli, juga di pulau lainnya di Nusa
Tenggara, Kalimantan, dan Papua.
Ada tiga alasan pokok bagi
seseorang untuk membentuk masyarakat, yaitu (1) hidup, yaitu mencari makan,
pakaian, dan perumahan; (2) untuk mempertahankan hidupnya terhadap berbagai
ancaman dari luar; dan (3) mencapai kemajuan dalam hidupnya. Gejala desa
pertama dibentuk, adalah desa pertanian, setelah membuka hutan dan mengolah
lahan untuk ditanami tumbuhan yang menghasilkan makanan dan bahan kebutuhan
lainnya. Selanjutnya, di tepi laut dan sungai-sungai besar terbentuk desa-desa
perikanan dan pelayaran (masyarakat pesisir) yang mendapat pencahariannya dalam
menangkap ikan, tambak, dan jasa pelayaran.
Desa merupakan bentukan dan
pengembangan konsep asli bangsa Indonesia, meskipun ada kemiripan dengan desadi
India yang bernuansa Hindu. Kehidupan masyarakat desaterikat pada nilai-nilai
budaya asli yang sudah diwariskansecara turun-menurun dan melalui proses
adaptasi yang sangatpanjang dari interaksi intensif, dengan perubahan
lingkunganbiofisik masyarakat. Kearifan lokal merupakan salah satu
aspekkarakteristik masyarakat, yang terbentuk melalui proses adaptasiyang
kondusif bagi kehidupan masyarakat, sehingga nilai-nilaiyang terkandung di
dalamnya dapat dipahami sebagai dasardalam pembangunan pertanian dan pedesaan. Masyarakat
dipandang sebagai sistem sosial, yaitu polainteraksi sosial yang terdiri atas
komponen sosial yang teraturdan melembaga. Karakteristik sebuah sistem sosial,
yaitu struktursosial yang mencakup susunan status dan peran yang ada disatuan
sosial yang memunculkan nilai-nilai dan norma yangakan mengatur interaksi
antarstatus dan peran sosial tersebut. Pada struktur sosial terdapat
unsur-unsur sosial yang pokok,misalnya kaidah-kaidah sosial, lembaga sosial,
dan lapisan sosial. Masyarakat selaku bagian dari struktur sosial akan
melakukantindakan sosial yang bertujuan untuk mencapai tujuan yangdiinginkan. Pembahasan
mengenai struktur tidak hanya berkaitan dengan aspek sosial, tetapi juga
mencakup aspek fisik dan biologis. Struktur dipahami sebagai susunan, sedangkan
struktur sosial diartikan sebagai pola yang mapan dari organisasi internal setiap
kelompok sosial interaksi sosial merupakan pola hubungan timbal balik
masyarakat antar individu dengan individu, antara individu dengan kelompok atau
antarkelompok dalam suatu komunitas masyarakat yang satu sama lain saling
memengaruhi. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak terlepas dari hubungan
satu dengan yang lainnya (interaksi sosial). Ia selalu beradaptasi dengan
lingkungannya sehingga kepribadian, kecakapan ciri-ciri kegiatannya baru menjadi
kepribadian individu yang sesungguhnya apabila system psikofisik tersebut
berhubungan dengan lingkungannya. Dalam interaksi sosial, manusia mempunyai dua
fungsi, yaitu sebagai keuntungan yang besar bagi manusia sebab dapat menimbulkan
subjek dan sebagai objek. Hal ini sebenarnya merupakan suatu kemajuan dalam
hidup bermasyarakat.
