FILSAFAT KEBENARAN

 

 

1.   Tunjukkan kebenaran manajemen pendidikan berdasarkan, yaitu: (1) dasar pemikiran filsafat (0ntologi, epistemologi, dan aksiologi), (2) obyek materi dan (3) obyek formal.

2.   Berikan anailisis kebenaran hubungan, yaitu: manusia, ilmu, logika, metode ilmiah dan penelitian ilmiah berdasarkan filsafat ilmu.

3.   Berilah uraian kebenaran tentang pembelajaran disekolah/tempat kerja Saudara dengan menggunakan logika dalam menentukan kesimpulan menuju kebenaran, sehingga memberi manfaat capain tujuan efektif.

4.   Tunjukkan kebenaran  pembelajaran menggunakan ajaran Ki Hadjar Dewantara, yaitu: niteni, nirokke, nambahi dan ngerti, ngrasa, nglakoni, sehingga peserta didik memperoleh lima (5) kompetensi sesuai tujuan yang dicapai.

5.   Berilah analisis kebenaran tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) revolosi industri D.4.0, terhadap pelaksanaan pendidkan di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JAWABAN

1.      Kebenaran manajemen pendidikan berdasarkan:

1.      Dasar Pemikiran Filsafat

Ontology :

Bahwa segala sesuatu sangat perlu di manajamen, apalagi sebuah proses pendidikan yang sangat penting, Ruang lingkup manajemen pendidikan terbagi menjadi 4 hal, yaitu ruang lingkup menurut wilayah kerja, ruang lingkup menurut objek garapan, ruang lingkup menurut fungsi atau urutan kegiatannya dan menurut pelaksana. Untuk ruang lingkup pertama meliputi manajemen pendidikan suatu negara, manajemen pendidikan satu provinsi, satu kabupaten/ kota, unit kerja dan manajemen kelas. Manajemen kelas ini adalah inti dari sebuah manajemen pendidikan tersebut, karena di dalam kelas proses pengajaran berlangsung. Ruang lingkup menurut objek garapan meliputi; manajemen siswa, personil sekolah, kurikulum, sarana/ material, anggaran, ketata laksanaan, humas dan komunikasi pendidikan. Sedangkan ruang lingkup menurut fungsi / urutan kegiatan atau yang disebut juga manajemen administrasi meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, koordinasi, komunikasi dan evaluasi. Manajemen pendidikan sangat berkaitan dengan ISO 21001, Sistem Manajemen Organisasi Pendidikan, yang meruapakan standar internasional yang baru saja dipublikasikan pada bulan Mei tahun 2018. standar ISO 21001 ini berlaku untuk setiap organisasi yang menyelenggarakan jasa pendidikan seperti sekolah, universitas, hingga tempat kursus dan lembaga pelatihan pembinaan kerja. Oleh karena itu manajajemen pendidikan menurut ontologinya sangat benar, hal ini mencakup semua aspek, baik sumber daya manusia, anggaran, proses prasarana dan materinya atau kurikulumnya.

Objek yang ditelaah dalam manajemen kependidikan adalah pendidikan (aras berpikir teoritis), yang memaparkan tentang hakikat pendidikan, tujuan pendidikan, makna pendidikan, hukum pendidikan, sejarah pendidikan dan sebagainya.

Landasan ontologis membahas apa yang ditelaah ilmu, bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut, bagaimana hubungan antara objek dengan daya tangkap manusia (berpikir, merasa, menduga) yang membuahkan pengetahuan, secara ringkas landasan ontologis mengungkapkan hakikat dari apa yang dikaji. Wujud dari objek (pendidikan) adalah bantuan, pertolongan, bimbingan, nasihat dan keteladanan (masih pada aras kiblat berpikir teoritis). Dalam tautan makna seperti manusia membutuhkan pendidikan untuk mempertahankan dan mengembangkan diri. Dalam pemahaman demikian manusia sadar dan merasa, serta berpikir bahwa untuk memanusiakan manusia dibutuhkan pendidikan (berpikir). Manusia perlu dibantu, ditolong, dibimbing, dinasehati, diberi teladan agar hidup manusia berkualitas. Karena pendidikan sangat !uas dan kompleks maka dibutuhkan cara untuk mengelola pendidikan agar pendidikan dapat bermakna bagi kehidugan manusia. Cakupan manajemen meliiputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan dan penilaian (Siagian, 2004) Penerapan dari ma.najen›an kependidikan adalah mengelola penclldikan (merencanakan pendidikan, mengorganisasikan pendidikan, mengarahkan pendidikan, mengawasi pendidikan, dan mengevaluas pendidikan

 

Epistemology:

Landasan epistemologi mempertanyakan proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu, bagaimana prosedurnya, hal-hal apa yang harus diperhatikan agar didapat pengetahuan yang benar. Apa kebenaran itu sendiri, apa kriterianya, cara apa yang membantu ilmuwan dalam mendapatkan pengetahuan berupa ilmu, singkatnya landasan epistomologi menguraikan tentang cara mendapatkan pengetahuan.

