FILSAFAT
KEBENARAN
1. Tunjukkan
kebenaran
manajemen pendidikan berdasarkan, yaitu: (1) dasar pemikiran filsafat (0ntologi,
epistemologi, dan aksiologi), (2) obyek
materi dan (3) obyek formal.
2. Berikan
anailisis kebenaran hubungan, yaitu: manusia, ilmu, logika, metode ilmiah
dan penelitian ilmiah berdasarkan filsafat ilmu.
3. Berilah
uraian kebenaran tentang pembelajaran disekolah/tempat kerja Saudara
dengan menggunakan logika dalam menentukan kesimpulan menuju kebenaran,
sehingga memberi manfaat capain tujuan efektif.
4. Tunjukkan
kebenaran pembelajaran menggunakan ajaran Ki Hadjar Dewantara, yaitu: niteni,
nirokke, nambahi dan ngerti, ngrasa, nglakoni, sehingga
peserta didik memperoleh lima (5) kompetensi sesuai tujuan yang dicapai.
5. Berilah
analisis kebenaran tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
(IPTEK) revolosi industri D.4.0,
terhadap pelaksanaan pendidkan di Indonesia.
JAWABAN
1.
Kebenaran manajemen pendidikan berdasarkan:
1.
Dasar Pemikiran Filsafat
Ontology
:
Bahwa segala sesuatu
sangat perlu di manajamen, apalagi sebuah proses pendidikan yang sangat
penting, Ruang lingkup
manajemen pendidikan terbagi menjadi 4 hal, yaitu ruang lingkup menurut wilayah
kerja, ruang lingkup menurut objek garapan, ruang lingkup menurut fungsi atau
urutan kegiatannya dan menurut pelaksana. Untuk ruang lingkup pertama meliputi
manajemen pendidikan suatu negara, manajemen pendidikan satu provinsi, satu
kabupaten/ kota, unit kerja dan manajemen kelas. Manajemen kelas ini adalah
inti dari sebuah manajemen pendidikan tersebut, karena di dalam kelas proses
pengajaran berlangsung. Ruang lingkup menurut objek garapan meliputi; manajemen
siswa, personil sekolah, kurikulum, sarana/ material, anggaran, ketata
laksanaan, humas dan komunikasi pendidikan. Sedangkan ruang lingkup menurut
fungsi / urutan kegiatan atau yang disebut juga manajemen administrasi meliputi
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, koordinasi, komunikasi dan evaluasi.
Manajemen pendidikan sangat berkaitan dengan ISO
21001, Sistem Manajemen Organisasi
Pendidikan, yang meruapakan standar internasional yang baru saja dipublikasikan
pada bulan Mei tahun 2018. standar ISO 21001 ini berlaku untuk setiap
organisasi yang menyelenggarakan jasa pendidikan seperti sekolah, universitas,
hingga tempat kursus dan lembaga pelatihan pembinaan kerja. Oleh karena itu
manajajemen pendidikan menurut ontologinya sangat benar, hal ini mencakup semua
aspek, baik sumber daya manusia, anggaran, proses prasarana dan materinya atau
kurikulumnya.
Objek yang ditelaah dalam manajemen kependidikan adalah pendidikan (aras
berpikir teoritis), yang memaparkan tentang hakikat
pendidikan, tujuan pendidikan, makna pendidikan, hukum pendidikan, sejarah
pendidikan dan sebagainya.
Landasan ontologis membahas apa yang ditelaah ilmu, bagaimana
ujud yang hakiki dari objek tersebut, bagaimana hubungan antara
objek dengan daya tangkap manusia (berpikir, merasa, menduga) yang membuahkan pengetahuan, secara ringkas landasan ontologis
mengungkapkan hakikat dari apa yang dikaji. Wujud dari objek (pendidikan) adalah bantuan, pertolongan, bimbingan, nasihat dan keteladanan
(masih pada aras kiblat berpikir teoritis). Dalam tautan makna seperti manusia
membutuhkan pendidikan untuk mempertahankan dan mengembangkan diri. Dalam
pemahaman demikian manusia sadar dan merasa, serta berpikir bahwa
untuk memanusiakan manusia dibutuhkan pendidikan (berpikir). Manusia perlu
dibantu, ditolong, dibimbing, dinasehati,
diberi teladan agar hidup manusia berkualitas. Karena pendidikan sangat !uas
dan kompleks maka dibutuhkan cara untuk
mengelola pendidikan agar pendidikan
dapat bermakna bagi kehidugan manusia. Cakupan manajemen meliiputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pengawasan dan penilaian (Siagian,
2004) Penerapan dari ma.najen›an kependidikan
adalah mengelola penclldikan (merencanakan pendidikan, mengorganisasikan pendidikan, mengarahkan pendidikan, mengawasi
pendidikan, dan mengevaluas pendidikan
Epistemology:
Landasan
epistemologi mempertanyakan proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu, bagaimana prosedurnya, hal-hal apa yang harus
diperhatikan agar didapat pengetahuan yang benar. Apa
kebenaran itu sendiri, apa kriterianya, cara
apa yang membantu ilmuwan dalam mendapatkan
pengetahuan berupa ilmu, singkatnya landasan epistomologi menguraikan
tentang cara mendapatkan pengetahuan.