Ciri-ciri masyarakat desa Sementara, dikutip
dari Tradisi, Agama, dan Akseptasi Modernisasi Pada Masyarakat Pedesaan Jawa
(2016), Khairudin menjabarkan ciri desa dari masyarakatnya. Berikut ciri-ciri
masyarakat desa: Pekerjaan bersifat homogen atau sama. Masyarakat desa lebih
banyak bergantung pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Masyarakat
berukuran kecil. Jumlah penduduknya tidak sebanyak di kota. Pertumbuhannya juga
tidak masif. Ini dikarenakan penduduk desa harus mempertimbangkan keseimbangan
potensi alam. Kepadatan penduduk tergolong rendah. Rasio antara luas wilayah
dengan penduduknya kecil. Ini bisa terlihat dari rumah di desa yang masih punya
pekarangan dan tidak menempel dengan tetangganya. Lingkungan fisik, biologis,
dan sosial budaya masih terjaga dengan baik. Diferensiasi sosial rendah. Tak
banyak perbedaan antara warga satu dengan lainnya. Penduduknya punya kesamaan
dalam hal pekerjaan, adat istiadat, bahasa, bahkan hubungan kekerabatan.
Stratifikasi sosial yang tidak terlalu mencolok. Kelas atau tingkatan sosial
masyarakat desa tidak terlalu banyak dan lebar. Mobilitas sosial masyarakat
relatif rendah. Pekerjaan dan ikatan masyarakat yang terbatas membuat
masyarakat desa tak butuh kerap bepergian. Interaksi sosial masyarakat desa
lebih intensif. Komunikasinya juga bersifat personal sehingga antara satu
dengan yang lainnya saling mengenal. Solidaritas sosial pada masyarakat
pedesaan sangat kuat. Ini karena mereka punya kesamaan ciri, sosial, ekonomi,
budaya, dan tujuan hidup. Kontrol sosial masyarakat pedesaan dilakukan lewat
norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Ada sanksi sosial bagi masyarakat
yang melanggar. Tradisi lokal masyarakat desa masih kuat. Tradisi diturunkan
dari generasi ke generasi.
Kepala desa sebagai seorang pemimpin
dilingkup desa memiliki aspek-aspek kepribadiankhas/gaya kepemimpinan yang
dapat menunjangusahanya dalam mewujudkan hubungan yangbaik dengan anggota
masyarakatnya. “Gayakepemimpinan merupakan norma perilaku yangdigunakan oleh
seseorang pada saat mencobamempengaruhi perilaku orang lain” (Thoha,2001,
h.49). Kesuksesan atau kegagalan suatuorganisasi ditentukan oleh banyak hal,
yang salah satunya adalah kepemimpinan yangberjalan dalam organisasi
tersebut.Pemimpin yang sukses adalah apabila pemimpin tersebutmampu menjadi
pencipta dan penggerak bagi bawahannya dengan menciptakan suasana kerja yang
dapat memacu pertumbuhan dan mampu mengembangkan anggotanya serta mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Gaya kepemimpinan kepala desa erat hubungannya dengan
tujuan yang hendak dicapai oleh suatu pemerintahan desa. Oleh karena itu,
perilaku kepemimpinan kepala desa selalu dihubungkan dengan kegiatan kepala
desa dalam mengarahkan, memotivasi, menggerakkan anggotanya untuk mewujudkan
tujuan pemerintahan desa.Perilaku kepala desa selaku pemimpin yang harus
melaksanakan fungsi kepemimpinan di desa, diharapkan dapat melaksanakan
tugasnya dengan baik sebagai.
Kepemimpinan (leadership) adalah
kemampuan seseorang (yaitu pemimpin atau
leader) untuk memengaruhi orang lain tersebut bertingkah-laku
sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin tersebut. Kadang kala dibedakan antara
kepemimpinan sebagai kedudukan dan kepemimpinan sebagai suatu proses sosial.
Sebagai kedudukan, kepemimpinan merupakan suatu kompleks dari hak-hak dan
kewajiban-kewajiban yang dapat dimiliki oleh seseorang atau suatu badan. Sebagai suatu proses sosial,
kepemimpinan meliputi segala tindakan yang dilakukan seseorang atau sesuatu
badan yang menyebabkan gerak dari warga masyarakat.
Sesuai dengan ketentuan Undang-undang
Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa yang
berlaku dalam sistem pemerintahan Indonesia, bahwa kepala desa adalah kepala pemerintahan desa yang bertugas
menyelenggarakan pemerintahan desa,
melaksanakan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa dan pemberdayaan desa dan pemberdayaan masyarakat
desa. Maka salah satu tugas seorang
kepala desa adalah melaksanakan pembangunan.