Berkaitan dengan dua aras kiblat berpikir, cara ilmiah menggunakan juga dua pendekatan ilmiah, yakni pendekatan induktif dan pendekatan deduktif. Pendekatan induktif bergerak dari fakta, peristiwa atau pengamatan manusia (aras empirik) yang mengarah pada pembentukan dan modifikasi koesep, dalil atau menata dalil sehingga menjadi teori (aras abstrak)

Pendekatan deduktif berangkat dari telaah teoritis per\aIaran, perenungan dan pengalaman (aras abstrak) dengan sasaran mengukur konsep, menguji dalil atau model yang dlbkukan pada aras empirik.

Pendekatan ilmiah melibatkan lima komponen informasi utama, dan enam perangkat metode utama. Kelima komponen informasi utama adalah teori, dalil, amatan, keputusan menerima/ menolak hipotesis dan kerampatan emplrik. Netode utama terdiri dari enam perangkat yaitu deduksi nalar, penafsiran, instrumentasi,perskaban, dan pembentukan sampel, pengukuran, peringkasan sampel dan pengiraan parameter, uji hipotesa inferensi nalar dan pembentukan konsep, pembentukan dan penataan dalil menjadi teori.

Landasan epistomologi dari manajemen kependidikan berpijak pada pendekatan induktif dan pendekatan dedukatif. Pendekatan induktif dalam arti, ada fakta, peristiwa atau amatan tentang pendidikan (empirik) yang digunakan untuk membentuk dan memodifikasi konsep atau menata dalil (abstrak). misalnya ada fakta kurikulum, tenaga kependidikan, siswa, keuangan sekolah, sarana prasarana, hubungan masyarakat dengan sekolah. Fakta-fakta ini perlu dikelola (direncanakan, dkxganisasikan, diarahkan, diawasi dan dinllai). Pada aras berpikir seperti itu ada upaya untuk membentuk konsep yaitu konsep manajemen pendidikan dan menata dalil dengan asumsi (andaian) bahwa dibutuhkan ineiiajemen untuk mengelola dan mangatur pendidikan.

Pendekatan deduktif dalam arti menelaah teori, penalaran, perenungan dan pengalaman (abstrak). Sasarannya mengatur konsep dan menguji dalil pada aras empirik. Nisalnya, efektivitas perencanaan pengejoran kurikulum, evaluasi program, perencanaan pembiayaan dan sebagainya.

 

Aksiologi :

Landasan aksiologi membahas untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu dipergunakan, bagaimana kaitan antara cara menggunakan dengan kaidah-kaidah moral, bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pikiran-pikiran moral, bagaimana kaitan antara teknik procedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norm professional.

Dalam tautan makna yang demikian, Verczuysse (halauw,2005) mengemukakan empat nilai yang harus dijadikan patokan dalam suatu kegiatan ilmiah. Pertama, emosional yang memaparkan bahwa dalam setiap usaha, pendekatan yang dilakukan haruslah tidak pribadi. Kebenaran ilmiah tidak ditentukan oleh siapa yang diteliti atau siapa yang meneliti. kedua, universalitas, nilai ini menegaskan tentang adanya kebenaran universal. orientasi persekutuan, artinya harus ada keterbukaan agar terkena kritik ilmiah dari komunitas ilmiah terkait. keempat nilai individualisme yang memperjuangkan kebebasan pribadi untuk berpikir dan bertindak secara ilmiah. Kebebasan pribadi diperlukan agar supaya pemahaman-pemahaman baru dapat dipergunakan karena realitas yang dihadapi adalah dinamik, Individualisme memungkinkan ilmu pengetahuan memperkaya dirinya sendiri dengan hal-hal baru.

Dalam kerampatan makna yang demikian, landasan aksiologi menyoroti aspek aktivitas dari manajemen kependidikan (ilmu). Apakah benar manajemen kependidikan berguna bagi pengelolaan pendidikan? Kualitas manusia amat menentukan dimensi moralitas dalam penerapan manajemen kependidikan, termasuk dalam mebkukan penelitian (induktif dan deduktif}.

2.      Objek Materi:

Objek Materi Manajemen Pendidikan

-          Man ( Sumber Daya Manusia )

Man atau disebut juga manusia adalah salah satu unsur terpenting yang perlu dikelola dalam manajemen pendidikan, pengelolaan yang biasa dilakukan misalnya dengan mengorganisasikan manusia dengan melihat apa yang menjadi keahlian orang tersebut.