Berkaitan dengan dua aras kiblat berpikir, cara ilmiah menggunakan juga dua pendekatan ilmiah,
yakni pendekatan induktif dan pendekatan deduktif.
Pendekatan induktif bergerak dari fakta, peristiwa atau pengamatan
manusia (aras empirik) yang mengarah pada pembentukan dan modifikasi koesep, dalil
atau menata dalil sehingga menjadi teori (aras abstrak)
Pendekatan deduktif berangkat dari
telaah teoritis per\aIaran, perenungan dan pengalaman (aras abstrak) dengan
sasaran mengukur konsep, menguji dalil atau model yang dlbkukan pada aras
empirik.
Pendekatan ilmiah melibatkan lima
komponen informasi utama, dan enam perangkat metode utama. Kelima komponen
informasi utama adalah teori, dalil, amatan, keputusan menerima/ menolak
hipotesis dan kerampatan emplrik. Netode utama terdiri dari enam perangkat
yaitu deduksi nalar, penafsiran, instrumentasi,perskaban, dan pembentukan
sampel, pengukuran, peringkasan sampel dan pengiraan parameter, uji hipotesa
inferensi nalar dan pembentukan konsep, pembentukan dan penataan dalil menjadi
teori.
Landasan epistomologi dari manajemen
kependidikan berpijak pada pendekatan induktif dan pendekatan dedukatif. Pendekatan
induktif dalam arti, ada fakta, peristiwa atau amatan tentang pendidikan
(empirik) yang digunakan untuk membentuk dan memodifikasi konsep atau menata
dalil (abstrak). misalnya ada fakta kurikulum, tenaga kependidikan, siswa,
keuangan sekolah, sarana prasarana, hubungan masyarakat dengan sekolah.
Fakta-fakta ini perlu dikelola (direncanakan, dkxganisasikan, diarahkan,
diawasi dan dinllai). Pada aras berpikir seperti itu ada upaya untuk membentuk
konsep yaitu konsep manajemen pendidikan dan menata dalil dengan asumsi
(andaian) bahwa dibutuhkan ineiiajemen untuk mengelola dan mangatur pendidikan.
Pendekatan deduktif dalam arti
menelaah teori, penalaran, perenungan dan pengalaman (abstrak). Sasarannya
mengatur konsep dan menguji dalil pada aras empirik. Nisalnya, efektivitas
perencanaan pengejoran kurikulum, evaluasi program, perencanaan pembiayaan dan sebagainya.
Aksiologi :
Landasan aksiologi
membahas untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu dipergunakan, bagaimana kaitan antara cara menggunakan dengan
kaidah-kaidah moral, bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan
pikiran-pikiran moral, bagaimana kaitan antara teknik procedural yang merupakan operasionalisasi metode
ilmiah dengan norm professional.
Dalam tautan makna yang demikian,
Verczuysse (halauw,2005) mengemukakan empat nilai yang
harus dijadikan
patokan dalam suatu kegiatan ilmiah. Pertama, emosional yang memaparkan bahwa
dalam setiap usaha, pendekatan yang dilakukan haruslah tidak pribadi. Kebenaran
ilmiah tidak ditentukan oleh siapa yang diteliti atau siapa yang meneliti. kedua,
universalitas, nilai ini menegaskan tentang adanya kebenaran universal.
orientasi persekutuan, artinya harus ada keterbukaan agar terkena kritik ilmiah
dari komunitas ilmiah terkait. keempat nilai individualisme yang memperjuangkan
kebebasan pribadi untuk berpikir dan bertindak secara ilmiah. Kebebasan pribadi
diperlukan agar supaya pemahaman-pemahaman baru dapat dipergunakan karena
realitas yang dihadapi adalah dinamik, Individualisme memungkinkan ilmu
pengetahuan memperkaya dirinya sendiri dengan hal-hal baru.
Dalam kerampatan makna yang demikian,
landasan aksiologi menyoroti aspek aktivitas dari manajemen kependidikan
(ilmu). Apakah benar manajemen kependidikan berguna bagi pengelolaan
pendidikan? Kualitas manusia amat menentukan dimensi moralitas dalam penerapan
manajemen kependidikan, termasuk dalam mebkukan penelitian (induktif dan deduktif}.
2. Objek Materi:
Objek
Materi Manajemen Pendidikan
-
Man ( Sumber Daya Manusia )
Man atau disebut juga manusia adalah salah
satu unsur terpenting yang perlu dikelola dalam manajemen pendidikan,
pengelolaan yang biasa dilakukan misalnya dengan mengorganisasikan manusia
dengan melihat apa yang menjadi keahlian orang tersebut.