Untuk dapat menjalankan perannya secara efektik dan efisien,
pemerintahan desa (kepala desa) perlu terus dikembangkan sesuai dengan kemajuan masyarakat desa dan lingkungan
sekitarnya. Dengan perkataan lain, perubahan
sosial yang terjadi pada masyarakat desa karena adanya gerakan pembangunan. Kepala desa adalah pemimpin yang
dipilih secara demokrasi maupun secara
tradisonal oleh warga yang mana ia adalah seorang wakil perpanjangan tangan dari masyarakat untuk
dapat mengatur, menjaga dan memotivasi
warganya dalam proses pembangunan di desa. Sehingga peran kepemimpinan kepala
desa sangatlah berpengaruh terhadap maju mundurnya dan berkembang atau tidak
suatu pembangunan desa. Masyarakat
sebagai salah satu subsistem suatu desa seharusnya dilibatkan dalam proses pembangunan di desa. Keterlibatan
itu dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan hingga tahap evaluasi hasil
pembangunan. Tanpa adanya keterlibatan masyarakat maka belum tentu pembangunan
tersebut dapat menjawab kebutuhan
masyarakat di wilayah tersebut. Peran serta masyarakat merupakan faktor penting
dalam pembangunan desa. Peran serta masyarakat yang tinggi dapat mewujudkan tujuan dari
pembangunan secara berdaya guna dan berhasil guna. Dalam pembangunan, partisipasi masyarakat
merupakan salah satu elemen proses pembangunan desa, oleh karena itu
partisipasi masyarakat dalam pembangunan perlu dibangkitkan terlebih dahulu
oleh pihak lain seperti pemerinatah desa
atau kepala desa, sehingga dengan adanya keterlibatan pemerintah desa besar, kemungkinan masyarakat
akan merasa diberi peluang atau kesempatan ikut serta dalam pembangunan, karena
pada dasarnya menggerakkan partisipasi
masyarakat desa merupakan salah satu pembangunan desa itu sendiri.
Partisipasi masyarakat merupakan suatu
hal yang muncul dari kesadaran masyarakat
untuk ikut turut serta melaksanakan berbagai kegiatan dalam proses pembangunan,
baik itu dalam proses perencanaan, pelaksanaan ataupun membantu dalam hal yang
lain, seperti memberikan uang (bagi mereka yang merasa mampu), bahan-bahan yang
diperlukan ataupun barang material lainnya. Namun ada sebagian anggota
masyarakat dapat membantu dalam hal memberikan sumbangan pandangan, pikiran dan
tenaga. Kesediaan masyarakat dapat membantu berhasilnya setiap program sesuai dengan kemampuan setiap orang tanpa berarti
mengorbankan kepentingan diri sendiri. Tentu saja partisipasi seperti ini suatu
tanda permulaan tumbuhnya masyarakat yang mampu berkembang secara mandiri.
Masyarakat
melakukan sesuatu bukan karena disuruh atau mengikuti perintah pemimpin.
Melainkan mencontoh dari apa yang dilihat pada perilaku pemimpinnya. “Ing madyo
mangun karso” dapat diartikan bahwa sebaik-baik pemimpin adalah yang selalu
mendampingi masyarakat/rakyatnya kapanpun dan dimanapun. Rakyat dibebaskan
berfikir dan berinisiatif dalam mengambil prakarsa sendiri yang akan dijalankan
untuk kebaikannya. Tugas pemimpin memastikan jalan yang mereka pilih adalah
terbaik diantara yang baik untuk kehidupan rakyatnya sendiri. Dan, “tut wuri
handayani” bisa diartikan sebagai dorongan buat masyarakat atau rakyatnya agar
maju kedepan, tampil, dan berani mengambil keputusan. Apapun resikonya (asal
tidak membahayakan), pemimpin berada dibelakang mereka memberikan support.