-          Money ( Fisik dan Materi Sumber Daya )

Money atau uang dimaksudkan untuk dapat mengelola pemdanaan atau pembiayaan secara efisien sehingga tidak terjadi pemborosan dalam suatu lembaga pendidikan.

-          Materials ( Sumber Daya Ide )

Materials atau yang disebut dengan bahan materi merupakan salah satu aspek yang tidak kalah penting dalam manajemen pendidikan, melalui pengelolaan material maka bisa terbentuk kurikulum yang berisi panduan dasar untuk mentranfer ilmu dari guru ke siswa.

-          Method ( Cara )

Pengelolaan metode juga harus dapat dilakukan dengan baik, metode yang digunakan untuk bisa mengajar guru di sekolah satu dengan guru di sekolah lain tidak sama karena tergantung pada kesiapan siswa yang diajar.

-          Machines ( Teknologi )

Pengelolaan mesin ini bertujuan untuk dapat mengelola suatu mesin yang digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar supaya dapat digunakan sebaik mungkin dan tidak cepat mengalami kerusakan, untuk orang yang mengelola mesin biasanya juga harus orang yang benar-benar tau cara merawat mesin tersebut dengan baik.

-          Market ( Masyarakat )

Market atau pasar adalah salah satu kunci yang untuk menentukan sekolah atau lembaga pendidikan tersebut menjadi lembaga pendidikan yang besar atau kecil, pasar yang dimaksud adalah masyarakat secara luas, sasaran yang dituju adalah sekelompok masyarakat yang berniat menyekolahkan putra putri mereka.

-          Minutes ( Waktu )

Minutes atau juga waktu diperlukan untuk dapat dikelola dengan baik karena waktu belajar peserta didik di sekolah sangat terbatas, sehingga perlu pengelolaan yang baik supaya waktu belajar mengajar menjadi lebih efisien.

3.      Objek formal:

Objek formal adalah cara yang digunakan untuk mengetahui ilmu Itu sendiri, ataupun prespektif yang digunakan seseorang untuk memahami dan mengetahui objek material. Sifat dari objek formal adalah empiris. Singkatnya, jika objek material adalah sesuatu yang dipelajari sedangkan objek formal adalah cara yang digunakan untuk mengetahui sesuatu/pengetahuan itu sendiri. Keteraturan, pengaturan, keserasian dalam proses pendidikan, mencakup ilmu serta cara bagaimana memanajemen pendidikan agar berjalan mencapai target yang ditetapkan. Jadi secara formal manajemen pendidikan harus dipastikan kebenarannya.

 

2.      Anailisis kebenaran hubungan, yaitu: manusia, ilmu, logika, metode ilmiah dan penelitian ilmiah berdasarkan filsafat ilmu.

Bahwa manusia mempunyai logika yaitu buah pikiran yang digunakan untuk menalar, berfikir, dan merasionalkan segala sesuatu hal (ilmu), agar sesuatu hal tersebut dapat dinilai keberannya, dilakukan penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah, buah dari pemikiran atau logika manusia itu sendiri untuk mencari sebuah kebenaran ilmu (atau segala sesuatunya).