-
Money ( Fisik dan Materi Sumber Daya )
Money atau uang dimaksudkan untuk dapat
mengelola pemdanaan atau pembiayaan secara efisien sehingga tidak terjadi
pemborosan dalam suatu lembaga pendidikan.
-
Materials ( Sumber Daya Ide )
Materials atau yang disebut dengan bahan materi
merupakan salah satu aspek yang tidak kalah penting dalam manajemen pendidikan,
melalui pengelolaan material maka bisa terbentuk kurikulum yang berisi panduan
dasar untuk mentranfer ilmu dari guru ke siswa.
-
Method ( Cara )
Pengelolaan metode juga harus dapat dilakukan
dengan baik, metode yang digunakan untuk bisa mengajar guru di sekolah satu
dengan guru di sekolah lain tidak sama karena tergantung pada kesiapan siswa
yang diajar.
-
Machines ( Teknologi )
Pengelolaan mesin ini bertujuan untuk dapat
mengelola suatu mesin yang digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar
supaya dapat digunakan sebaik mungkin dan tidak cepat mengalami kerusakan,
untuk orang yang mengelola mesin biasanya juga harus orang yang benar-benar tau
cara merawat mesin tersebut dengan baik.
-
Market ( Masyarakat )
Market atau pasar adalah salah satu kunci
yang untuk menentukan sekolah atau lembaga pendidikan tersebut menjadi lembaga
pendidikan yang besar atau kecil, pasar yang dimaksud adalah masyarakat secara
luas, sasaran yang dituju adalah sekelompok masyarakat yang berniat
menyekolahkan putra putri mereka.
-
Minutes ( Waktu )
Minutes atau juga waktu diperlukan untuk
dapat dikelola dengan baik karena waktu belajar peserta didik di sekolah sangat
terbatas, sehingga perlu pengelolaan yang baik supaya waktu belajar mengajar
menjadi lebih efisien.
3. Objek formal:
Objek formal adalah cara yang
digunakan untuk mengetahui ilmu Itu sendiri, ataupun prespektif yang digunakan
seseorang untuk memahami dan mengetahui objek material. Sifat dari objek
formal adalah empiris. Singkatnya, jika objek material adalah sesuatu yang
dipelajari sedangkan objek formal adalah cara yang digunakan untuk mengetahui
sesuatu/pengetahuan itu sendiri. Keteraturan,
pengaturan, keserasian dalam proses pendidikan, mencakup ilmu serta cara
bagaimana memanajemen pendidikan agar berjalan mencapai target yang ditetapkan.
Jadi secara formal manajemen pendidikan harus dipastikan kebenarannya.
2.
Anailisis
kebenaran
hubungan, yaitu: manusia, ilmu, logika, metode ilmiah dan penelitian
ilmiah berdasarkan filsafat ilmu.
Bahwa manusia mempunyai logika yaitu buah
pikiran yang digunakan untuk menalar, berfikir, dan merasionalkan segala
sesuatu hal (ilmu), agar sesuatu hal tersebut dapat dinilai keberannya,
dilakukan penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah, buah dari pemikiran
atau logika manusia itu sendiri untuk mencari sebuah kebenaran ilmu (atau
segala sesuatunya).
Manusia diciptakan Tuhan dengan kesadaran
sehingga memiliki kemampuan berfikir, berkehendak dan merasa. Kemampuan
berfikir dimiliki masnusia menghasilkan ilmu pengetahuan. Logika digunakan
manusia sebagai sarana meningkatkan ilmu pengetahuan. Sedangkan etika dan
estetika digunakan manusia sebagai sarana memelihara perilaku dan mutu
kesenian. Hasrat keingintahuan tersebut mendorong manusia menyelesaikan
berbagai permasalahan sehingga timbul ilmu pengetahuan. Soerjono Soekamto,
(1990 : 8) menjelaskan setelah memperoleh pengetahuan timbul keinginan mencari
kebenaran, dengan cara : (1) penemuan secara kebetulan, (2) untung-untungan,
(3) pendapat dari orang memiliki otoritas/kewibawaan tertentu, (4) spekulatif,
(5) pengalaman, (6) penelitian Ilmiah. Ilmu pengetahuan berguna untuk menguji
dan menghasilkan kebenaran pernyataan dunia emperis manusia, dengan cara: otoriter,
mistik, logika-rasional dan ilmiah. Pengujian dan penemuan secara otoriter
dilakukan oleh pemegang kekuasaan tertentu dengan cara mencari dan menguji ilmu
pengetahuan dengan menggaitkan kemampuan membuat pernyataan dengan pemilik
kedudukan sosial lainnya. Prosedur penanaman otoritas dilakukan melalui doa,
petisi, etiket, upacara dan sebagainya. Pengetahuan tersebut akhirnya berakibat
praktis dalam membantu meruntuhkan otoritas lainnya. Walaupun demikian sebelum
terjadinya pengakuaan kebenaran masih terjadi sejumlah penolakan, sehingga
sangat tergantung kepada posisi sosial pembuat pengetahuan dalam meyakinkan. Penemuan
kebenaran secara mistik dilakukan melalui penemuan dan pengujian dunia emperis melalui