Menurut ajaran Islam, seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban
terhadap kepemimpinannya. Nabi Muhammad SAW berulang kali menegaskan bahwa
beliau tidak akan melarang suatu perbuatan sebelum beliau sendiri yang pertama
mematuhinya. Sebaliknya, beliau juga tidak akan menyuruh umatnya melakukan
suatu kebajikan sebelum beliau sendiri melakukannya (alwi shihab, 2010). Selaku
umatnya merupakan kewajiban untuk mengikuti, mencontoh dan menteladani semua
perilaku terpuji Nabi Muhammad SAW yang lebih dikenal dengan istilah akhlakul
karimah. Ajaran tersebut menegaskan
keutamaan teladan pemimpin dalam menjalankan kehidupan berbangsa, bernegara,
termasuk untuk menciptakan Desa yang berdaulat secara politik, berdaya secara
ekonomi, dan bermartabat secara budaya memerlukan keteladanan seorang pemimpin.
Salah satu tugas pemimpin di Desa menjadi teladan yang baik bagi masyarakatnya,
teladan yang jujur, bersih, inovatif dan transformatif.
Bangsa ini tengah dilanda persoalan krisis keteladan
pemimpin, sederet kasus kriminal seperti pejabat korupsi , penyalahgunaan
narkoba, pelecehan seksual, dan pemalsuan ijasah yang menimpa para pemimpin
atau pejabat kita menunjukkan merosotnya moralitas para pemimpin kita. Menurut
data Kemendagri hingga tahun 2014 terdapat 325 kepala daerah yang terjerat
hukum baik yang masih berstatus tersangka atau sudah menjadi narapidana, untuk
DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah), menurut data KPK (Komisi Pemberantasan
Korupsi) terdapat 3.600 orang yang terjerat kasus korupsi. Hal ini menunjukkan
banyaknya contoh pemimpin yang miskin moralitas, miskin keteladanan. Bila
generasi bangsa ini miskin akan keteladanan dan krisis moral, meskipun
kecerdasannya patut dibanggakan, justru mereka inilah yang merugikan negara dan
masyarakat, dan mereka pula yang akan membawa negara pada kehancuran. Karenanya
keteladanan seorang pemimpin sangat penting untuk keberlangsungan kehidupan
berbangsa dan bernegara. Para pendahulu nusantara juga mengajarkan pentingnya
keteladanan seorang pemimpin hal ini tercermin pada semboyan yang dipopulerkan
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara “Ing ngarso sung
tulodho, Ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. “Ing ngarso sung tulodho”
yang bisa artikan bahwa pemimpin sebaiknya memberi keteladanan atau contoh
terbaik buat rakyatnya.
“Untuk saat ini dan masa dekade ke depan,
kepemimpinan yang paling efektif adalah memimpin dari belakang dan bukan dari
depan,” - Nelson Mandela. Sebelum terkenal sebagai tokoh pendidikan sebenarnya Ki
Hadjar Dewantawa adalah tokoh pergerakan. Beliau menjadi pemimpin salah satu
organisasi modern pertama di Indonesia, termasuk mendirikan
partai, Indische Partij bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo.
Maka tidak mengherankan bila konsep-konsep yang mendasari tulisan-tulisan
beliau mengenai pendidikan tidak lepas dari pengetahuan dan pengalaman
berorganisasi dan memimpin organisasi. Salah satunya adalah konsep mengenai
“Sistem Among”. "Sistem Among" sejak tahun 1930-an. Sayangnya, belum
banyak orang menggalinya lebih dalam. Sistem Among dalam konsep leadership
kekinian Ada sebuah artikel menarik terbit dalam Harvard Business Review (HBR).
Tulisan berjudul “How Humble Leadership Really Works” terbit pada bulan April
2018 dan ditulis Daniel “Dan” Cable, profesor Organizational Behavior dari
London Business School. Cable menjelaskan bahwa kekuasan (power) membuat
kebanyakan pemimpin (pamong) dalam organisasi terobsesi pada hasil (outcomes)
dan kontrol (control) sehingga mereka kurang memperhatikan anggota organisasi.