Manusia diciptakan Tuhan dengan kesadaran sehingga memiliki kemampuan berfikir, berkehendak dan merasa. Kemampuan berfikir dimiliki masnusia menghasilkan ilmu pengetahuan. Logika digunakan manusia sebagai sarana meningkatkan ilmu pengetahuan. Sedangkan etika dan estetika digunakan manusia sebagai sarana memelihara perilaku dan mutu kesenian. Hasrat keingintahuan tersebut mendorong manusia menyelesaikan berbagai permasalahan sehingga timbul ilmu pengetahuan. Soerjono Soekamto, (1990 : 8) menjelaskan setelah memperoleh pengetahuan timbul keinginan mencari kebenaran, dengan cara : (1) penemuan secara kebetulan, (2) untung-untungan, (3) pendapat dari orang memiliki otoritas/kewibawaan tertentu, (4) spekulatif, (5) pengalaman, (6) penelitian Ilmiah. Ilmu pengetahuan berguna untuk menguji dan menghasilkan kebenaran pernyataan dunia emperis manusia, dengan cara: otoriter, mistik, logika-rasional dan ilmiah. Pengujian dan penemuan secara otoriter dilakukan oleh pemegang kekuasaan tertentu dengan cara mencari dan menguji ilmu pengetahuan dengan menggaitkan kemampuan membuat pernyataan dengan pemilik kedudukan sosial lainnya. Prosedur penanaman otoritas dilakukan melalui doa, petisi, etiket, upacara dan sebagainya. Pengetahuan tersebut akhirnya berakibat praktis dalam membantu meruntuhkan otoritas lainnya. Walaupun demikian sebelum terjadinya pengakuaan kebenaran masih terjadi sejumlah penolakan, sehingga sangat tergantung kepada posisi sosial pembuat pengetahuan dalam meyakinkan. Penemuan kebenaran secara mistik dilakukan melalui penemuan dan pengujian dunia emperis melalui ketegangan halusinasi, sebagian dihubungkan dengan cara otoriter, sejauh dapat memohon pengetahuan yang berasal dari para wali, perantara, dewa-dewa dan otoritas lain yang memiliki kekuatan gaib. Cara ini tergantung dengan pemurnian rituallistik dan prosedur kepekaan sipemakai. Sedangkan secara logika-rasional , penilaian bagi pernyataan yang dianggap benar terutama berada pada prosedur dimana pernyataan itu dibuat, dan prosedur itu terpusat pada kaidah logika formal. Cara ini berhubungan dengan cara otoriter dan mistik sejauh memiliki dasar penerimaan prosedur dan aksioma yang mengandung logika formal. Kebenaran secara ilmiah ditemukan dengan mengabungkan suatu kepercayaan pada fakta emperis yang dipermasalahkan dengan prosedur (metode) menghasilkan pernyataan tersebut. Penekanan penanaman metode dalam hal ini adalah bila nilai kebenaran dua atau lebih dianggap bersaing, maka plihanan terhadap salah satu sangat tegantung dengan penilaian kolektif dan pengulangan prosedur yang menghasilkan item informasi itu. Dalam kenyataannya, semua metode ilmu pengetahuan sering dianggap sebagai persetujuan kultural yang ketat. Hasil perubahan didasarkan kritik terhadap item-item pengetahuan yang dilakukan secara kolektif dengan hasil yang relatif utuh. Pemusatan kritik didasarkan metode yang dianggap sebagai esensial ilmu pengatahuan. Metoda ilmiah secara sistemastis menghilangkan padangan pribadi sehingga akhirnya tergambar kebenaran universal. Mengigat keterbatasan manusia sesungguhnya tidak mungkin melakukan objektivitas secara murni, perkiraan tentang hal itu hanya berupa kesepakatan diantara para ilmuwan. Oleh karena itu, kontrol metodologi dalam proses ilmiah akan menghilangkan padangan pribadi sehingga akhirnya kesepakatan. Ketentuan membentuk skala, menentukan sampel, pengukuran, menaksir parameter, menarik kesimpulan induksi dan deduksi secara logis sebagai dasar utama mengkritik, menolak dan menerima item-item informasi ilmu pengetahuan itu. Apabila dua komponen informasi masih dianggap saling bersaing, sangat tergantung daya ketangguhan dalam mempertahankan penolakan dan terus berulang melakukan pengamatan. Pada gilirannya kebenaran-kebenaran yang dinyatakan diterima masyarakat ilmiah didasarkan pembuktian secara emperik.

Popper menjelaskan segala sesuatu diakui sebagai emperis atau ilmiah jika mampu diuji oleh pengalaman. Suatu sistem emperis yang imiah harus memilki kemungkinan untuk ditolak oleh pengalaman (1961 : 40-41). Ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan (knowledge) yang tersusun sistematis dengan menggunakan kekuatan pikiran serta dapat diuji dan dikontrol secara kritis. Soerjono Soekamto, 1990:6) menjelaskan pengetahuan dengan buah pikiran tersebut berbeda, karena tidak setiap pikiran memerlukan pembuktian akan kebenaranya, walaupun demikian buah pikiran dan angan-angan merupakan bahan bagi ilmuwan melaksanakan kegiatan ilmiah yang akan dilakukannya.

Pertumbuhan ilmu pengetahuan merupakan sumbangan kegiatan penelitian yang telah dilakukan ilmuan. Penelitian dengan menggunakan metode ilmiah secara sistematis untuk mengungkap rahasia dunia tidak dapat dipisahkan dengan pertumbuhan ilmu pengetahuan. Hal ini menunjukan ilmu pengetahuan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru dalam bentuk dalil, teori atau generalisasi mengenai rahasia dunia, yang kebenarannya teruji secara ilmiah. Jumlah teori, dalil dan generalisasi yang ditemukan melalui penelitian oleh ilmuan sangat menentukan seberapa jauh rahasia dunia telah terungkap. Pelaksanaan penelitian didasarkan oleh asumsi bahwa segala sesuatu gejala tidak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor yang belum dapat diungkapkan secara emprik akan menjadi objek penelitian. Penelitian pada dasarnya merupakan aktifitas dan metode berfikir untuk memecahkan suatu permasalahan yang belum ditemukan jawabannya . Penemuan-penemuan rahasia dunia melalui pengalaman emperik tersebut dapat dijadikan sebagai bahan untuk meramalkan, mengendalikan dan menjelaskan kondisi yang akan terjadi. Temuan penelitian terhadap sesuatu masalah dapat menjadi landasan mengkaji masalah baru dan begitulah seterusnya. Penemuan demi penemuan silih berganti, masing-masing berfungsi untuk memekarkan penemuan sebelumnya. Penemuan ilmiah tidak menemukan kebenaran mutlak tetapi bersifat tentatif yang dapat berubah bila ditemukan data baru.