ketegangan halusinasi, sebagian dihubungkan dengan cara otoriter, sejauh dapat
memohon pengetahuan yang berasal dari para wali, perantara, dewa-dewa dan
otoritas lain yang memiliki kekuatan gaib. Cara ini tergantung dengan pemurnian
rituallistik dan prosedur kepekaan sipemakai. Sedangkan secara logika-rasional
, penilaian bagi pernyataan yang dianggap benar terutama berada pada prosedur
dimana pernyataan itu dibuat, dan prosedur itu terpusat pada kaidah logika
formal. Cara ini berhubungan dengan cara otoriter dan mistik sejauh memiliki
dasar penerimaan prosedur dan aksioma yang mengandung logika formal. Kebenaran
secara ilmiah ditemukan dengan mengabungkan suatu kepercayaan pada fakta
emperis yang dipermasalahkan dengan prosedur (metode) menghasilkan pernyataan
tersebut. Penekanan penanaman metode dalam hal ini adalah bila nilai kebenaran
dua atau lebih dianggap bersaing, maka plihanan terhadap salah satu sangat
tegantung dengan penilaian kolektif dan pengulangan prosedur yang menghasilkan
item informasi itu. Dalam kenyataannya, semua metode ilmu pengetahuan sering
dianggap sebagai persetujuan kultural yang ketat. Hasil perubahan didasarkan
kritik terhadap item-item pengetahuan yang dilakukan secara kolektif dengan
hasil yang relatif utuh. Pemusatan kritik didasarkan metode yang dianggap
sebagai esensial ilmu pengatahuan. Metoda ilmiah secara sistemastis
menghilangkan padangan pribadi sehingga akhirnya tergambar kebenaran universal.
Mengigat keterbatasan manusia sesungguhnya tidak mungkin melakukan objektivitas
secara murni, perkiraan tentang hal itu hanya berupa kesepakatan diantara para
ilmuwan. Oleh karena itu, kontrol metodologi dalam proses ilmiah akan
menghilangkan padangan pribadi sehingga akhirnya kesepakatan. Ketentuan
membentuk skala, menentukan sampel, pengukuran, menaksir parameter, menarik kesimpulan
induksi dan deduksi secara logis sebagai dasar utama mengkritik, menolak dan
menerima item-item informasi ilmu pengetahuan itu. Apabila dua komponen
informasi masih dianggap saling bersaing, sangat tergantung daya ketangguhan
dalam mempertahankan penolakan dan terus berulang melakukan pengamatan. Pada
gilirannya kebenaran-kebenaran yang dinyatakan diterima masyarakat ilmiah
didasarkan pembuktian secara emperik.
Popper menjelaskan segala sesuatu diakui
sebagai emperis atau ilmiah jika mampu diuji oleh pengalaman. Suatu sistem
emperis yang imiah harus memilki kemungkinan untuk ditolak oleh pengalaman
(1961 : 40-41). Ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan (knowledge) yang
tersusun sistematis dengan menggunakan kekuatan pikiran serta dapat diuji dan
dikontrol secara kritis. Soerjono Soekamto, 1990:6) menjelaskan pengetahuan
dengan buah pikiran tersebut berbeda, karena tidak setiap pikiran memerlukan
pembuktian akan kebenaranya, walaupun demikian buah pikiran dan angan-angan
merupakan bahan bagi ilmuwan melaksanakan kegiatan ilmiah yang akan
dilakukannya.
Pertumbuhan ilmu pengetahuan merupakan
sumbangan kegiatan penelitian yang telah dilakukan ilmuan. Penelitian dengan
menggunakan metode ilmiah secara sistematis untuk mengungkap rahasia dunia
tidak dapat dipisahkan dengan pertumbuhan ilmu pengetahuan. Hal ini menunjukan
ilmu pengetahuan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru dalam bentuk dalil,
teori atau generalisasi mengenai rahasia dunia, yang kebenarannya teruji secara
ilmiah. Jumlah teori, dalil dan generalisasi yang ditemukan melalui penelitian
oleh ilmuan sangat menentukan seberapa jauh rahasia dunia telah terungkap.
Pelaksanaan penelitian didasarkan oleh asumsi bahwa segala sesuatu gejala tidak
berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor yang belum
dapat diungkapkan secara emprik akan menjadi objek penelitian. Penelitian pada
dasarnya merupakan aktifitas dan metode berfikir untuk memecahkan suatu
permasalahan yang belum ditemukan jawabannya . Penemuan-penemuan rahasia dunia
melalui pengalaman emperik tersebut dapat dijadikan sebagai bahan untuk
meramalkan, mengendalikan dan menjelaskan kondisi yang akan terjadi. Temuan
penelitian terhadap sesuatu masalah dapat menjadi landasan mengkaji masalah
baru dan begitulah seterusnya. Penemuan demi penemuan silih berganti,
masing-masing berfungsi untuk memekarkan penemuan sebelumnya. Penemuan ilmiah
tidak menemukan kebenaran mutlak tetapi bersifat tentatif yang dapat berubah
bila ditemukan data baru.