Dalam wawancara Cable dengan Forbes.com, Maret 2018, ia menyampaikan hal ini
membuat setiap orang menjadi ketakutan; takut tidak mencapai target, takut
tidak mendapat bonus, takut dipecat, dan lain-lain. Akibatnya, orang-orang
berhenti merasakan emosi positif dalam bekerja,emosi positif yang mendorongan
mereka untuk belajar dari berbuat kesalahan dan untuk bereksperimen dengan
hal-hal baru. Energi positif untuk cepat beradaptasi dengan perubahan
(agile) menjadi tertahan (stifled), atau malah berhenti. Cable memberi contoh
penelitiannya pada sebuah perusahaan pengiriman makanan di Inggris. Perusahaan
ini melakukan pengiriman susu dan roti pada jutaan konsumen setiap hari.
Awalnya para pimpinan perusahaan fokus pada efisiensi dengan mengurangi biaya
dan ingin mempercepat pengiriman melalui upaya-upaya pengukuran kuantitatif
(metric-driven effort). Hasilnya adalah bencana. Hampir tidak ada karyawan
tergugah, apalagi terinspirasi dengan inisiatif baru ini. Para sopir ekspedisi
yang kebanyakan sudah bekerja puluhan tahun justru marah. Pendekatan
kepemimpinan yang hanya melulu “top-down”, perintah dari atasan ke bawahan,
sudah usang bahkan kontraproduktif. Cable lalu mengusulkan perubahan. Kuncinya
adalah bagaimana membuat karyawan merasa berkontribusi dan bersemangat sehingga
termotivasi agar tujuan manajemen tercapai. Caranya adalah melalui kontribusi
karyawan secara optimal. Bukankah itu yang seharusnya ada dalam setiap
organisasi? Anggota turut berkontribusi. Pemimpin yang melayani Untuk mencapai
itu, salah satu cara adalah mengubah pola pikir atau mindset para pimpinan
untuk menjadi pemimpin yang mengayomi (servant leaders). Servant leaders dalam
pengertian ini adalah pemimpin yang “melayani” karyawan untuk tumbuh, belajar
dan menjadi teman untuk berkembang bersama. Pendeknya, servant leaders
mempunyai keberanian untuk mengakui bahwa tanpa karyawan seorang pemimpin tidak
ada artinya. Mereka aktif mencari ide-ide dari tim, mampu menyeleksi ide-ide
yang brilian, dan mendorong karyawan mewujudkannya. Cable bersama tim konsultan
PricewaterhouseCoopers (PwC) berusaha membantu mewujudkan ini. Hal pertama yang
dilakukan adalah melatih para pimpinan untuk mendengar. Ya benar, belajar
“mendengar” saja. Mereka melatih bagaimana manajer menanyakan pada karyawan.
Melatih bagaimana menjadi seorang pimpinan yang seharusnya; untuk membantu
karyawan bekerja lebih baik. Mereka kemudian mempraktikkan dalam situasi kerja
langsung. Para manajer bertindak sebagai teman, di tengah-tengah karyawan
bertanya dan mendengar respon mereka. Tentu kita masih ingat salah satu konsep
dalam Sistem Among adalah “Ing Madyo Mangun Karso”, di tengah-tengah membangun
“karsa”. Satu tim, satu jiwa, rasa solidaritas. Hasilnya? Setelah melalui
beberapa penolakan dan sikap yang skeptis, salah satu sopir mengusulkan
“Go-gurt”, brand Yogurt kemasan anak-anak untuk dikirimkan lebih pagi. Rupanya
banyak anak-anak di Inggris minta produk tersebut untuk bekal ke sekolah. Sopir
yang lain mengusulkan sebuah cara pelaporan lebih cepat sehingga sopir
ekspedisi tidak berlama-lama membuat laporan sehingga menyebabkan pengiriman
terlambat. Dan seterusnya. Tidak berhenti sampai di situ, mereka juga diminta
membantu mewujudkan untuk perusahaan. Perubahan-perubahan kecil begitu banyak
dan mengubah organisasi secara keseluruhan. Salah satu manager mengatakan
“Awalnya kita berpikir sudah mengetahui seluruh hal, luar dan dalam. Pertemuan
percakapan pelanggan mingguan kami sekarang lebih interaktif dan percakapan
lebih jujur dan dewasa dalam pendekatan mereka. Rasanya sangat sulit
menggambarkan dengan kata-kata melihat semua perubahan yang terjadi ini.” Hadir
di tengah-tengah Contoh berikutnya dipraktikkan Jungkiu Choi, Head of Consumer
Banking di Standard Chartered. Salah satu tugas utama yang diberikan ketika
pindah dari cabang Singapura ke China adalah menekan para Branch Manager untuk
melakukan efisiensi biaya. Biasanya staf cabang akan bekerja berminggu-minggu
dengan cemas menyiapkan data supaya bisa menjawab ketika Jungkiu datang.