Penelitian ilmiah adalah kegiatan yang bersifat indrawi (empirical) maksudnya, jawaban masalah yang diperoleh melalui kegiatan ini merupakan keyakinan subyektif peneliti namun telah teruji dengan kenyataan-kenyataan objektif di luar dirinya. Dengan kata lain, setiap pernyataan peneliti haruslah selalu 7 didasarkan pada kebenaran yang diperoleh melalui pengujian dan penjelajahan yang bersifat empiris (empirical inquiry and test). Keyakinan terhadap jawaban suatu masalah memerlukan upaya pengujian di luar dirinya sendiri. Dengan kata lain sesuatu yang dianggap benar secara subyektif dan teoritis perlu diverifikasi seberapa jauh kebenaran yang diduga itu ditemui pada kenyataan objektif (objective reality) di lapangan. Bila proposisi hipotesis-teoritis itu didukung oleh data yang ditemukan di lapangan barulah proposisi itu diterima sebagai jawaban masalah secara relatif meyakinkan. Namun bagaimanapun juga temuan tersebut masih tetap terbuka untuk diujikan lagi pada kesempatan lain. Barulah kemudian setelah menempuh ujian berkali-kali, proposisi tersebut dapat dijadikan sebagai teori keilmuan yang baru. Karena itu tidak mustahil temuan suatu penelitian akan ditolak oleh data pada kesempatan lain. Bila terjadi demikian maka kemungkinan tertolaknya temuan yang semula diharapkan akan menjadi unsur baru khasanah pengetahuan tidak dapat dihindarkan. Kegiatan penelitian yang dilalui peneliti secara umum adalah ; (1) persiapan, (2) pelaksanaan, (3) pengolahan data,(4) pembuatan laporan dan (4) sosialisasi hasil penelitian. Penelitian ditujukan menjawab permasalahan secara emperik, melalui dua pendekatan yang digunakan manusia untuk menemukan jawaban sesuatu permasalahan, yaitu metode deduksi yang dikenal dengan Silogisme Aristoteles. Melalui pendekatan ini dijelaskan penemuan baru, melalui kesimpulan deduktif sehingga memerlukan pengetahuan atau dalil umum (premis mayor) yang menjadi dasar berpijak kesimpulan-kesimpulan khusus yang dibagun. Dari premis mayor ke kesimpulan deduksi dijembatani oleh Primis Minor.

 

3.      Uraian kebenaran tentang pembelajaran disekolah/tempat kerja Saudara dengan menggunakan logika dalam menentukan kesimpulan menuju kebenaran, sehingga memberi manfaat capain tujuan efektif.

Di tempat kerja kami, kebetulan kami mengajar mata pelajaran Mikroprosesor dan Mikrokontroler, bahwa untuk menguji kebenaran bahwa sebuah alat mikrokontroler bisa digunakan dan diprogram untuk menyelesaikan sebuah masalah yang berkaitan dengan control, kami memberi penjelasan dahulu tentang ilmu mikrontroler secara teoritis dan ditunjukkan alat nyatanya, kemudian bagaimana cara memeprogramnya, kemudian dilaksanakan praktik untuk menguji sebuah kebenaran bahwa alat tersebut bisa deprogram sesuai teori yang ada. Ini adalah sebuah pembuktian kebenaran dari sebuah teori yang ada.

 

4.      Kebenaran  pembelajaran menggunakan ajaran Ki Hadjar Dewantara, yaitu: niteni, nirokke, nambahi dan ngerti, ngrasa, nglakoni, sehingga peserta didik memperoleh lima (5) kompetensi sesuai tujuan yang dicapai.

Bahwa kami disekolah sudah menerapkan ajaran niteni, nirokke, nambahi, sebelum anak mempraktikan, anak kami beri sebuah contoh baik berupa tayangan video maupun contoh langsung yang kami berikan atau kami praktikkan (niteni), kemudian anak nirokke alias melakukan hal yang sama dengan contoh yang kami berikan, dan setelah anak memahami dan bisa melaksukan pekerjaan atau praktik yang dilakukan anak kemudian mengexplor dan berkreasi dari program yang sudah dibuat dan ditambahi dengan yang lebih rumit dan lebih bervariasi.