Penelitian ilmiah adalah kegiatan yang
bersifat indrawi (empirical) maksudnya, jawaban masalah yang diperoleh melalui
kegiatan ini merupakan keyakinan subyektif peneliti namun telah teruji dengan
kenyataan-kenyataan objektif di luar dirinya. Dengan kata lain, setiap
pernyataan peneliti haruslah selalu 7 didasarkan pada kebenaran yang diperoleh
melalui pengujian dan penjelajahan yang bersifat empiris (empirical inquiry and
test). Keyakinan terhadap jawaban suatu masalah memerlukan upaya pengujian di
luar dirinya sendiri. Dengan kata lain sesuatu yang dianggap benar secara
subyektif dan teoritis perlu diverifikasi seberapa jauh kebenaran yang diduga
itu ditemui pada kenyataan objektif (objective reality) di lapangan. Bila
proposisi hipotesis-teoritis itu didukung oleh data yang ditemukan di lapangan
barulah proposisi itu diterima sebagai jawaban masalah secara relatif
meyakinkan. Namun bagaimanapun juga temuan tersebut masih tetap terbuka untuk
diujikan lagi pada kesempatan lain. Barulah kemudian setelah menempuh ujian
berkali-kali, proposisi tersebut dapat dijadikan sebagai teori keilmuan yang
baru. Karena itu tidak mustahil temuan suatu penelitian akan ditolak oleh data
pada kesempatan lain. Bila terjadi demikian maka kemungkinan tertolaknya temuan
yang semula diharapkan akan menjadi unsur baru khasanah pengetahuan tidak dapat
dihindarkan. Kegiatan penelitian yang dilalui peneliti secara umum adalah ; (1)
persiapan, (2) pelaksanaan, (3) pengolahan data,(4) pembuatan laporan dan (4)
sosialisasi hasil penelitian. Penelitian ditujukan menjawab permasalahan secara
emperik, melalui dua pendekatan yang digunakan manusia untuk menemukan jawaban
sesuatu permasalahan, yaitu metode deduksi yang dikenal dengan Silogisme
Aristoteles. Melalui pendekatan ini dijelaskan penemuan baru, melalui
kesimpulan deduktif sehingga memerlukan pengetahuan atau dalil umum (premis
mayor) yang menjadi dasar berpijak kesimpulan-kesimpulan khusus yang dibagun.
Dari premis mayor ke kesimpulan deduksi dijembatani oleh Primis Minor.
3.
Uraian kebenaran
tentang pembelajaran disekolah/tempat kerja Saudara dengan menggunakan
logika dalam menentukan kesimpulan menuju kebenaran, sehingga memberi manfaat
capain tujuan efektif.
Di tempat kerja kami, kebetulan kami mengajar
mata pelajaran Mikroprosesor dan Mikrokontroler, bahwa untuk menguji kebenaran
bahwa sebuah alat mikrokontroler bisa digunakan dan diprogram untuk
menyelesaikan sebuah masalah yang berkaitan dengan control, kami memberi
penjelasan dahulu tentang ilmu mikrontroler secara teoritis dan ditunjukkan
alat nyatanya, kemudian bagaimana cara memeprogramnya, kemudian dilaksanakan
praktik untuk menguji sebuah kebenaran bahwa alat tersebut bisa deprogram
sesuai teori yang ada. Ini adalah sebuah pembuktian kebenaran dari sebuah teori
yang ada.
4.
Kebenaran pembelajaran
menggunakan ajaran Ki Hadjar Dewantara,
yaitu:
niteni, nirokke, nambahi dan ngerti, ngrasa, nglakoni, sehingga
peserta didik memperoleh lima (5) kompetensi sesuai tujuan yang dicapai.
Bahwa kami disekolah sudah
menerapkan ajaran niteni, nirokke, nambahi, sebelum anak mempraktikan, anak
kami beri sebuah contoh baik berupa tayangan video maupun contoh langsung yang
kami berikan atau kami praktikkan (niteni), kemudian anak nirokke alias
melakukan hal yang sama dengan contoh yang kami berikan, dan setelah anak
memahami dan bisa melaksukan pekerjaan atau praktik yang dilakukan anak
kemudian mengexplor dan berkreasi dari program yang sudah dibuat dan ditambahi
dengan yang lebih rumit dan lebih bervariasi.