Jungkiu mengubah pola kontrolnya. Alih-alih datang sesuai jadwal, Jungkiu
datang tanpa memberi tahu. Ia datang lalu mengajak manajer dan karyawan cabang
makan siang dan menanyakan keseharian yang terjadi di cabang. Setelah itu
secara informal ia menanyakan ide-ide untuk efisiensi. Ia ada di tengah-tengah
mereka. Ing Madyo. Jungkiu melakukan ini di lebih dari 80 cabang di 25 kota.
Hasilnya? Dalam dua tahun, kepuasan nasabah naik 54%, dan komplain nasabah
turun 29%. Bagaimana dengan “Tut Wuri Handayani”? Memimpin dari belakang
Bagaimana dengan filosofi: “Memimpin tidak selalu di depan tapi dari belakang
memberi semangat para anggotanya”? Hal ini saya temukan juga, masih dalam HBR
pada sebuah tulisan yang terbit Mei 2010 berjudul “Leading from Behind” ditulis
Linda A. Hill, profesor Business Administration dari Harvard Business School.
“Untuk saat ini dan masa dekade ke depan, kepemimpinan yang paling efektif
adalah memimpin dari belakang dan bukan dari depan,” kata Nelson Mandela. Dalam
autobiografinya, Mandela mengatakan pemimpin yang baik bisa bertindak sebagai
gembala membiarkan yang lebih cepat untuk di depan, tanpa mereka menyadari
semua diarahkan dari belakang. Apa maksudnya? Menurut Profesor Hill, dahulu
seorang inovator seringkali bekerja sendiri dalam menemukan inisiatif-inisiatif
yang berguna bagi orang banyak. Misal, Thomas Alfa Edison atau Nikola Tesla.
Saat ini, iPod atau Pixar tidak didirikan seorang individu, tapi sebuah tim
melalui proses kolaboratif. Bahkan mungkin lebih dari satu tim
mengerjakan bagian-bagian berbeda namun mampu bersama-sama menuju satu tujuan.
Hill mengatakan bahwa pemimpin bisa memunculkan ide-ide terobosan dengan
membangun “komunitas” kreatif (communities that can innovate). Pertama,
pemimpin harus memastikan bahwa organisasi mau dan mampu untuk berinovasi.
Ciri-cirinya adalah anggota diberikan penghargaan yang cukup dan diberikan
kesempatan untuk berkontribusi serta memiliki tujuan utama yang jelas. Kedua,
pemimpin harus meningkatkan kemampuan organisasi. Secara spesifik Profesor Hill
menyebutkan tiga hal yaitu “creative abrasion” yaitu kemampuan untuk
menghasilkan ide-ide baru melalui diskusi dan debat. Berikutnya adalah
“creative agility” berupa kemampuan untuk melakukan penyaringan dan ujicoba
ide-ide yang muncul dengan cepat. Terakhir adalah “creative resolution” yaitu
kemampuan untuk mengambil keputusan dengan cepat dan terintegrasi. Dari sini
pemimpin memiliki peran tidak lebih besar daripada yang dipimpin, setidaknya
secara kasat mata. Tujuan utama dari leading from behind adalah “pemimpin yang
dapat memanfaatkan kekuatan jenius kolektif”. Singkatnya adalah bagaimana
menciptakan ruang-ruang ide dan kemampuan untuk mengimplementasikannya dengan
optimal untuk tujuan organisasi. Memberi teladan Tentu saja, konsep “tut wuri
handayani” (di belakang memberi bimbingan-momong) dan “ing madyo mangun karso”
(di tengah memberi semangat-among) tidak akan berjalan optimal bila tidak ada
“ing ngarso sung tulodho”, yaitu pemimpin (pamong) yang bertindak sebagai
contoh bagi anggotanya. Memberi contoh, ngemong, tidak hanya secara kemampuan
tapi juga secara etika dan moral. Lagi dalam artikel HBR edisi Maret 2016
berjudul “The Most Important Leadership Competencies, According to Leaders
Around the World”, kompetensi penting apa yang harus dimiliki seorang pemimpin?