Bahwa kami sudah melaksanakan dan menguji kebenaran dari ajaran Ki Hajar Dewantara, ngerti anak kami beri pengertian dahulu tentang materi yang harus dipelajari, kami jelaskan sejelas jelasnya agar mereka betul betul paham, kemudian anak harus menyukainya dengan cara kita beri contoh contoh yang relevan dengan dunia nyata, contoh kegunaan mikrokontroler pada alat alat yang digunakan pada dunia nyata, sehingga anak akan timbul rasa suka terhadap mata pelajaran tersebut, kemudian setelah anak memahami dan menyukai anak anak kami bawa ke ranah praktik, anak anak melakukan praktik memprogram mikrokontroler utnuk mengatur nyala Lampu, sensor dan lain lain yang aplikatif sehingga anak anak menjadi paham, jadi konsep atau ajaran Ki hadjar dewantara sudah betul betul kami mengakui keberannya.

 

5.      Analisis kebenaran tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) revolosi industri D.4.0, terhadap pelaksanaan pendidkan di Indonesia.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi (TI) berpengaruh pada berbagai sektor. Dampak perkembangan TI dirasakan pula pada sektor pendidikan, bahkan perkembangannya sangat menguntungkan dunia pendidikan. Dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi, berbagai sumber belajar dapat diakses dengan mudah, cepat, dan murah. Kemudahan, kecepatan, dan murahnya biaya dirasakan pula pada saat mengakses literatur, referensi, jurnal hasil penelitian, e-book, dan lainlain. Berbagai hal sudah dapat diakses secara langsung oleh pendidik (guru dan dosen) dan peserta didik (siswa dan mahasiswa) menggunakan media komputer atau pensel android. Hal ini seiring dengan kondisi peserta didik pada saat ini yang tidak lagi gaptek (gagap teknologi). Peserta didik pada saat ini tidak gaptek karena masuk dalam kategori generasi milenial. Generasi milenial adalah generasi yang dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah lepas dari TI (ponsel android, komputer, internet, dll.). Oleh karena itu, pendidik perlu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk mengembangkan model penilaian hasil belajar. Pemanfaatan teknologi informasi dalam penilaian hasil belajar merupakan bentuk inovasi penilaian. Penilaian berteknologi informasi menjadikan penilaian tidak lagi dilakukan secara manual, tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, dapat dilaksanakan kapan saja, dimana saja, oleh siapa saja. Penilaian berteknologi informasi dapat menciptakan penilaian yang objektif, akuntabel, transparan, adil, terintegrasi, dan transparan. Penilaian berteknologi informasi merupakan bentuk Inovasi penilaian. Penilaian hasil belajar generasi milenial yang berteknologi informasi menjadi ciri penilaian pada era revolusi industri 4.0.