Bahwa kami sudah melaksanakan
dan menguji kebenaran dari ajaran Ki
Hajar Dewantara, ngerti anak kami beri pengertian dahulu tentang materi
yang harus dipelajari, kami jelaskan sejelas jelasnya agar mereka betul betul
paham, kemudian anak harus menyukainya dengan cara kita beri contoh contoh yang
relevan dengan dunia nyata, contoh kegunaan mikrokontroler pada alat alat yang
digunakan pada dunia nyata, sehingga anak akan timbul rasa suka terhadap mata
pelajaran tersebut, kemudian setelah anak memahami dan menyukai anak anak kami
bawa ke ranah praktik, anak anak melakukan praktik memprogram mikrokontroler
utnuk mengatur nyala Lampu, sensor dan lain lain yang aplikatif sehingga anak
anak menjadi paham, jadi konsep atau ajaran Ki hadjar dewantara sudah betul
betul kami mengakui keberannya.
5.
Analisis
kebenaran
tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) revolosi industri D.4.0, terhadap
pelaksanaan pendidkan di Indonesia.
Pesatnya perkembangan teknologi informasi
(TI) berpengaruh pada berbagai sektor. Dampak perkembangan TI dirasakan pula
pada sektor pendidikan, bahkan perkembangannya sangat menguntungkan dunia
pendidikan. Dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi, berbagai sumber
belajar dapat diakses dengan mudah, cepat, dan murah. Kemudahan, kecepatan, dan
murahnya biaya dirasakan pula pada saat mengakses literatur, referensi, jurnal
hasil penelitian, e-book, dan lainlain. Berbagai hal sudah dapat diakses secara
langsung oleh pendidik (guru dan dosen) dan peserta didik (siswa dan mahasiswa)
menggunakan media komputer atau pensel android. Hal ini seiring dengan kondisi
peserta didik pada saat ini yang tidak lagi gaptek (gagap teknologi). Peserta
didik pada saat ini tidak gaptek karena masuk dalam kategori generasi milenial.
Generasi milenial adalah generasi yang dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah
lepas dari TI (ponsel android, komputer, internet, dll.). Oleh karena itu,
pendidik perlu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk mengembangkan
model penilaian hasil belajar. Pemanfaatan teknologi informasi dalam penilaian
hasil belajar merupakan bentuk inovasi penilaian. Penilaian berteknologi
informasi menjadikan penilaian tidak lagi dilakukan secara manual, tidak lagi
dibatasi oleh ruang dan waktu, dapat dilaksanakan kapan saja, dimana saja, oleh
siapa saja. Penilaian berteknologi informasi dapat menciptakan penilaian yang
objektif, akuntabel, transparan, adil, terintegrasi, dan transparan. Penilaian
berteknologi informasi merupakan bentuk Inovasi penilaian. Penilaian hasil
belajar generasi milenial yang berteknologi informasi menjadi ciri penilaian
pada era revolusi industri 4.0.
Berbagai kelebihan teknologi informasi, harus
dapat dimanfatkan dengan baik dan dengan bijak untuk kepentingan diri sendiri
maupun untuk kepentingan orang lain. Pemanfaatan perkembangan teknologi
informasi dengan baik dan bijak dapat membantu pekerjaan seseorang. Berbagai
jenis pekerjaan, profesi, aktivitas dapat memanfaatkan teknologi informasi.
Dalam dunia pendidikan pun sangat dianjurkan untuk memanfaatkan teknologi
informasi. Guru dan atau dosen dalam melaksanakan aktivitas pekerjaan tentu
saja sudah saatnya berteknologi informasi. Guru dan dosen memiliki tugas untuk
mengajar dan mendidik. Tugas guru dan dosen sebagai pengajar adalah menjadi
seorang fasilitator peserta didik dalam mencapai kompetensi dari setiap mata
pelajaran atau mata kuliah. Setiap materi dari sebuah mata pelajaran atau mata
kuliah harus dikuasai, dipahami oleh peserta didik. Penguasaan materi oleh
peserta didik ini merupakan capaian kompetensi yang diharapkan. Sebagai
fasilitator peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi, guru harus mampu
menyediakan berbagai informasi mengenai materi pelajaran atau materi mata
kuliah yang dapat diproses dan dapat diakses dengan mudah dan cepat oleh
peserta didk. Untuk penyediaan berbagai informasi ini, guru dan dosen dapat memanfaatkan
teknologi informasi. Dalam pembelajaran, keberadaan teknologi informasi sangat
diperlukan. Melalui media komputer (note book, ponsel) berbagai informasi
materi dapat diakses, dapat disampaikan. Itulah bentuk pemanfaatan kelebihan
teknologi informasi dalam pembelajaran. Selain pemanfaatan teknologi dalam
pembelajaran, guru dapat memnafaatkan teknologi informasi dalam tugas sebagai
pendidik. Tugas guru dan dosen sebagai pendidik sebenarnya lebih berat dari
pada tugas sebagai pengajar. Sebagai seorang pengajar, guru dan dosen lebih
banyak berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Informasi Ilmu pengetahuan yang
diharapkan oleh guru dan dosen dapat diperoleh dengan cara akses melalui
jaringan komputer. Namun, sebagai pendidik guru dan dosen berhubungan dengan
persoalan kepribadian, karakter peserta didik. Guru dan dosen memiliki tanggung
jawab untuk dapat membentuk kepribadian 10.21009/pbe.3-1.23 198 E-ISSN:
2622-8815 peserta didik agar memiliki karakter yang baik, bijaksana, santun,
kuat, mandiri, dan lain sebagainya. Mengingat tanggug jawab seperti itu, guru
harus mampu mengarahkan peserta didik agar dapat memanfaatkan keberadaan
teknologi informasi dengan tepat. Ketidak tepatan pemanfaatan teknologi
informasi dapat menjerumuskan peserta didik ke dalan perilaku nengatif.