Jawabannya adalah memiliki standard etika dan moral tinggi.
Dari sini kita seharusnya bisa memanfaatkan
pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam berbagai organisasi, baik di
dalam perusahaan, sekolah, pemerintahan, bahkan dalam keluarga. Caranya adalah
membaca-baca kembali tulisan-tulisan beliau para pemimpin perlu menggali lagi konsep dan
teori-teori beliau untuk dikembangkan, didiskusikan, disesuaikan dengan
perkembangan zaman, dan diaplikasikan demi kemajuan bangsa dengan mewujudkan
para pamong yang momong, among, dan ngemong sehingga tidak perlu minder dengan
konsep-konsep asing.
Konsep Kepemimpinan
yang luhur dalam aktualisasi di Masyarakat Desa
Para pemimpin di Desa, baik Kepala Desa, Pemuka
Agama, Pemuka Masyarakat/Tokoh masyarakat harus merenungkan bahwa tiga semboyan
dalam dunia pendidikan tersebut sejatinya adalah sebuah konsep kepemimpinan.
Lebih tepatnya sebuah konsep kepemimpinan yang terkemas indah dalam bahasa
Jawa. Bahwasanya kir dunia pendidikan dan kepemimpinan memang mempunyai korelasi
yang sangat kuat. Bahkan hadirnya dunia pendidikan tidak lain dalam rangka
memproses dan menyiapkan para calon pemimpin di masa depan. Sehingga penanaman
nilai nilai kepemimpinan dalam dunia pendidikan menjadi sebuah keniscayaan.
Sangat jelas, bahwa
arah dari tiga konsep kepemimpinan tersebut adalah mengantarkan peserta didik
menjadi seorang pemimpin yang mampu memberikan kontribusi real di
masyarakat. Keberadaannya mampu menjadi solusi terhadap permasalahan yang
dihadapi. Kehadirannya sangat dinantikan, baik posisinya berada di depan, di
tengah atau berbaur maupun posisinya berada di belakang untuk memberikan
dukungan moral kepada masyarakat.
Pertama, Ing ngarso sung
tulodho (di
depan memberikan contoh atau teladan). Ajaran ini mengandung arti bahwa seorang
pemimpin harus dapat memberikan teladan bagi para anak buah dan bawahannya.
Yaitu dengan berprilaku jujur, disiplin, amanah, adil dan toleransi kepada
sesama. Salah satu cara paling mudah untuk memberikan teladan adalah adanya
keselarasan antara perkataan dan perbuatan atau tindakan dalam diri seorang
pemimpin. Bahkan hal itu bisa dikatakan sebagai modal utama dalam memberikan
keteladanan. Bahasa kerennya adalah “Practice what you preach”. Yaitu
seorang pemimpin akan lebih excellent jika ia mampu mempraktekan
apa yang dikatakan dan dinasehatkan, sebelum menyuruh atau menginstruksikan
perintah kepada anggotanya. Jangan sampai seorang pemimpin hanya bisa menyuruh
saja sedangkan ia sendiri enggan untuk melaksanakannya. Ada kata kata bijak
mengatakan bahwa satu tindakan yang dicontohkan akan lebih berarti dibandingkan
dengan 1000 perkataan yang diucapkan. Bahasa lainnya adalah memimpin dengan
keteladanan atau lead by example. Jika seorang pemimpin senantiasa
memberikan keteladanan maka tidak usah disuruhpun anggotanya akan menaruh
hormat, kemudian secara otomatis mengikuti atau menjadi follower setianya.