Berbagai kelebihan teknologi informasi, harus dapat dimanfatkan dengan baik dan dengan bijak untuk kepentingan diri sendiri maupun untuk kepentingan orang lain. Pemanfaatan perkembangan teknologi informasi dengan baik dan bijak dapat membantu pekerjaan seseorang. Berbagai jenis pekerjaan, profesi, aktivitas dapat memanfaatkan teknologi informasi. Dalam dunia pendidikan pun sangat dianjurkan untuk memanfaatkan teknologi informasi. Guru dan atau dosen dalam melaksanakan aktivitas pekerjaan tentu saja sudah saatnya berteknologi informasi. Guru dan dosen memiliki tugas untuk mengajar dan mendidik. Tugas guru dan dosen sebagai pengajar adalah menjadi seorang fasilitator peserta didik dalam mencapai kompetensi dari setiap mata pelajaran atau mata kuliah. Setiap materi dari sebuah mata pelajaran atau mata kuliah harus dikuasai, dipahami oleh peserta didik. Penguasaan materi oleh peserta didik ini merupakan capaian kompetensi yang diharapkan. Sebagai fasilitator peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi, guru harus mampu menyediakan berbagai informasi mengenai materi pelajaran atau materi mata kuliah yang dapat diproses dan dapat diakses dengan mudah dan cepat oleh peserta didk. Untuk penyediaan berbagai informasi ini, guru dan dosen dapat memanfaatkan teknologi informasi. Dalam pembelajaran, keberadaan teknologi informasi sangat diperlukan. Melalui media komputer (note book, ponsel) berbagai informasi materi dapat diakses, dapat disampaikan. Itulah bentuk pemanfaatan kelebihan teknologi informasi dalam pembelajaran. Selain pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, guru dapat memnafaatkan teknologi informasi dalam tugas sebagai pendidik. Tugas guru dan dosen sebagai pendidik sebenarnya lebih berat dari pada tugas sebagai pengajar. Sebagai seorang pengajar, guru dan dosen lebih banyak berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Informasi Ilmu pengetahuan yang diharapkan oleh guru dan dosen dapat diperoleh dengan cara akses melalui jaringan komputer. Namun, sebagai pendidik guru dan dosen berhubungan dengan persoalan kepribadian, karakter peserta didik. Guru dan dosen memiliki tanggung jawab untuk dapat membentuk kepribadian 10.21009/pbe.3-1.23 198 E-ISSN: 2622-8815 peserta didik agar memiliki karakter yang baik, bijaksana, santun, kuat, mandiri, dan lain sebagainya. Mengingat tanggug jawab seperti itu, guru harus mampu mengarahkan peserta didik agar dapat memanfaatkan keberadaan teknologi informasi dengan tepat. Ketidak tepatan pemanfaatan teknologi informasi dapat menjerumuskan peserta didik ke dalan perilaku nengatif. Perilaku negatif dapat merugikan diri peserta didik dan bahkan dapat merugikan orang lain. Oleh karena itu guru maupun dosen perlu mengawasi, mengarahkan, membimbing peserta didik agar bijak menggunakan media berteknologi informasi, terutama gawai. Pada saat ini para peserta didik tidak dapat melepaskan gawai dari genggamannya. Perilaku peserta didik dapat dilihat pada saat pembelajaran berlangsung. Pada saat proses belajar mengajar berlangsung, tidak sedikit peserta didik yang tetap bergawai. Hal seperti inilah yang menunjukkan bahwa peserta didik tidak bisa melepaskan gawai dalam sekejappun dari genggaman tangan. Apabila kondisi seperti ini dibarkan, maka proses pembelajaran menjadi terganggu, capaian kompetensi peserta didik rendah, suasana kelas tidak kondusif, bahkan berdampak pada kewibawaan guru dan atau dosen menjadi kurang. Oleh karena itu, guru memiliki peran untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang baik, kondusif, menyenangkan. Proses pembelajaran yang baik, kondusif, dan menyenangkan akan membantu guru dan atau dosen dalam mencapai tujuan pembelajaran. Untuk mewujudkan agar peserta didik dapat mengukuti proses belajar mengajar dengan baik dan sekaligus peserta didik dapat memanfaatkan gawai dengan bijak dan tepat, pendidik dapat membuat desain atau model pembelajaran yang di dalamnya ada pemanfaatan gawai oleh peserta didik. Penilaian Hasil Belajar Dalam pembelajaran, penilaian merupakan hal penting dan harus dilaksanakan oleh seorang pendidik (. Penilaian dapat dilakukan pada perencanaan pembelajaran, penilaian pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai hal tersebut, perlu dipahami terlebih dahulu mengenai apa, mengapa, dan bagaimana tentang penilaian, hasil belajar, dan penilaian hasil belajar.

Dewasa ini, informasi dan teknologi memengaruhi aktivitas sekolah dengan sangat masif. Informasi dan pengetahuan baru menyebar dengan mudah dan aksesibel bagi siapa saja yang membutuhkannya. Pendidikan mengalami disrupsi yang sangat hebat sekali. Peran guru yang selama ini sebagai satu-satunya penyedia ilmu pengetahuan sedikit banyak bergeser menjauh darinya. Di masa mendatang, peran dan kehadiran guru di ruang kelas akan semakin menantang dan membutuhkan kreativitas yang sangat tinggi.

Era revolusi industri 4.0 merupakan tantangan berat bagi guru Indonesia. Mengutip dari Jack Ma dalam pertemuan tahunan World Economic Forum 2018, pendidikan adalah tantangan besar abad ini. Jika tidak mengubah cara mendidik dan belajar-mengajar, 30 tahun mendatang kita akan mengalami kesulitan besar. Pendidikan dan pembelajaran yang sarat dengan muatan pengetahuan mengesampingkan muatan sikap dan keterampilan sebagaimana saat ini terimplementasi, akan menghasilkan peserta didik yang tidak mampu berkompetisi dengan mesin. Dominasi pengetahuan dalam pendidikan dan pembelajaran harus diubah agar kelak anak-anak muda Indonesia mampu mengungguli kecerdasan mesin sekaligus mampu bersikap bijak dalam menggunakan mesin untuk kemaslahatan.

Siapkah guru di Indonesia menghadapi era revolusi industri 4.0 ketika masih disibukkan oleh beban penyampaian muatan pengetahuan dan ditambah berbagai tugas administratif? Saat ini guru merasa terbebani dengan kurikulum dan beban administratif yang terlalu padat sehingga tidak lagi memiliki waktu tersisa memberi peluang anak didik menjelajahi daya-daya kreatif mereka menghasilkan karya-karya orisinal. Akibatnya, interaksi sosial anak didik terbatasi, daya kreasinya terbelenggu, dan daya tumbuh budi pekerti luhurnya bantet.