Perilaku negatif dapat merugikan diri peserta didik dan bahkan dapat merugikan
orang lain. Oleh karena itu guru maupun dosen perlu mengawasi, mengarahkan,
membimbing peserta didik agar bijak menggunakan media berteknologi informasi,
terutama gawai. Pada saat ini para peserta didik tidak dapat melepaskan gawai
dari genggamannya. Perilaku peserta didik dapat dilihat pada saat pembelajaran
berlangsung. Pada saat proses belajar mengajar berlangsung, tidak sedikit
peserta didik yang tetap bergawai. Hal seperti inilah yang menunjukkan bahwa
peserta didik tidak bisa melepaskan gawai dalam sekejappun dari genggaman
tangan. Apabila kondisi seperti ini dibarkan, maka proses pembelajaran menjadi
terganggu, capaian kompetensi peserta didik rendah, suasana kelas tidak
kondusif, bahkan berdampak pada kewibawaan guru dan atau dosen menjadi kurang.
Oleh karena itu, guru memiliki peran untuk dapat menciptakan suasana
pembelajaran yang baik, kondusif, menyenangkan. Proses pembelajaran yang baik,
kondusif, dan menyenangkan akan membantu guru dan atau dosen dalam mencapai
tujuan pembelajaran. Untuk mewujudkan agar peserta didik dapat mengukuti proses
belajar mengajar dengan baik dan sekaligus peserta didik dapat memanfaatkan
gawai dengan bijak dan tepat, pendidik dapat membuat desain atau model
pembelajaran yang di dalamnya ada pemanfaatan gawai oleh peserta didik.
Penilaian Hasil Belajar Dalam pembelajaran, penilaian merupakan hal penting dan
harus dilaksanakan oleh seorang pendidik (. Penilaian dapat dilakukan pada
perencanaan pembelajaran, penilaian pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian
hasil pembelajaran. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai hal tersebut, perlu
dipahami terlebih dahulu mengenai apa, mengapa, dan bagaimana tentang
penilaian, hasil belajar, dan penilaian hasil belajar.
Dewasa ini, informasi dan teknologi memengaruhi
aktivitas sekolah dengan sangat masif. Informasi dan pengetahuan baru menyebar
dengan mudah dan aksesibel bagi siapa saja yang membutuhkannya. Pendidikan
mengalami disrupsi yang sangat hebat sekali. Peran guru yang selama ini sebagai
satu-satunya penyedia ilmu pengetahuan sedikit banyak bergeser menjauh darinya.
Di masa mendatang, peran dan kehadiran guru di ruang kelas akan semakin
menantang dan membutuhkan kreativitas yang sangat tinggi.
Era revolusi industri 4.0 merupakan tantangan
berat bagi guru Indonesia. Mengutip dari Jack Ma dalam pertemuan tahunan World
Economic Forum 2018, pendidikan adalah tantangan besar abad ini. Jika tidak
mengubah cara mendidik dan belajar-mengajar, 30 tahun mendatang kita akan
mengalami kesulitan besar. Pendidikan dan pembelajaran yang sarat dengan muatan
pengetahuan mengesampingkan muatan sikap dan keterampilan sebagaimana saat ini
terimplementasi, akan menghasilkan peserta didik yang tidak mampu berkompetisi
dengan mesin. Dominasi pengetahuan dalam pendidikan dan pembelajaran harus
diubah agar kelak anak-anak muda Indonesia mampu mengungguli kecerdasan mesin
sekaligus mampu bersikap bijak dalam menggunakan mesin untuk kemaslahatan.
Siapkah guru di Indonesia menghadapi era
revolusi industri 4.0 ketika masih disibukkan oleh beban penyampaian muatan
pengetahuan dan ditambah berbagai tugas administratif? Saat ini guru merasa
terbebani dengan kurikulum dan beban administratif yang terlalu padat sehingga
tidak lagi memiliki waktu tersisa memberi peluang anak didik menjelajahi
daya-daya kreatif mereka menghasilkan karya-karya orisinal. Akibatnya,
interaksi sosial anak didik terbatasi, daya kreasinya terbelenggu, dan daya
tumbuh budi pekerti luhurnya bantet.