Kedua, Ing madyo mangun karso (di tengah
membakar semangat dan mengembangkan motivasi). Seorang pemimpin harus mampu
berkerja sama dengan anak buahnya. Keberadaan seorang pemimpin di tengah
anggotanya juga harus bisa membangun dan membangkitkan motivasi dan semangat
juang. Di tengah kesibukannya, ia juga dituntut memberikan inovasi dan
menciptakan iklim kerja yang baik. Sehingga dari situ akan tercipta sebuah team
solid yang dipenuhi dengan keoptimisan untuk meraih kesuksesan.
Dengan begitu anak buahnya akan benar benar
merasakan kehadiran seorang pemimpin dalam setiap aktivitasnya. Secara otomatis
pasti mereka akan berkerja lebih serius dan all out. Jangan sampai
seorang pemimpin hanya duduk manis atau bersembunyi di belakang meja saja. Akan
tetapi, seorang pemimpin idealnya harus ikut turun tangan berjuang bersama
anggotanya.
Ketiga adalah Tut
Wuri Handayani (memberikan dorongan dari belakang). Seorang pemimpin
harus mampu memberikan dorongan moral kepada anak buahnya untuk bisa tampil ke
gelanggang mengambil peran. Tentunya seorang pemimpin harus percaya dan yakin
pada kemampuan anggotanya. Bukti nyata dari kepercayaan tersebut yaitu dengan
pendelegasian atau mengamanahkan sebuah wewenang sesuai kapasitas masing masing
anggota.
Sejalan dengan itu, secara otomatis pemimpin
juga dituntut untuk mampu meyakinkan anak buahnya bahwa mereka mampu untuk
melakukan tugas yang telah diamanahkan kepadanya. Seorang pemimpin yang baik
pasti akan bangga ketika melihat anak buahnya tampil melebihi dirinya.
Karena pemimpin yang hebat adalah seorang pemimpin yang mampu melahirkan
pemimpin pemimpin baru di masa depan. Ada saatnya seorang pemimpin harus
melatih anak buahnya berkerja sendiri untuk mandiri. Dalam artian bahwa seorang
pemimpin harus punya komitmen untuk mengkader anggotanya menjadi lebih baik
dari dirinya yang sekarang ini. Seorang pemimpin sudah seharusnya tidak gila
akan sanjungan dan penghormatan. Karena hadirnya pemimpin bukan untuk
melahirkan para pengikut. Tetapi walau keberadaanya berada di posisi belakang,
ia mampu memberikan dorongan moral yang kuat.
Luar biasa, sungguh sebuah konsep kepemimpinan
yang sangat komprehensif. Sebuah konsep yang menjelaskan tentang bagaimana
seharusnya sikap seorang pemimpin sejati. Baik ketika posisinya berada di
depan, di tengah maupun di belakang anggotanya. Semoga yang sedikit ini bisa
menambah wawasan keilmuan, serta mampu memperkuat pondasi nilai nilai
kepemimpinan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Adon
Nasrullah Jamaludin, M.Ag., 2015, Sosiologi Perdesaan, Bandung, CV. Pustaka Setia.
Mochammad Zaini Mustakim, 2015,
Kepemimpinan Desa, Jakarta, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal,
Dan Transmigrasi Republik Indonesia.
Mukhamad
Fathoni, Suryadi, Stefanus Pani Rengu,
Gaya Kepemimpinan Kepala Desa Dalam Pembangunan Fisik Desa (Studi di Desa Denok Kecamatan Lumajang
Kabupaten Lumajang) Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol.
3, No. 1, Hal. 139-146
Muammar
Alkadafi, Analisis Kepemimpinan Kepala Desa Dalam Pengelolaan Desa (Studi Kasus Kampung Berumbung Baru Kecamatan Dayun
Kabupaten Siak Provinsi Riau, Jurnal
El-Riyasah, Volume 9 Nomor 2 Tahun 2018
Komentar
Posting Komentar