Era revolusi industri 4.0 akan berdampak pada peran pendidikan khususnya peran pendidiknya. Jika peran pendidik masih mempertahankan sebagai penyampai pengetahuan, maka mereka akan kehilangan peran seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan metode pembelajarannya. Kondisi tersebut harus diatasi dengan menambah kompetensi pendidik yang mendukung pengetahuan untuk eksplorasi dan penciptaan melalui pembelajaran mandiri.

Abad ke-21 ditandai dengan era revolusi industry 4.0 sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi, artinya kehidupan manusia pada abad ke-21 mengalami perubahan-perubahan yang fundamental yang berbeda dengan tata kehidupan dalam abad sebelumnya. Dikatakan abad ke-21 adalah abad yang meminta kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia. Dengan sendirinya abad ke-21 meminta sumberdaya manusia yang berkualitas, yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga yang dikelola secara profesional sehingga membuahkan hasil unggulan. Tuntutan-tuntutan yang serba baru tersebut meminta berbagai terobosan dalam berfikir, penyusunan konsep, dan tindakan-tindakan. Dengan kata lain diperlukan suatu paradigma baru dalam menghadapi tantangan-tantangan yang baru, demikian kata filsuf Khun. Menurut filsuf Khun apabila tantangan-tantangan baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigm lama, maka segala usaha akan menemui kegagalan. Tantangan yang baru menuntut proses terobosan pemikiran (breakthrough thinking process) apabila yang diinginkan adalah output yang bermutu yang dapat bersaing dengan hasil karya dalam dunia yang serba terbuka (Tilaar, 1998:245).

Dalam kontek pembelajaran abad 21, pembelajaran yang menerapkan kreativitas, berpikir kritis, kerjasama, keterampilan komunikasi, kemasyarakatan dan keterampilan karakter, tetap harus dipertahankan bahwa sebagai lembaga pendidikan peserta didik tetap memerlukan kemampuan teknik. Pemanfaatan berbagai aktifitas pembelajaran yang mendukung i4.0 merupakan keharusan dengan model resource sharing dengan siapapun dan dimanapun, pembelajaran kelas dan lab dengan augmented dengan bahan virtual, bersifat interaktif, menantang, serta pembelajaran yang kaya isi bukan sekedar lengkap.

Kondisi tersebut bertolak belakang dengan implementasi pendidikan dan pembelajaran saat ini yang dibatasi oleh dinding-dinding ruang kelas yang tidak memungkinkan anak didik mengeksplorasi lingkungan pendidikan yang sesungguhnya, ialah keluarga, masyarakat, dan sekolah. Guru menyelenggarakan pembelajaran selalu kaya adate (sebagaimana biasanya) dan bukan kaya kudune (sebagaimana seharusnya), miskin inovasi dan kreasi. Proses pembelajaran di sekolah tidak lebih merupakan rutinitas pengulangan dan penyampaian (informatif) muatan pengetahuan yang tidak mengasah siswa untuk mengembangkan daya cipta, rasa, karsa, dan karya serta kepedulian sosial. Guru menyelenggarakan pembelajaran tahun ini masih seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dunia pendidikan pada era revolusi industry berada di masa pengetahuan (knowledge age) dengan percepatan peningkatan pengetahuan yang luar biasa. Percepatan peningkatan pengetahuan ini didukung oleh penerapan media dan teknologi digital yang disebut dengan information super highway (Gates, 1996). Gaya kegiatan pembelajaran pada masa pengetahuan (knowledge age) harus disesuaikan dengan kebutuhan pada masa pengetahuan (knowledge age). Bahan pembelajaran harus memberikan desain yang lebih otentik untuk melalui tantangan di mana peserta didik dapat berkolaborasi menciptakan solusi memecahkan masalah pelajaran. Pemecahan masalah mengarah ke pertanyaan dan mencari jawaban oleh peserta didik yang kemudian dapat dicari pemecahan permasalahan dalam konteks pembelajaran menggunakan sumber daya informasi yang tersedia Trilling and Hood, 1999 : 21).

Tuntutan perubahan mindset manusia abad 21 yang telah disebutkan di atas menuntut pula suatu perubahan yang sangat besar dalam pendidikan nasional, yang kita ketahui pendidikan kita adalah warisan dari sistem pendidikan lama yang isinya menghafal fakta tanpa makna.

Merubah sistem pendidikan indonesia bukanlah pekerjaan yang mudah. Sistem pendidikan Indonesia merupakan salah satu sistem pendidikan terbesar di dunia yang meliputi sekitar 30 juta peserta didik, 200 ribu lembaga pendidikan, dan 4 juta tenaga pendidik, tersebar dalam area yang hampir seluas benua Eropa. Namun perubahan ini merupakan sebuah keharusan jika kita tidak ingin terlindas oleh perubahan zaman global.

 

 

Komentar