Era revolusi industri 4.0 akan berdampak pada
peran pendidikan khususnya peran pendidiknya. Jika peran pendidik masih
mempertahankan sebagai penyampai pengetahuan, maka mereka akan kehilangan peran
seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan metode pembelajarannya.
Kondisi tersebut harus diatasi dengan menambah kompetensi pendidik yang
mendukung pengetahuan untuk eksplorasi dan penciptaan melalui pembelajaran
mandiri.
Abad ke-21 ditandai dengan era revolusi
industry 4.0 sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi, artinya kehidupan
manusia pada abad ke-21 mengalami perubahan-perubahan yang fundamental yang
berbeda dengan tata kehidupan dalam abad sebelumnya. Dikatakan abad ke-21
adalah abad yang meminta kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia.
Dengan sendirinya abad ke-21 meminta sumberdaya manusia yang berkualitas, yang
dihasilkan oleh lembaga-lembaga yang dikelola secara profesional sehingga
membuahkan hasil unggulan. Tuntutan-tuntutan yang serba baru tersebut meminta
berbagai terobosan dalam berfikir, penyusunan konsep, dan tindakan-tindakan.
Dengan kata lain diperlukan suatu paradigma baru dalam menghadapi
tantangan-tantangan yang baru, demikian kata filsuf Khun. Menurut filsuf Khun
apabila tantangan-tantangan baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigm
lama, maka segala usaha akan menemui kegagalan. Tantangan yang baru menuntut
proses terobosan pemikiran (breakthrough
thinking process) apabila yang diinginkan adalah output yang bermutu yang
dapat bersaing dengan hasil karya dalam dunia yang serba terbuka (Tilaar,
1998:245).
Dalam kontek pembelajaran abad 21,
pembelajaran yang menerapkan kreativitas, berpikir kritis, kerjasama,
keterampilan komunikasi, kemasyarakatan dan keterampilan karakter, tetap harus
dipertahankan bahwa sebagai lembaga pendidikan peserta didik tetap memerlukan
kemampuan teknik. Pemanfaatan berbagai aktifitas pembelajaran yang mendukung
i4.0 merupakan keharusan dengan model resource
sharing dengan siapapun dan dimanapun, pembelajaran kelas dan lab dengan
augmented dengan bahan virtual, bersifat interaktif, menantang, serta
pembelajaran yang kaya isi bukan sekedar lengkap.
Kondisi tersebut bertolak belakang dengan
implementasi pendidikan dan pembelajaran saat ini yang dibatasi oleh
dinding-dinding ruang kelas yang tidak memungkinkan anak didik mengeksplorasi
lingkungan pendidikan yang sesungguhnya, ialah keluarga, masyarakat, dan
sekolah. Guru menyelenggarakan pembelajaran selalu kaya adate (sebagaimana biasanya) dan bukan kaya kudune (sebagaimana seharusnya), miskin inovasi dan kreasi.
Proses pembelajaran di sekolah tidak lebih merupakan rutinitas pengulangan dan
penyampaian (informatif) muatan pengetahuan yang tidak mengasah siswa untuk
mengembangkan daya cipta, rasa, karsa, dan karya serta kepedulian sosial. Guru
menyelenggarakan pembelajaran tahun ini masih seperti tahun-tahun sebelumnya.
Dunia pendidikan pada era revolusi industry
berada di masa pengetahuan (knowledge age)
dengan percepatan peningkatan pengetahuan yang luar biasa. Percepatan
peningkatan pengetahuan ini didukung oleh penerapan media dan teknologi digital
yang disebut dengan information super
highway (Gates, 1996). Gaya kegiatan pembelajaran pada masa pengetahuan (knowledge age) harus disesuaikan dengan
kebutuhan pada masa pengetahuan (knowledge age). Bahan pembelajaran harus
memberikan desain yang lebih otentik untuk melalui tantangan di mana peserta
didik dapat berkolaborasi menciptakan solusi memecahkan masalah pelajaran.
Pemecahan masalah mengarah ke pertanyaan dan mencari jawaban oleh peserta didik
yang kemudian dapat dicari pemecahan permasalahan dalam konteks pembelajaran
menggunakan sumber daya informasi yang tersedia Trilling and Hood, 1999 : 21).
Tuntutan perubahan mindset manusia abad 21
yang telah disebutkan di atas menuntut pula suatu perubahan yang sangat besar
dalam pendidikan nasional, yang kita ketahui pendidikan kita adalah warisan
dari sistem pendidikan lama yang isinya menghafal fakta tanpa makna.
Merubah sistem pendidikan indonesia bukanlah
pekerjaan yang mudah. Sistem pendidikan Indonesia merupakan salah satu sistem
pendidikan terbesar di dunia yang meliputi sekitar 30 juta peserta didik, 200
ribu lembaga pendidikan, dan 4 juta tenaga pendidik, tersebar dalam area yang
hampir seluas benua Eropa. Namun perubahan ini merupakan sebuah keharusan jika
kita tidak ingin terlindas oleh perubahan zaman global.
Komentar
Posting Komentar